![]() |
| Pemandangan dari drone yang memperlihatkan asap yang membubung dari Taman Nasional Gunung Bromo di Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia, 6 Agustus 2026. (Foto: REUTERS/Stringer) |
Kebijakan tersebut memperluas penutupan yang sebelumnya, sejak Senin malam, 3 Agustus 2026, hanya berlaku untuk akses dari Kabupaten Malang dan Lumajang.
Penutupan kini mencakup seluruh pintu masuk kawasan wisata Gunung Bromo, yakni Cemorolawang di Kabupaten Probolinggo, Wonokitri di Kabupaten Pasuruan, Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang, serta Senduro di Kabupaten Lumajang.
“Penutupan ini dilakukan dalam rangka efektivitas upaya pemadaman kebakaran, sekaligus memperhatikan keamanan dan keselamatan pengunjung,” kata Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha, dilaporkan Tempo, Minggu (9/8).
Di laman resminya, Pemerintah Kabupaten Probolinggo juga mengimbau masyarakat, pengunjung, dan pelaku jasa wisata untuk tidak melakukan aktivitas wisata serta berhati-hati dalam penggunaan api untuk mencegah kebakaran.
Sedangkan bagi wisatawan yang telah membeli tiket masuk secara daring untuk jadwal kunjungan selama masa penutupan, TNBTS memberikan opsi menjadwalkan ulang kunjungan atau mengajukan pengembalian dana. Pengunjung dapat mengurusnya dengan melengkapi formulir yang disampaikan melalui aplikasi pemesanan daring TNBTS.
Penutupan total dilakukan ketika dampak kebakaran di kawasan Bromo meluas signifikan. Data terkini TNBTS mencatat area terdampak telah mencapai 520 hektare, melonjak dibandingkan data sebelumnya sekitar 176 hektare.
Perluasan area terdampak terjadi setelah api kembali berkobar pada Sabtu (8/8) malam. Kebakaran tidak hanya membakar tebing, tetapi juga menjalar ke savana Gunung Bromo.
Rudijanta kepada Antara menjelaskan, embusan angin kencang membuat api bergerak cepat dari bagian atas tebing menuju ke bawah. Api kemudian membakar rerumputan dan tanaman yang telah mengering hingga mampu menyeberangi Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) dan mencapai savana.
Kondisi vegetasi yang kering turut dipengaruhi fenomena embun beku atau frost, sehingga mempermudah api meluas. “Termasuk dampak dari frost yang terjadi sehingga api meluas,” ujar Rudijanta.
Sementara Badan Geologi melaporkan, kobaran api terlihat membakar area tebing di sekitar Jalur Lingkar Kaldera Tengger dan merembet hingga kawasan Gunung Kursi. Kepala Badan Geologi Lana Saria menyebut, kebakaran terpantau di sejumlah lokasi. “Khususnya pada beberapa lokasi, yaitu di sisi selatan dinding kaldera, kawasan Savana Bromo, serta satu titik di wilayah utara sekitar Argowulan,” katanya.
Meski terjadi di kawasan Gunung Bromo, Badan Geologi menegaskan, kebakaran hutan dan lahan tersebut tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik gunung api. Kebakaran hingga kini juga belum mengganggu sistem pemantauan Badan Geologi terhadap aktivitas Gunung Bromo.
Pantauan di lokasi menunjukkan, bekas kebakaran berupa hamparan rerumputan menghitam terlihat jelas di savana Gunung Bromo. Sejumlah rumput kering di bagian tengah JLKT dari sisi Jemplang, Kabupaten Malang, turut terdampak ketika api kembali membesar. Api yang muncul di lokasi tersebut telah berhasil dipadamkan.
Petugas gabungan terus berpatroli untuk memastikan tidak muncul titik api baru. Kepulan asap putih masih terlihat dari area tebing di wilayah Kabupaten Probolinggo. Helikopter water bombing juga hilir mudik mengambil air di kawasan Ranu Pani untuk melakukan pemadaman di lokasi yang masih mengeluarkan asap, sementara tim gabungan bergerak dari sisi darat menuju area tebing di Probolinggo.
Wisata Alternatif Sekitar Bromo
Di tengah penutupan total kawasan wisata Gunung Bromo, sejumlah destinasi di Kabupaten Probolinggo yang berada di sekitar kawasan Bromo masih dinyatakan aman untuk dikunjungi. Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo Heri Mulyadi mengatakan kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan pemantauan kondisi di lapangan.
Destinasi yang masih dapat menjadi alternatif bagi wisatawan, antara lain, Jembatan Kaca Bromo, Puncak Seruni Point, dan Terminal Wisata Seruni Point. Lokasi-lokasi tersebut dinilai masih aman karena titik api berada cukup jauh dan belum mendekati tempat wisata tersebut.
“Untuk beberapa destinasi wisata tersebut kondisi hari ini masih aman dan juga masih memungkinkan untuk dikunjungi wisatawan. Namun, kami tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan situasi di lapangan,” kata Heri, dilaporkan Kompas.com.
Meski demikian, status destinasi alternatif tersebut dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran. Pemkab Probolinggo membuka kemungkinan melakukan pembatasan atau penutupan apabila kondisi di lapangan mulai berdampak pada wisatawan.
“Hari ini masih aman untuk dikunjungi, tetapi apabila suatu waktu ada perubahan dan perkembangan di lapangan, kemungkinan juga akan ditutup apabila mengganggu keamanan, kenyamanan dan ketenangan,” ujar Heri.
Disporapar Kabupaten Probolinggo bersama pihak terkait terus memantau perkembangan kebakaran. Mengingat situasi dapat berubah, calon wisatawan disarankan mencari informasi terbaru mengenai kondisi destinasi sebelum berkunjung.(sumber:cna.id)


