Tuan Wawako Medan, Dimanakah?

Sebarkan:

CHOKING SUSILO SAKEH.(foto/ist)
BELASAN tahun lalu, seorang Wakil Gubernur (Wagub) yang baru menduduki kursinya sekitar lima bulan, curhat kepadaku. Katanya, banyak kegiatan resmi dilakukannya sebagai Wagub, tapi hanya satu-dua kegiatan yang diberitakan oleh

Humas Pemprov. Wow…

Aku jawab begini :

Tuan Wagub terhormat, tahukah engkau bahwa Tuan Gubernur kita ini sebelumnya pernah menjadi bupati selama dua priode? Dan, tahukah engkau, siapasajakah wakil bupatinya pada priode pertama dan kedua?

Hanya sedikit sekali rakyat yang tau siapa Wakil Bupati priode pertama dan siapa Wakil Bupati priode kedua, saat Tuan Gubernur itu menjadi Bupati. Sebab,kedua sosok wakil bupatinya itu nyaris tak terdengar di media massa, meski kegiatan resminya seabreg-abreg.

Mau ‘pekong’ (pecah kongsi) atau tidak, Tuan Wagub harus faham bahwa Tuan Gubernur itu punya kegemaran (baca : penyakit!) ‘mencagili’ (baca : menyiksa) wakilnya. Salah satu caranya, para wakilnya tak boleh sering-sering menghiasi halaman suratkabar.

Nah, bro Tuan Wakil Gubernur Terhormat, itulah yang engkau alami saat ini.Kau boleh tiap hari melakukan kegiatan resmi sebagai Wakil Gubernur, tapi beritakegiatanmu tak boleh tiap hari masuk suratkabar. Bila diperlukan, kegiatanmu selama sebulan cukup sekali saja diberitakan di suratkabar.

***

Tuan Wawako Medan, seusai KPU mengumumkan engkau sebagai pendamping Bobby Nasution pada Pilkada Medan tahun 2020, maka sejak itu keberadaan Tuan tak pernah jauh dari Bobby. Pasangan Boby Nasution/Aulia Rahman ini berlanjuthingga ini dilantik menjadi Walikota/Walikota Medan priode 2020-2025. Namun, sejak lima bulan terakhir ini, dimanakah Tuan Wawako berada?

Sebagai salah seorang warga Medan yang ikut urunan berkontribusi menyediakan anggaran untuk gaji dan fasilitas Wawako melalui pajak dan retribusi yang aku bayar -- sebagaimana juga dengan mayoritas warga Medan lainnya -- aku tak cuma ingin tau bagaimana pertanggungjawaban penggunaan uang kami tersebut. Tetapi, lebih dari itu, kami pun rindu melihat gaya Tuan saat berdiri, berjalan maupun saat duduk di sebelah Tuan Walikota Medan. Kami juga tindu melihat bagaimana ekspresi wajah Tuan saat berada di sebelah Tuan Walikota.

Namun sejak sekitar lima bulan terakhir ini, kami tak lagi melihat Tuan Wawako muncul mendampingi Tuan Walikota, baik di media massa ataupun di media sosial. Entah apa gerangan yang terjadi : sakitkah, mengundurkan dirikah, atau anu-anukah?

Saat Tuan Walikota berfoto di tengah hujan dan banjir terakhir ini, tak kami lihat engkau ada di sampingnya. Saat Tuan Walikota berfoto di dalam gorong-gorong, engkau juga tak terlihat. Begitu pula saat Tuan Walikota berrfoto di gelaran MotoGP Mandalika, engkaupun tak terlihat di dalam foto tersebut.

Andai Tuan Wawako memang sakit, tak pula ada pemberitahuan resmi dari Pemko Medan prihal tersebut. Pun demikian pula kalau Tuan Wawako mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wawako Medan, juga tak pernah ada pemberitahuan resmi yang diterima warga Kota Medan. Andaipun tetap bekerja seperti biasa, penuh dengan kegiatan resmi sebagai Wawako Medan, nyaris tak pula terbaca di media massa ataupun media sosial. Lantas, dimanakah engkau wahai Tuan Wawako Medan?

Padahal, sejak awal dilantik sebagai Wawako Medan mendampingi Bobby Nasution sebagai Walkot Medan pada 26 Febr. 2021, engkau setiap hari hadir di suratkabar, media onlie maupun media sosial. Baik tampil sendiri dalam kegiatan resmi, namun lebih sering tampil mendampingi Walkot Medan.

Aku tak ingin berburuk sangka, bahwa telah terjadi sesuatu yang dialami oleh Tuan Wawako, sehingga engkau nyaris tak pernah muncul lagi dalam pemberitaan. Aku pun tak percaya, kalau Tuan Walikota punya kegemaran yang sama seperti Tuan Gubernur yang aku ceritakan di atas, yakni ‘mencagili’ wakilnya.

Namun, sah-sah saja jika aku menduga-duga, bahwa telah terjadi “sesuatu” diantara Tuan Walikota dengan Tuan Wawako. Dan sesuatu itu, bisa saja bermakna bahwa antara Bobby Nasution dengan Aulia Rahman telah ‘pekong’. Atau, dalam

bahasa lain, bahwa hubungan Bobby Nasution dan Aulia Rahman sedang tidak baik-baik sebagaimana mestinya.

Sekali lagi, aku tak ingin berburuk sangka.

Tapi, sebagai warga Kota Medan yang setia, aku berhak tau, dimanakah engkau, wahai Tuan Wawako Medan?

Kejelasan tentang keberadaan Wawako Medan ini menjadi penting, agar sekitar 2,44 juta jiwa warga Kota Medan bisa tidur nyenyak dan nyaman, karena kami tau dengan persis bahwa ada uang APBD Kota Medan yang dipergunakan dengan tepat dan benar untuk membayar gaji dan biaya operasional Tuan Wawako. Dan itu bisa dibuktikan dengan jelas, karena keberadaan dan kinerja Tuan Wawako juga cukup jelas.

Andai jarangnya Tuan Wawako kini muncul di media dikarenakan telah terjadi ‘pecah kongsi’ antara Tuan Wawako dengan Tuan Walikota, maka, alangkah menggelikannya kotaku yang mengusung tagline “kolaborasi Medan berkah” ini.

Yak, Kota yang menggelikan! Bagaimana mungkin bisa terjalin kolaborasi antara pimpinan dengan warga Kota Medan, jika antara Walikota dengan Wawako-nya saja tidak bisa menjalin kolaborasi dengan mulus. Padahal mereka masih sekitar setahun memimpin Kota Medan. Menjadi semakin menggelikan, bagaimana kolaborasi dengan rakyatnya bisa membawa berkah, jika kolaborasi antara Walikota dan Wawako saja sudah tidak berkah. Lantas, akan semakin asyik lagi, sebab, dan seterusnya-dan seterusnya.

Aikh, sudahlah.

Tokh, “kolaborasi Medan berkah” itu kan cuma rangkaian kata-kata yang disusun untuk kepentingan kampanye pilkada. Setelah berhasil menjadi pemimpin, tentu ada hal lain yang lebih penting, yakni syahwat kekuasaan!

Nikmatnya syahwat kekuasaan ini, jika tidak bisa dikendalikan, akan dengan gampang menyingkirkan siapapun. Sebab : kalau memang bisa sendirian menjadi pemimpin, ngapain pula mesti berbagi berdua!

---------------

*Penulis adalah Jurnalis, warga Kota Medan.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini