Melalui Peringatan Dini, Pemprovsu-BMKG Komitmen Tekan Korban Bencana Alam di Sumut

Sebarkan:
Gubsu Edy Rahmayadi menerima cenderamata pada Seminar Dinamika Atmosfer Regional Provinsi Sumatera Utara untuk pengurangan risiko bencana hidrometeorologi di Medan, Selasa (12/4). (foto/ist)
MEDAN (MM) – Pemprov Sumut bersama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) komit menekan korban bencana alam hingga angka 0 atau zero victim. Hal tersebut dapat dicapai melalui sistem peringatan dini dan tindakan dini.

Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) Tahun 2021, Sumut masuk kategori sedang dengan skor 143,83. Walau kategori sedang, bencana hidrometeorologi di Sumut cukup tinggi sepanjang tahun 2021.

Bencana dimaksud terkait atmosfer, air, laut yang mengakibatkan intensitas hujan tinggi, angin kencang, puting beliung, banjir, tanah longsor, kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan. Tercatat, terjadi 44 kali bencana banjir dan banjir bandang serta 22 kali tanah longsor dengan 27 korban jiwa, 69 orang luka, tiga orang hilang, dan 296 orang terpaksa mengungsi.

“Secara nasional, risiko bencana kita di urutan ke-16. Banjir bandang dan tanah longsor sudah merenggut banyak nyawa rakyat. Kita harus komit menekan korban jiwa sekuat tenaga,” kata Gubernur Sumut (Gubsu) Edy Rahmayadi pada Seminar Dinamika Atmosfer Regional Pemprov Sumut di Medan, Selasa (12/4).

Edy juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kelestarian alam. Menurutnya, bencana alam terjadi tidak terlepas dari ulah manusia yang merusak lingkungannya. Dengan laju pertumbuhan penduduk 1,28% (data BPS). isu kerusakan lingkungan akan meningkat.

“Kita harus menjaga alam, maka alam akan menjaga kita, harus dijaga keseimbangannya. Sekarang jumlah penduduk Sumut sudah mencapai sekitar 15 juta jiwa dan terus tumbuh, kalau kita mengabaikan peringatan BMKG sudah pasti sulit menghindari jatuhnya korban jiwa,” ungkap Edy.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan saat ini kebiasaan masyarakat Indonesia dan sebagian besar negara berkembang kurang peduli dengan peringatan dini dan prakiraan cuaca. Dengan demikian, jatuhnya korban jiwa sulit dihindari karena tidak adanya aksi cepat dini.

“Kurang dipedulikan dan tidak mendapat aksi cepat, sehingga bisa berakibat buruk. Sekarang kita berupaya zero victim,” kata Dwikorita melalui video conference.

Dwikorita juga mengingatkan pentingnya mitigasi awal pemanasan global, karena pemanasan global memicu kondisi cuaca ekstrim. Disebutkan, cuaca ekstrim akan meningkatkan terjadinya bencana hidrometeorologi.

Pada seminar ini, Pemprov Sumut dan BMKG juga menandatangani nota kesepahaman untuk menekan korban jiwa pada bencana alam. Melalui nota kesepahaman ini, sinergi, konektivitas, dan kerja sama yang kuat akan tercipta sehingga bisa mewujudkan zero victim. (jumhana)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini