![]() |
| Rizki (kiri) dan Syah Fitri (kanan) membaca buku di perpustakaan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) Sentra Bahagia Medan Kemensos RI, Jl. William Iskandar Medan (10/6). (Foto: Kadri Boy Tarigan) |
PAGI itu, Rojak Damaramani (12) siswa kelas 7 Sekolah Menengah Pertama (SMP) tidak lagi bangun dengan perasaan khawatir, apakah hari itu bisa membawa buku ke sekolah atau tidak. Tidak lagi memikirkan apakah uang orang tuanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pendidikan atau tidak.
Di tempat
baru bernama Sekolah Rakyat (SR), ia menemukan sesuatu yang sebelumnya hanya menjadi
angan-angan. Ya, disitu dia belajar dengan tenang, makan tepat waktu tiga kali sehari,
memiliki perlengkapan sekolah yang layak, bahkan diberikan laptop dan layar
digital yang lengkap untuk mendukung pelajaran.
Padahal, jauh sebelum mengenakan seragam sekolah rakyat,
kehidupan Rojak tidak selalu mudah. Anak kelima dari keluarga sederhana ini
harus melihat bagaimana orang tuanya berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ayahnya bekerja sebagai tukang kayu yang membuat meja dan lemari, sementara
ibunya seorang ibu rumah tangga.
Saat diwawancarai, Rojak mengulang kembali ingatannya saat kebutuhan sekolah menjadi sesuatu yang berat untuk dipenuhi. Dia masih mengingat ketika dirinya duduk di kelas lima sekolah dasar. Buku tulisnya habis, tetapi saat meminta kepada ibunya, jawaban yang diterima adalah sebuah penundaan. “Mak, adik mau beli buku,” kenangnya. Namun saat itu ibunya hanya bisa berkata bahwa uang belum tersedia.
Bagi anak seusianya, kehilangan buku tulis mungkin terlihat
sederhana. Tetapi bagi Rojak, itu merupakan kenangan pahit ketika ia merasakan
keterbatasan ekonomi keluarganya. Bahkan kebutuhan makan sehari-hari pun terkadang
tidak selalu berjalan seperti keluarga lain. Dalam kondisi tertentu,
keluarganya hanya mampu makan dua kali sehari.
Namun Rojak tidak ingin menyerah. Dalam hatinya tumbuh keinginan untuk menjadi seseorang yang berguna bagi keluarga. “Saya ingin menjadi orang yang berguna dan bisa membantu orang tua,” katanya.
Kini, ketika berada di sekolah rakyat, wajah Rojak terlihat
berbeda. Ia datang dengan semangat baru. Cita-citanya menjadi polisi masih ia
genggam erat. Baginya, sekolah bukan hanya tempat mencari ilmu, tetapi jalan
untuk membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk memiliki
masa depan.
“Saya senang karena bisa makan teratur tiga kali sehari, bisa
menggunakan laptop, dan mendapatkan seragam yang bagus,” ujar Rojak.
![]() |
| Sejumlah siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) dan guru melakukan kegiatan belajar mengajar di salah satu ruang kelas yang dilengkapi laptop dan layar digital. (Foto: Kadri Boy Tarigan) |
Perasaan serupa juga dirasakan Syah Fitri (12). Anak pertama dari dua bersaudara ini tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pemulung, sementara ibunya membantu menjual hasil barang-barang yang dikumpulkan oleh ayahnya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Sebelum mengenal sekolah rakyat, Fitri pernah mengalami masa ketika kebutuhan sekolah menjadi beban bagi keluarganya dan tidak berharap panjang untuk kelangsungan pendidikannya. Ingatannya masih tajam, ketika sekolahnya, di SD meminta siswa membawa perlengkapan untuk kegiatan hari guru. Saat itu, ia harus menyampaikan kepada ibunya bahwa dirinya membutuhkan kertas buket. Namun keadaan ekonomi keluarga membuat ibunya tidak bisa langsung memenuhi permintaannya.
Tak hanya itu, ketika Fitri harus membayar biaya perpisahan
sekolah, ayah dan ibunya sedang tidak memiliki uang. Ibunya bahkan harus
berusaha mencari pinjaman agar Fitri tetap bisa mengikuti kegiatan bersama
teman-temannya.
Tetapi Fitri tidak pernah merasa malu dengan kondisi keluarganya. Ia memilih memahami keadaan orang tuanya. “Kondisi keluargaku berbeda dengan kondisi keluarga kalian, jadi aku minta tolong kalian maklum,” begitu jawabnya ketika ada teman yang bertanya saat itu.
Kini, Fitri tumbuh menjadi anak yang lebih percaya diri. Ia memiliki mimpi besar. Suatu hari nanti ia ingin melanjutkan kuliah, bahkan bercita-cita menjadi kepala rumah sakit atau reporter profesional. “Saya ingin membuat senyuman di wajah ibu saya,” katanya.
![]() |
| Sejumlah siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) dan guru memilah sampah yang siap untuk dijadikan pupuk organik. (Foto: Kadri Boy Tarigan ) |
Di antara kisah anak-anak sekolah rakyat, cerita Rizki (12) menjadi
gambaran paling nyata bagaimana pendidikan mampu mengubah arah hidup seorang
anak.
Sebelum mengenal sekolah rakyat, Rizki hidup bersama nenek
dan atoknya di kawasan pesisir Belawan. Rumah sederhana yang berada dekat
sungai menjadi saksi bagaimana keluarga kecil itu bertahan menjalani kehidupan
sehari-hari.
Rumah itu tidak berdiri kokoh seperti rumah layaknya dihuni
sebuah keluarga. Dindingnya menggunakan triplek bekas. Pondasi bagian bawah
rumah bahkan mulai rusak akibat sering diterjang air laut.
Namun di rumah sederhana itu, Rizki tumbuh dengan kasih
sayang besar dari neneknya, Masita (58), dan atoknya, Salamudin (63).
Sejak kecil, Rizki tidak tinggal bersama kedua orang tuanya.
Ayah dan ibunya berpisah ketika ia masih kecil. Ibunya kemudian merantau ke
Batam, sementara ayahnya menjalani kehidupan sendiri. Kondisi itu membuat nenek
dan atok mengambil peran besar membesarkannya bersama 3 adiknya.
Masita dan Salamudin bukan orang berada. Mereka menggantungkan hidup dari laut. Mencari kerang menjadi pekerjaan sehari-hari demi memastikan cucunya tetap bisa makan. “Kalau cerita perjuangan membesarkan Rizki, mungkin tidak sanggup saya ceritakan semuanya. Tapi demi cucu, saya siap,” tutur Masita.
![]() |
| Rizki membaca salah satu koleksi buku yang ada di perpustakaan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP). (Foto: Kadri Boy Tarigan) |
Saat duduk di sekolah dasar, Rizki pernah mengalami kesulitan membayar kebutuhan sekolah. Bahkan ia sempat membantu neneknya dengan menjual ikan milik orang lain. Uang hasil jualan itu ia gunakan untuk membantu membeli kebutuhan adik-adiknya, termasuk susu dan popok untuk adiknya. “Dia tidak tega melihat nenek dan atoknya susah,” ungkap Masita sambil meneteskan air mata.
Perjuangan itu sempat membuat pendidikan Rizki tertinggal. Ia pernah merasa sulit mengejar pelajaran. Bahkan ia pernah berkata
dalam hati, bagaimana mungkin bisa menjadi tentara jika membaca saja belum
lancar.
Tetapi sebuah kesempatan datang ketika informasi sekolah rakyat sampai kepada keluarga melalui pendamping Program Keluarga
Harapan (PKH).
Awalnya Rizki ragu. Ia takut sekolah kembali akan menambah
beban nenek dan atoknya. Namun setelah mengetahui bahwa sekolah tersebut gratis dan
menyediakan kebutuhan pendidikan, perlahan keyakinannya tumbuh.
Bagi Masita, kabar diterimanya Rizki di Sekolah Rakyat adalah sebuah anugerah besar. “Saya sangat bersyukur. Beban saya terbantu. Dia sekolah, dia belajar, dia mengaji. Dulu dia agak lasak memang, tapi sekarang lebih terarah,” ujarnya.
Perubahan Rizki pun mulai terlihat. Anak yang dulu kesulitan
membaca kini mulai lancar membaca. Anak yang dulu membantu mencari nafkah dan mencuci
pakaian adik-adiknya kini mulai belajar mandiri dan punya banyak teman di asrama.
Bahkan Rizki kini mampu mengoperasikan laptop, melakukan presentase pelajarannya dengan menggunakan layar digital. Sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia bayangkan. “Banyak sekali perkembangannya. Saya lihat dia sudah terdidik,” kata Masita.
Hari ini, Rizki kembali memiliki mimpi. Ia ingin menjadi
tentara, bahkan bercita-cita menjadi seorang jenderal yang jujur. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga agar suatu
hari bisa mengangkat derajat keluarganya.
![]() |
| Sejumlah siswa memperhatikan guru saat menerangkan di salah satu ruang kelas yang dilengkapi laptop dan layar digital Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP). (Foto: Kadri Boy Tarigan) |
Dari kisah perjuangan Rojak, Fitri dan Rizki lahirlah
Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP). Hairul Hashim Haloho, guru
sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan SRMP mengatakan, harapan mereka bertiga
serta 100 siswa lainnya menjadi alasan mengapa sekolah ini hadir.
Menurutnya, sekolah rakyat memang dirancang untuk menjangkau
anak-anak dari keluarga yang berada pada kelompok rentan, terutama mereka yang
masuk kategori keluarga miskin ekstrem dan miskin.
“Mereka adalah anak-anak yang berpotensi tidak sekolah atau
putus sekolah di tengah jalan, tapi kita berusaha untuk tidak memutus masa
depannya” jelas Hairul.
Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan pendidikan di dalam
kelas. Anak-anak mendapatkan fasilitas belajar, asrama, pendampingan, makanan
bergizi, hingga pengasuhan yang membantu membentuk karakter.
Setiap siswa mendapatkan laptop untuk belajar. Perpustakaan tersedia dengan koleksi ribuan buku. Selain itu, sistem asrama memungkinkan guru
dan pengasuh memahami persoalan anak secara lebih dekat. Hal ini tentu membuat para orang tua lebih tenang meski anaknya tidak tinggal bersama mereka.
Menurut Hairul, banyak anak yang datang bukan hanya membawa
keterbatasan ekonomi, tetapi juga kesenjangan kemampuan belajar. “Ada siswa
yang sudah duduk di tingkat SMP tetapi masih kesulitan membaca dan berhitung.
Itulah tugas dan pelayanan kami untuk membantu mereka”. Tegas Hairul saat
diwawancarai.
![]() |
| Syah Fitri membantu merapikan topi temannya sebelum pelajaran dimulai di salah satu ruang kelas Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP). (Foto: Kadri Boy Tarigan) |
“Program asrama sebenarnya adalah program pengasuhan.
Bagaimana anak yang sebelumnya kurang mendapat perhatian di rumah, di sini
mulai mendapatkan pendampingan,” tambahnya.
Harapan terbesar dari program ini adalah memutus rantai
kemiskinan. Anak-anak yang sebelumnya hanya melihat keterbatasan hidup, kini
diberikan kesempatan untuk melihat kemungkinan masa depan yang lebih baik.
Rojak ingin menjadi polisi. Fitri juga ingin kuliah dan menjadi
profesional, sedangkan Rizki ingin menjadi tentara berpangkat jenderal.
Mimpi-mimpi itu mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang.
Tetapi bagi mereka, mimpi tersebut adalah simbol bahwa mereka akhirnya dilihat,
didengar, dan diberikan kesempatan. Sekolah rakyat hadir bukan hanya untuk
membangun ruang belajar, tetapi menghadirkan ruang harapan bagi mereka yang
selama ini berada di pinggir perhatian.
![]() |
| Sejumlah siswa dengan didampingi guru saat kegiatan belajar mengajar di salah satu ruang kelas Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) . (Foto: Kadri Boy Tarigan) |
“Karena pendidikan bukan hanya tentang membuat seseorang
pintar membaca buku. Pendidikan adalah tentang membuat seseorang kembali
percaya bahwa dirinya berharga.” Tambah Hairul yang juga tinggal di asrama.
Dan dari ruang belajar yang nyaman dan lengkat di SRMP, mimpi anak-anak wong cilik itu perlahan mulai menemukan jalannya. (kadri boy tarigan)








