Pelaku UMKM di Sibolga Mengeluh Kepada Anggota DPR RI Sihar Sitorus

Sebarkan:

SIBOLGA (MM) - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sibolga, bekerja sama dengan Sihar Sitorus Center (SSC) Sibolga, menggelar diskusi publik bersama  anggota DPR/MPR RI Komisi XI Fraksi PDIP, Sihar Sitorus di Sibolga, Sumatera Utara (Sumut), Selasa (10/5/2022).

Kegiatan itu menghadirikan sejumlah pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Sibolga, termasuk mahasiswa, petani garam, penggiling tepung ikan, penarik becak bermotor (Pebetor) dan tokoh masyarakat.

Dalam diskusi itu, para pelaku UMKM yang hadir seperti Weli Marbun (Perebus ikan), Suhardi (Pembuat Freezer di kapal ikan), Pendeta Noah Pasaribu (Peternak), Aritonang (Pebetor), dan lainnya, mengeluhkan masalah permodalan kepada Sihar. Mereka berharap Sihar bisa membantu mereka untuk mendapatkan bantuan permodalan bagi pembukaan dan peningkatan usaha mereka masing-masing.

Begitu juga sebelumnya disampaikan Amri Hutagalung mewakili Lurah Pasar Belakang, Jakson Sitorus selaku Wakil Ketua OKK DPC PDIP Sibolga dan Juliater Aritonang mewakili tokoh adat di Kota Sibolga ketika memberikan sambutan. Mereka juga berharap kepada Sihar agar Sihar dapat membantu peningkatan usaha para pelaku UMKM di Kota Sibolga.

Sihar pada kesempatan itu memberikan solusi kepada para pelaku UMKM agar memanfaatkan program kredit usaha rakyat (KUR) pemerintah yang menyediakan pinjaman hingga Rp100 juta bagi pelaku UMKM per orangan.

"Syaratnya cukup mudah, salah satunya usaha yang kita miliki minimal 6 bulan harus terdaftar di platfrom e-commerce dan dilihat prospeknya berkelanjutan atau seperti apa, nilai ekonominya," katanya. 

Hal lainnya, Sihar yang membidangi Bank Indonesia (BI), Keuangan dan beberapa lainnya ini menyarankan kepada para pelaku UMKM untuk membuat proposal dan menyampaikannya ke instansi terkait pemerintah. Bila perlu, menembuskannya kepadanya guna dapat dibantu dalam prosesnya ke instansi terkait/pemerintah atau lewat rekan-rekannya di DPR RI ke pemerintah.

"Soalnya, kita tidak memiliki anggaran untuk dibagi/diberikan langsung kepada pelaku usaha. Karena yang menjadi bos (pemilik/pengelola anggaan) itu kan eksekutif (pemerintah), sedangkan kita (anggota DPR RI/legislatif) hanya menggodok/merumuskan aturan atau undang-undangnya bagaimana supaya eksekutif bisa membantu perekonomian masyarakat/pelaku UMKM," tutur Sihar. 

Selain memberikan solusi permodalan, Sihar juga mendorong anak-anak muda Sibolga untuk tumbuh menjadi enterprenuer atau pengusaha baru. Menurutnya, kunci utamanya bukan sebatas modal, melainkan tekad dan nekad serta kepercayaan (trust) dan komitmen.

"Kalau kita sudah memiliki tekad dan nekad, walaupun itu dipandang bodoh, orang lain (pemodal) pasti akan datang kepada kita," tutur Sihar. 

Sementara selepas diskusi, kepada wartawan, Sihar mengakui, bahwa permodalan pada prinsipnya sampai saat ini masih menjadi kendala utama bagi pelaku UMKM. Tidak hanya di Indonesia, seperti Sibolga, melainkan juga dunia. 

"Sehingga diperlukan solusi yang tepat, salah satunya dengan menggunakan instrument pemerintah pusat melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN)," ujarnya. 

Ia pribadi sebagai anggota DPR RI aku Sihar, senantiasa akan berupaya menemukan solusi dari setiap masalah yang dihadapi masyarakat untuk mendukung kebangkitan ekonomi, terutama di masa pandemi Covid-19 ini. Maka itu, kendala permodalan yang dihadapi pelaku UMKM perlu diurai dan dipresentasikan, di antaranya melalui pendekatan persuasif untuk menyakinkan pihak pemberi modal.

"Seperti bagaimana kita sering mendengar keluhan, bahwa persyaratan pinjaman yang diajukan masyarakat, panjang dan bahkan menyulitkan. Ini lah yang harus kita urai dan presentasikan dan tidak bisa saya jawab secara gamblang. Intinya, harus melalui cara persuasif, sehingga pihak pemberi modal yakin dan mau menyalurkan pinjaman,” sebut Sihar.

Sihar mencontohkan, untuk mendapatkan modal tentu harus memenuhi persyaratan. Misal KUR individual, minimal 6 bulan harus terdaftar di platfrom e-commerce dan dilihat prospeknya berkelanjutan atau seperti apa, nilai ekonominya. 

"Jadi, hal seperti ini lah salah satu yang akan menjadi perhatian kita. Karena di sisi lain, kita juga pahami perbankan itu punya kepentingan, bagaimana proses bayar utang dari para debitur dilakukan tepat waktu selama periode masa pinjaman,” pungkas Sihar. (jhonny simatupang)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini