Rico Waas, Sang Walkot Seremonial

Sebarkan:

Catatan : Choking Susilo Sakeh

E’eh, DPRD Medan ternyata punya banyak anggota, kok. 

Terkhusus sejak awal bulan ini, tiba-tiba saja banyak anggota DPRD Medan bersuara lantang  --  mengkritisi kinerja Walikota Medan, Rico Wa’as. Ada yang mengkritisi lambannya pelayanan, ada tentang kondisi jalan, tentang sampah, tentang sarana kesehatan, tentang proyek yang sedang dikerjakan dan sebagainya.

Sebagai warga Medan taat pajak, tentu wajarlah jika aku mengucapkan terimakasih kepada para anggota DPRD Medan yang telah melaksanakan fungsi pengawasan kepada Walikota Medan Rico Wa’as tersebut. Apapun alasan dan latar belakang yang menyebabkan anggota DPRD Medan tiba-tiba berani bersuara lantang, para warga Medan layak memberi acungan jempol kepada DPRD Medan.

Dari sekian banyak masalah yang dikritisi DPRD Medan tersebut, kali ini aku tertarik memilih kritikan DPRD Medan tentang kinerja Walikota Medan Rico Wa’as yang dinilai sebagai ‘Walikota Seremonial’. (“Didominasi Kegiatan Seremonial, Ketua Komisi 1 Sebut Kinerja Rico Wa’as Buruk”, RMOLSumut, 13 April 2026; dan “Kinerja Rico Wa’as dan Zakiyuddin Dinilai Lebih Banyak Seremonial Ketimbang Menjawab Keluhan Warga”, kasatnews, 6 Agustus 2026).

Walikota Seremonial?Alahmak…

Gelar sebagai ‘walikota seremonial’  yang disematkan kepada Rico Wa’as ini, buatku sesungguhnya bukan hal baru. Sejak awal kepemimpinan Rico Wa’as sebagai Walikota Medan, aku sudah mengkritisi fakta bahwa Rico Wa’as sesungguhnya adalah Walikota Medan yang kebanyakan cakap daripada kerja, walikota omon-omon, serta tampil terkesan garang dan cerdas cuma di saat kamera “on”. Yak, Rico Wa’as memang trampil bercakap hanya pada saat acara seremoni, saat menerima audiensi atau saat acara sapa warga di lokasi yang dikunjunginya.

Namun, di saat kamera ”off”, Rico Wa’as menjadi sosok walikota yang gagap, gugup dan tak bisa apa-apa. Itulah kemudian yang memunculkan penilaian DPRD Medan, bahwa Rico Wa’as tak mampu ‘menjawab keluhan warga’ dengan kinerja  --  bukan dengan cakap-cakap.

Kesemua fakta tentang Rico Wa’as sebagai walikota cakap-cakap, koyok-koyok dan omon-omon tersebut, sudah  terus menerus kuungkap selama sekitar 17 bulan Rico Wa’as menjadi Walikota Medan. Bahwa, tampilan Rico Wa’as secara fisik semakin hari semakin necis dan perlente. Namun sayang, hal itu tak diimbangi dengan hasil kerja yang juga necis dan perlente sesuai dengan kebutuhan warga Kota Medan.

*

Pertanyaannya kemudian : kenapa Rico Wa’as masih saja melakukan pencitraan, padahal dia sudah lebih 17 bulan menjadi Walikota Medan? 

Bahwa ada hal-hal yang bisa membuat kita merasa maklum, menyangkut kemunculan sosok Rico Wa’as bisa mengikuti Pilkada Medan 2024, maupun keberhasilannya memenangkan Pilkada Medan tersebut. Yakni, sesungguhnya Rico Wa’as adalah sosok yang nyaris tak dikenal oleh warga Medan. 

Namun beruntung bisa menjadi Calon Walikota Medan berkat dukungan penuh Walikota Medan saat itu, Bobby Nasution, yang konon kurang berkenan dengan ‘calon utama’. Bahkan, Bobby Nasution jugalah yang bekerja keras menghantarkan Rico Wa’as, ‘sang calon pengganti’ untuk memenangkan Pilkada Medan. 

Namun, sekecil apapun tingkat popularitas Rico Wa’as pada saat telah dilantik menjadi Walikota Medan, maka target pencitraan Rico Wa’as setelah dilantik menjadi Walikota Medan tidak lagi dalam bentuk cakap-cakap dan omon-omon.

Rico Wa’as semestinya berupaya untuk memberikan hasil kerja yang maksimal di dalam menjawab permasalahan yang dialami warganya. Dan melalui hasil kerja yang terbaik itulah, kemudian Rico Wa’as meningkatkan popularitasnya sekaligus membentuk citra positifnya sebagai Walikota Medan.

Bahwa pencitraan pada saat masa-masa kampanye sebagai calon kepala daerah, memang difokuskan untuk menjual janji dan beragam pesona pribadi. Tapi masa-masa menjual janji dan tebar pesona itu sudah lewat. Dan kini, setelah menjadi kepala daerah, maka disain pencitraan mestilah berfokus kepada upaya pencapaian kinerja dan kepemimpinan sebaik mungkin.

Itulah yang membuat Andreas Pandapotan Purba, anggota Komisi 1 DPRD Medan dari Fraksi Gerindra, sampai pada kesimpulan : Walikota Medan Rico Wa’as lebih banyak seremonial ketimbang menjawab keluhan warga.

Dalam bahasaku, dan sudah beberapa kali kutulis, ketrampilan Rico Wa’as cumalah cakap-cakap, koyok-koyok atau omon-omon. Padahal, sudah terbukti omon-omon tak mampu menyelesaikan berbagai masalah yang ada di Kota Medan. Sebuah paradoks yang mesti ditanggung warga Medan.

Dan uniknya, hingga kini Rico Wa’as masih terus saja beromon-omon, masih terus saja asyik bergaya di saat posisi kamera sedang “on”.

Mangkanya…

-------------------------------

Choking Susilo Sakeh; Jurnalis, warga Medan.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com