Gubernur Tiba-tiba

Sebarkan:
Choking Susilo Sakeh. (foto/dok)
JIKALAU ada seorang gubernur pamer “tiba-tiba menjadi dermawan” dan “seakan-akan merasa dekat dengan rakyat kecil” di pertengahan tahun keempat masa jabatannya, maka patutlah diduga bahwa sang gubernur tersebut sesungguhnya sangat kepingin lagi menjadi gubernur pada priode berikutnya. Kemudian, bahwa keinginannya untuk kembali menjadi gubernur itu, patut pula diduga bukan dikarenakan kepentingannya mengangkat martabat rakyat kecil. Melainkan lebih dikarenakan syahwat pribadinya untuk tetap berkuasa. Bah…

Andai  sang gubernur memang mencintai rakyat kecil, tentulah sejak dari tahun pertama kepemimpinannya dia sudah mengalokasikan sebahagian uang APBD untuk dibagi-bagikannya kepada rakyat kecil. Jika itu yang dilakukannya, maka sejak awal masa jabatannya pula, sang gubernur tersebut sudah mendapat gelar sebagai pemimpin yang dermawan dan dekat rakyat kecil.   

Nah, kalau seorang gubernur menerapkan strategi “tiba-tiba menjadi dermawan” dan “seakan-akan merasa dekat dengan rakyat kecil” pada pertengahan tahun keempat masa jabatannya, bisa dipastikan hal itu hanya berdasarkan hitunghitungan “untuk kepentingan elektoral” semata.  Dengan demikian, menjadi asyik menyaksikan seorang gubernur yang main hitung-hitungan dengan rakyatnya sendiri. 
Begitupun, andai sang gubernur yang dimaksud pada alinea di atas adalah Edy Rahmayadi, Gubernur Sumut priode 2018-2023, tak usahlah cepat-cepat kita berburuk sangka. Sebaliknya, mari kita bersukacita dan beri tepuk tangan, karena Gubsu Edy tiba-tiba menjadi dermawan dan seakan-akan merasa dekat dengan rakyat kecil. 

Bayangkan, setiap harinya selama bulan Ramadhan misalnya, ada ratusan rakyat kecil yang diundang berbuka puasa di rumah dinas. Kehadiran mereka ke rumah dinas itu pun, mestilah diberi sekedar ongkos. Sudah berapa banyak uang APBD yang dialokasikan untuk pameran atraksi tiba-tiba dan seakan-akan ini, namun tak usahlah sampai merepotkan kita untuk ikut menghitung-hitungnya. 

Yang pasti, sudah banyak komunitas yang diundang untuk berbuka puasa di rumah dinas. Ada penggali kubur, petugas kebersihan, driver ojol, anak yatim dan seterusnya dan seterusnya. Agaknya, kita pun bisa membantu Gubsu Edy untuk mendatangkan komunitas tuna wisma, anak jalanan, pemulung dan seterusnya dan seterusnya, agar mereka juga bisa ikut mencicipi acara buka puasa bersama Gubsu Edy tersebut. 

Tak perlulah muncul pertanyaan aneh-aneh dari pameran perilaku Gubsu Edy ini. Misalnya : Kalau memang dermawan dan peduli rakyat kecil  --  apalagi pakai dana APBD Sumut  --  kenapa acara buka puasa dengan rakyat kecil sekaligus aksi nyawer ke sana-ke sini itu tidak dilakukan sejak masa awal kepemimpinan Edy Rahmayadi sebagai Gubsu? 

Tiba-tiba dan Seakan-akan 

Perilaku “tiba-tiba menjadi dermawan” dan “seakan-akan merasa dekat dengan rakyat kecil”, bukanlah perilaku baru bagi kalangan pejabat publik. Perilaku ini biasa dilakukan seorang pejabat publik di masa-masa akhir kepemimpinannya, andai si pejabat memang sangat bernafsu  untuk berkuasa lagi pada priode berikutnya. 

Bagi seseorang yang pada dasarnya berwatak dermawan dan mampu menjalin silaturahmi dengan siapapun, termasuk rakyat kecil, dipastikan akan tetap membantu dan peduli kepada rakyat kecil kapan saja dan dimana saja. Selain itu, dipastikan pula dia tidak akan suka memamerkan aktivitasnya saat membantu serta memperhatikan rakyat kecil tersebut. 

Tentu akan berbeda dengan seseorang yang mendisain sosoknya untuk “seakan-akan sebagai sosok yang dermawan dan peduli rakyat kecil”. Apalagi jika perilaku yang tiba-tiba dan seakan-akan itu dimaksudkan pula untuk kepentingan elektoral  --  kepentingan agar tetap dipilih pada pilkada nanti. Perilaku tiba-tiba dan seakan-akan ini dilakukannya pada momen-momen menjelang pilkada, dengan harapan pada saat pilkada nanti rakyat tetap mengingat perilakunya tersebut. 

Inilah perilaku ‘flexing’. Secara harfiah, flexing dalam bahasa Inggris berarti 'pamer'. Flexing adalah sikap pamer dengan harapan muncul kepercayaan publik terhadap si pelaku flexing. Flexing adalah marketing untuk membangun kepercayaan publik terhadap perilaku palsu.  Perilaku flexing ini bisa disebabkan seseorang yang  merasa meragukan diri sendiri, sehingga butuh validasi dari lingkungan. Dia memposisikan bahwa dia itu memang orang yang hebat, sehingga layak diakui dan dipandang.  

Perilaku flexing juga bisa dipengaruhi oleh masalah kepribadian, misalnya  histrionik, yakni orang yang suka mencari perhatian. Juga narsistik,  kecenderungan seseorang merasa dirinya hebat. Oleh karena itu dia juga harus diperlakukan selayaknya orang hebat. Para crazy rich adalah sosok yang berperilaku flexing, di dalam membangun kepercayaan agar publik mempercayainya. 

Akan halnya pamer perilaku Gubsu Edy yang tiba-tiba menjadi dermawan dan seakan-akan merasa dekat dengan rakyat kecil di pertengahan tahun keempat masa jabatannya tersebut, apapun itu, marilah kita sambut dengan sukacita dan tepuk tangan. Tentunya, sembari berharap, semoga semua pejabat kepala daerah dan wakilnya, juga para pimpinan OPD, ikut beramai-ramai melakukan perilaku yang sama. 
Jika kelak terjadi demikian, alangkah menghiburnya kehidupan ini… 

------------------- 
*Penulis adalah Jurnalis, warga Sumut.
Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini