Tentang Khairuddin ‘Coki’ Aritonang (1) : “Ayah tak Pernah Menjewer. Ini Kok…”

Sebarkan:

Khairuddin (Coki Aritonang). (foto/ist)
LELAKI berbadan kekar itu bergegas meninggalkan tempat duduknya, sesaat Azan Maghrib berkumandang dari puncak menara mesjid yang tak jauh dari cafe tempat kami ngobrol senja itu. Langkah kakinya cepat. Dia berjalan sembari merapikan baju gamis putih dan topi lobe (bukan kupluk, lho) krem yang dikenakannya. “Sholat di awal waktu dan berjama’ah di mesjid, jauh lebih baik kan, bang,” ucap lelaki muda itu, seakan bertanya kepadaku.

Usai menunaikan Sholat Maghrib di mesjid dua tingkat di pinggir jalan protokol itu, kami kembali lagi ke cafe tempat kami semula nongkrong, mengulang senda-gurau yang sempat terhenti. Langkah kakinya masih tetap cepat. Padahal, tak ada hal penting yang kami kejar di cafe itu.

Lelaki kelahiran Medan, 31 Desember 1974 itu, adalah sosok yang gampang senyum dan penuh canda tawa. Sejak selepas Sholat Ashar, kami sudah nongkrong di tempat kopi ini. Dan obrolan kami, nyaris dipenuhi dengan cerita-cerita lucu tentang diri kami masing-masing.

Ayah dua puteri berusia tiga dan lima tahun ini, sehari-hari bekerja sebagai dosen di Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, sejak tahun 2010. Dia mengajar dua mata kuliah, yakini Manajemen Industri dan Mekatronika.

Nama lengkap lelaki muda ini adalah Khairuddin Aritonang. Namun, dia lebih dikenal dengan nama panggilan ‘Coki’. Dia merupakan putera pertama dari empat bersaudara, anak dari Almarhum H. Muchtar Aritonang, seorang tokoh pemuda, aktivis Pemuda Pancasila (PP) dan politisi Sumatera Utara yang dikenal tegas, keras, juga berprinsip tegak lurus namun luwes dalam bergaul dengan siapapun.

Jejak sang ayah itu, sepertinya menurun kepada anak pertamanya. Sejak menjadi mahasiswa di Fakultas Teknik UMSU, Coki Aritonang sudah aktif berorganisasi mulai di Senat Fakultas Teknik UMSU, BEM UMSU, IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)  baik di FT UMSU maupun kepengurusan IMM Sumut. 

Dia pun aktif di KNPI Sumut sejak masa kepemimpinan Rolel Harahap (2005), juga pada kepemimpinan Yasir Ridho Lubis dua priode, hingga kepemimpinan Sugiat Santoso. Coki Aritonang pun pernah menjabat sebagai Sekretaris KNPI Medan priode 2013-2016, bersama El Adrian Shah sebagai Ketua.

Pada saat Gerakan Reformasi 1998 menentang Rezim Orde Baru yang digerakkan oleh mahasiswa seluruh Indonesia, tak pelak Coki Aritonang menjadi salah satu tokoh mahasiswa UMSU yang paling menonjol dan disegani. Bahkan, dia juga cukup dikenal disegani oleh aktivis mahasiswa dari kampus lainnya di Medan sebagai tokoh gerakan mahasiswa yang tegas, berani dan punya prinsip. 

“Kampus FT UMSU dulu di Jalan Demak, paling sering ‘dikunjungi’ aparat keamanan, bang,” ucap Coki, sembari mengenang aktivitasnya pada masa-masa awal Reformasi 1998 tersebut.

Di internal UMSU, Coki Aritonang pun kemudian dikenal oleh para mahasiswa UMSU sebagai mentor gerakan dan organisasi, dengan sikapnya yang tegas namun ramah. Sikapnya inilah yang kemudian menjadikannya sebagai sosok yang punya pergaulan yang  sangat luas hingga melintas batas apapun.

Dari beragam persahabatannya,  itu jugalah yang menghantarkan Coki Aritonang menjadi salah satu pengurus POBSI (Persatuan Olahraga Bilyar Seluruh Indonesia) Kota Medan. Dia menerima ajakan seorang temannya untuk ikut menjadi pengurus POBSI Medan di bidang organisasi. Kebetuan, dia memang menggemari olahrara bilyar ini.

Tahun 2017, Coki Aritonang mengikuti pendidikan Pelatih Bilyar tingkat Nasional di Jakarta, dan dia berhasil mendapatkan sertifikat sebagai Pelatih Bilyar Nasional.  Sertifikat inilah yang menghantarkannya menjadi salah satu dari tiga pelatih Tim Bilyar Sumut untuk PON Papua 2021. 

Di even ini, atlit bilyar berhasil menyumbang lima medali perak dan tujuh medali perunggu. Bilyar menjadi cabor terbanyak kedua sebagai penyumbang medali untuk Sumut, setelah cabor Wushu yang meraih 14 medali.

“Ayah tak Pernah Menjewer…”

“Ayah tak pernah menjewer kita, abang pun tak pernah menjewer kami, adik-adik. Tapi dia ini, kok enak saja menjewer abang?”, protes Syaiful Ramadhan Aritonang, adik kandung Coki Aritonang nomor tiga, ketika mengetahui abangnya dijewer oleh petinggi di Pemprov Sumatera Utara, beberapa waktu lalu.

Tak cuma adik-adiknya, tapi banyak keluarganya, para sahabat dan mahasiswanya merasa heran dan tersentak dengan peristiwa tersebut. Menurut mereka, bagaimana mungkin seorang Coki Aritonang yang dikenal ramah meski tegas itu, bisa dipermalukan seperti ini oleh seorang pemimpin daerah.

Dalam konteks ini, Coki Aritonang berupaya tak membela diri dan tidak juga menyalahkan siapapun. Dia mencoba menceritakan apa adanya. Tapi, ternyata, cerita apa adanya itu memunculkan banyaknya dukungan dan simpati dari berbagai kalangan untuknya. “Alhamdulillah, banyak sekali yang mendukung dan mendo’akanku. Mereka berharap,  aku bisa tetap tabah dan tegar menghadapi masalah ini,” kata Coki.

Prihal sikap almarhum ayahnya di dalam mendidik anak-anaknya, Coki Aritonang masih mengingat secara benarnya.   Tak pernah sekalipun ayahnya memarahi anak-anaknya dengan cara memukul atau dengan kata-kata yang kasar. Padahal, “Kata kawan-kawan ayah, almarhum ayah itu cukup tegas dan keras,” cerita Coki mengenang sosok almarhum ayahnya, almarhum Muchtar Aritonang. 

Wajarlah jika keluarganya,  para sahabat dan mahasiswanya, merasa terkejut saat muncul berita dan melihat video Coki Aritonang dijewer Gubsu.  Apalagi alasan menjewer itu, sangat sepele sekali, yakni dikarenakan Coki tidak bertepuk tangan saat Gubsu berpidato. Mereka tau persis, di dalam keluarga Coki Aritonang tidak ada tradisi marah secara kasar. Dan Coki sendiripun, saat ini dikenal di kalangannya sebagai orang yang sulit sekali untuk marah.

“Coki itu orangnya keras, tegas, namun sangat luwes dan tidak kasar,” ujar T. Dicky Zulkarnain, alumni Faklultas Ekonomi UMSU, teman Coki Aritonang sesama aktivis Gerakan Reformasi 1998 UMSU.

Sekedar mengingatkan, peristiwa jewer telinga yang dialami Coki Aritonang disertai kalimat sontoloyo itu, terjadi pada siang hari, Senin 27 Des. 2021 di Aula T. Rizal Nurdin Rumah Dinas Gubsu, saat acara pemberian bonus kepada atlit Sumut yang mengikuti PON XX Papua. Dia dipanggil Gubsu ke depan, lalu dijewer karena tidak bertepuk tangan saat Gubsu berpidato. “Apa yang mau aku tepuk tangani. Pidato itu tidak ada yang luar biasa dan tidak ada yang perlu ditepuk tangani,” ketus Coki.

Hal yang paling berat dihadapi Coki Aritonang setelah peristiwa ‘jewer telinga dan sontoloyo’ itu, adalah memberi pemahaman kepada para sahabatnya dari berbagai kalangan serta para mahasiswanya, untuk tidak bersikap reaktif atas apa yang dialaminya. Sebab, kasus ini sudah diserahkannya kepada 60 orang pengacara muda, yang secara sukarela datang membantu Coki. “Sebahagian besar pengacara yang membelaku ini, mereka dulunya adalah adik-adikku di organisasi mahasiswa di UMSU. Biarkanlah mereka yang memproses kasus ini secara hukum.”

Pembicaraan kami di café malam itu, berakhir seiring gema suara Adzan Sholat Isya. Coki Aritonang bergegas mengendarai sepeda motornya menuju mesjid terdekat, tempat dimana kami tadi bersama-sama melaksanakan Sholat Maghrib berjama’ah. (Choking Susilo Sakeh/bersambung).

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini