![]() |
| Wali Kota Medan Apresiasi Pameran “Prahara Pulau Emas” di Plaza Medan Fair. (foto/ist) |
Pameran tersebut menampilkan karya foto jurnalistik yang merekam jejak bencana banjir di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Karya-karya itu tidak hanya menjadi dokumentasi peristiwa, tetapi juga menyampaikan pesan kemanusiaan dan menggambarkan kondisi masyarakat terdampak bencana.
Rico menilai foto jurnalistik memiliki kekuatan untuk menggugah empati sekaligus membangun harapan bagi masyarakat. Menurutnya, sebuah foto dapat menyampaikan pesan yang kuat dan bertahan melampaui waktu.
“A picture speaks a thousand words. Setiap foto itu menceritakan ribuan kata. Efeknya akan sangat panjang, bahkan bisa berdampak dan menciptakan harapan,” ujar Rico.
Ia mencontohkan sejumlah foto jurnalistik ikonik dunia, seperti “The Vulture and the Little Child” dan “Tank Man”, yang menurutnya menunjukkan bagaimana sebuah gambar dapat memengaruhi cara pandang masyarakat dan menggerakkan perhatian terhadap persoalan kemanusiaan.
Rico juga menilai foto memiliki kekuatan tersendiri dibandingkan media visual bergerak seperti video. Di tengah dominasi konten video di media sosial, foto jurnalistik tetap memiliki ruang penting dalam menyampaikan cerita.
“Video itu menciptakan komentar, tapi kalau foto menciptakan cerita. Dia berada di dalam satu frame yang tidak bergerak. Tapi kita yang bisa memaknainya, bisa menceritakan dari A sampai Z,” katanya.
Karena itu, Rico berharap pameran foto jurnalistik dapat terus digelar dan dikembangkan. Ia juga membuka peluang kolaborasi agar karya-karya jurnalistik fotografi dapat dipamerkan di ruang yang lebih luas.
“Kita perlu ngobrol bersama, mungkin tidak di dalam ruang formal saja, tapi kita duduk bicara bersama tentang jurnalistik media, secara pemberitaan dan jurnalistik foto, agar kita tetap bisa merawat karya-karya ini,” ujarnya.
Koordinator PFI Wilayah Sumatera Hendra Syamhari mengatakan, pameran “Prahara Pulau Emas” merupakan bagian dari rangkaian roadshow fotografi jurnalistik yang digelar di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menurut Hendra, karya-karya yang dipamerkan diharapkan menjadi catatan sejarah bagi generasi mendatang mengenai bencana besar yang pernah melanda Pulau Sumatera.
“Pameran foto ini mencatatkan sejarah kepada anak cucu kita bahwa di Pulau Sumatera pernah terjadi bencana besar,” kata Hendra.
Hendra juga menyampaikan apresiasi kepada Pemko Medan dan berbagai pihak yang mendukung pelaksanaan pameran tersebut. Ia menuturkan, jurnalis foto memiliki tantangan besar ketika menjalankan tugas peliputan di tengah situasi bencana.
“Jurnalis foto adalah profesi yang kerap melupakan diri demi tugas. Saat bencana menerpa, para pewarta menembus banjir dan menerjang bahaya tanpa memikirkan kondisi rumah sendiri atau keluarga yang ditinggalkan. Yang ada di pikiran mereka hanyalah memastikan kamera siap bekerja untuk mengabarkan kondisi sebenarnya kepada dunia,” ujarnya.
Menurut Hendra, di tengah maraknya informasi palsu atau hoaks, jurnalis foto tetap memiliki tanggung jawab untuk merekam peristiwa secara faktual dan menyajikannya kepada masyarakat secara jujur.
Pameran tersebut turut dihadiri Ketua PWI Sumut Farianda Putra Sinik, Ketua PFI Medan Riski Cahyadi, Ketua Panitia Pameran Irsan Mulyadi, serta sejumlah pimpinan perangkat daerah Pemko Medan.
Di antaranya Kepala Dinas Kominfo Kota Medan Arrahmaan Pane, Kepala BPBD Kota Medan Yunita Sari, Kepala Dinas Damkarmat Kota Medan Wandro Abadi Agnellus Malau, Kepala Dinas Sosial Kota Medan Khoiruddin Rangkuti, dan Kasatpol PP Kota Medan M Yunus.(tan)


