Angka tersebut menunjukkan bahwa agenda pariwisata mulai diarahkan bukan sekadar untuk mendatangkan wisatawan. Festival yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sibolga bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir dan sejumlah pemangku kepentingan itu mencoba menghubungkan aktivitas wisata dengan perdagangan, pembiayaan, produk lokal, dan ekonomi kreatif.
Festival tahun ini mengusung tema “Merajut Warisan, Menggerakkan Ekonomi: Sinergi Penguatan Potensi Ekonomi Daerah untuk Akselerasi Pariwisata Danau Toba.” Durasi penyelenggaraannya diperpanjang menjadi empat hari untuk memperbesar peluang transaksi dan memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat.
Nilai transaksi Rp6,05 miliar berasal dari berbagai produk UMKM, mulai dari kopi, kuliner, makanan dan minuman olahan, fesyen, hingga kriya. Transaksi juga berasal dari private preview Festival Ulos Boru Ni Raja serta business matching dalam Festival Kopi Tana Para Raja.
Di sisi lain, pertemuan bisnis antara pelaku UMKM dan perbankan menghasilkan komitmen pembiayaan Rp1,17 miliar. Skema ini menjadi bagian dari upaya membuka akses permodalan bagi pelaku usaha yang produknya dipasarkan melalui ekosistem pariwisata.
Festival Tao Toba Jou-Jou tidak hanya mengandalkan transaksi dagang. Sejumlah agenda budaya dan ekonomi digelar secara bersamaan, seperti Parade Agrobudaya yang melibatkan perwakilan seluruh kecamatan di Kabupaten Samosir, Festival Ulos Boru Ni Raja, Festival Kopi Tana Para Raja, serta Pameran UMKM Boru Ni Raja.
Aktivasi sistem pembayaran dan layanan digital, operasi pasar murah, kegiatan edukasi, serta festival budaya, kuliner, dan musik Batak juga menjadi bagian dari rangkaian acara. Samosir Run turut digelar dengan konsep race run yang melibatkan lebih banyak peserta dibanding penyelenggaraan sebelumnya.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan upaya mengembangkan pariwisata Danau Toba melalui berbagai sektor sekaligus. Wisatawan tidak hanya diarahkan menikmati panorama dan budaya, tetapi juga berinteraksi dengan produk pertanian, kopi, kain ulos, kuliner, kerajinan, hingga kegiatan olahraga.
Penguatan unsur budaya bahkan dimulai sejak pembukaan festival. Kepala Perwakilan BI Sibolga, Riza Putera, bersama Bupati Samosir, Vandiko Timotius Gultom, dan sejumlah pemangku kepentingan mengikuti simbolisasi Manompuk, tradisi menenun secara bersama-sama, pada 6 Agustus.
Prosesi tersebut ditutup dengan pemotongan benang terakhir pada puncak acara 8 Agustus. Simbolisasi itu menggambarkan kolaborasi berbagai pihak dalam mengembangkan potensi ekonomi daerah.
Bagi BI, pengembangan pariwisata tidak dapat dilepaskan dari penguatan UMKM dan sistem pembayaran. Produk lokal yang masuk dalam rantai pariwisata membutuhkan akses pasar, sementara pelaku usahanya memerlukan pembiayaan dan kemampuan beradaptasi dengan transaksi digital.
Kepala Perwakilan BI Sibolga, Riza Putera, mengatakan lembaganya akan terus memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk mengembangkan UMKM, ekonomi dan keuangan digital, serta pariwisata Danau Toba.
Menurut dia, Festival Tao Toba Jou-Jou dan Samosir Run diharapkan dapat memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah. Aktivitas wisata diharapkan berujung pada meningkatnya transaksi usaha, terbukanya akses pasar, bertambahnya peluang pembiayaan, dan meningkatnya pendapatan masyarakat.
Festival tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat Danau Toba sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas. Tantangannya bukan hanya mendatangkan pengunjung, tetapi memastikan belanja wisatawan mengalir ke pelaku usaha lokal.
Dengan transaksi UMKM Rp6,05 miliar dan komitmen pembiayaan Rp1,17 miliar, Festival Tao Toba Jou-Jou 2026 setidaknya menunjukkan arah baru pengembangan festival daerah: budaya menjadi daya tarik, pariwisata menjadi pintu masuk, sedangkan UMKM dan ekonomi lokal menjadi penerima manfaat. (jhonny simatupang)


