![]() |
| Kebun cabai warga terendam banjir luapan sungai terancam gagal panen. (foto/ist) |
Ketinggian air di sejumlah lokasi mencapai 50 hingga 80 sentimeter. Tanaman cabai yang sedang berbuah mulai layu dan buahnya berguguran sehingga mengancam gagal panen dengan potensi kerugian mencapai ratusan juta rupiah.
Camat Lima Puluh Pesisir, Sabri, mengatakan banjir mulai terjadi setelah dilakukan pengalihan aliran Sungai Dalu-Dalu ke Sungai Gambus sebagai bagian dari pekerjaan rehabilitasi bendung.
"Karena ada perbaikan di Sungai Dalu-Dalu, dilakukan pengalihan aliran air ke Sungai Gambus sejak Sabtu (1/8/2026)," ujar Sabri, Kamis (6/8/2026).
Menurutnya, Sungai Gambus tidak mampu menampung tambahan debit air sehingga meluap dan merendam Desa Gambus Laut yang berada di wilayah hilir sejak Selasa (4/8/2026).
Sabri menyebutkan, banjir merendam lahan cabai yang sedang memasuki masa panen, areal persawahan yang akan berbunga, serta permukiman warga di Dusun VI, VII, dan VIII.
"Debit air terus meningkat dan hingga kini masih merendam permukiman warga serta lahan pertanian cabai dan padi. Cabai belum sempat dipanen, sementara padi juga baru akan mengeluarkan bunga," katanya.
Pihak Kecamatan Lima Puluh Pesisir telah melaporkan kondisi tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Batu Bara dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara agar segera dilakukan penanganan.
Kepala Desa Gambus Laut, Zaharuddin, mengatakan sedikitnya 15 rumah warga di Dusun VII dan VIII sudah kemasukan air. Selain itu, sekitar 150 hektare lahan pertanian cabai dan padi terdampak banjir.
Sejumlah petani berupaya menyelamatkan tanamannya dengan menggunakan pompa air. Budi (35), warga Dusun VI, mengaku lahan cabainya seluas 15 rante mulai terendam sejak Kamis siang.
"Kami menggunakan mesin pompa untuk membuang air agar tanaman cabai tidak mati. Padahal tanaman sudah mendekati masa panen," ujarnya.
Hal serupa dilakukan Endri (42), petani lainnya yang lahannya seluas 10 rante juga terendam banjir. Ia berharap genangan segera surut agar tanamannya masih bisa diselamatkan.
Sementara itu, warga lainnya, Legi (72), mengatakan air mulai masuk ke areal pertanian sejak Selasa (4/8/2026), kemudian terus bertambah hingga Kamis sehingga merendam lahan cabai dan sawah di beberapa titik.
Peristiwa ini menjadi perhatian publik setelah video dan foto banjir diunggah akun Facebook Nur Afni Juhu. Dalam unggahannya, ia mengaku warga tidak menerima pemberitahuan sebelumnya terkait pengalihan aliran sungai yang diduga menjadi penyebab banjir.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pengalihan aliran dilakukan untuk mendukung proyek Rehabilitasi Bendung DI Cinta Maju/Cinta Damai (PTHC-5b) di Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara. Proyek tersebut memiliki nilai kontrak sekitar Rp19,78 miliar, bersumber dari APBD Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2026, dan dikerjakan oleh PT Razasa Karya Medan dengan masa pelaksanaan selama 180 hari kalender.
Menanggapi kondisi tersebut, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Batu Bara, Hendra Kumara, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan instansi terkait di tingkat provinsi.
"Sudah dilakukan koordinasi dengan Dinas Perairan Provinsi Sumatera Utara agar segera dilakukan pengurangan debit air," katanya melalui pesan WhatsApp. (zein)


