![]() |
| PTAR melepaskan bibit ikan di Sungai Garoga, Batang Toru, Tapsel. Sejak 2022 hingga kini, PTAR konsisten mengembangkan lubuk larangan di Kecamatan Batangtoru dan Muara Batangtoru, untuk menjaga kearifan lokal dan melestarikan lingkungan serta meningkatkan kesejahteran masyarakat desa, adalah untuk ketahanan pangan dan gizi. (Dok: PTAR). |
“Dari perut bumi Batangtoru lahir energi kehidupan di atas tanah. Kisah tentang bagaimana Tambang Emas Martabe bisa ikut memberi ketahanan pangan dan makan anak bangsa”
Visi besar pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, yakni program ketahanan pangan dan Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak bangsa (anak sekolah) menuntut partisipasi lintas sektor.
PT Agincourt Resources (PTAR) selaku pengelola Tambang Emas Martabe di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Propinsi Sumatera Utara (Sumut), membaca arah ini dengan tajam.
Martabe melihat, ketahanan pangan yang secara tak langsung berkontribusi pada ketersediaan pangan bergizi tidak bisa dibebankan pada negara semata. Dunia usaha, termasuk sektor tambang, juga punya peran strategis untuk memastikan rantai pangan tetap kuat dari hulu ke hilir.
Martabe pun kini semakin mendorong program ketahanan pangan dengan semakin memberdayakan petani lokal, memperkuat rantai pasokan pertanian serta mendukung pasokan gizi anak-anak.
“Terbaru tahun (2025) ini, kita (Martabe) meluncurkan tiga program terkait ketahanan pangan, yakni Martabe Chicken Farm (ayam petelur), Martabe Goat (peternakan kambing), dan Martabe Cocoa (budidaya kakao). Program ini kita running dengan skema yang berbeda,” beber Superintendent Local Economic Development PTAR, Yandi Khrisna, menjawab medanmerdeka.com di Batangtoru, Tapsel.
Perusahaan internasional ini sebelumnya tercatat telah menyelenggarakan sejumlah program pengembangan pertanian secara berkala. Diawali 2018 lewat program penangkaran padi untuk menciptakan benih berkualitas dengan varietas unggul. Kemudian berlanjut ke program pengembangan padi organik, jagung pipil, budidaya tanaman holtikultura, buah-buahan dalam pot, penyebaran ikan endemik lokal, regenerasi petani, dan lainnya.
Selain itu juga mendukung pertanian dari berbagai aspek, mulai dari pengembangan kapasitas, penyediaan sarana produksi pertanian, sistem irigasi, infrastrutur akses persawahan, asistensi sertifikat produk, penguatan kelembagaan kelompok tani, fasilitas produksi pasca panen serta pemasaran, pembentukan petani muda millenial hingga pelatihan PPL, sekolah pertanian, dan lain sebagainya. Termasuk mendukung peningkatan gizi masyarakat bekerja sama dengan puskesmas dan posyandu dalam edukasi gizi ibu dan anak, remaja dan dewasa.
Bahkan dari data hasil pendampingan Martabe 2023, tercatat luas lahan budidaya pertanian di Batangtoru dan Muara Batangtoru telah mencapai sekitar 150 hektar, budidaya pertanian padi konvensional 100 hektar, budidaya tanaman akar rimpang 3 hektar, dan budidaya jagung pipil 35 hektar. Jumlah petani yang mendapatkan program pendampingan telah mencapai sekitar 150 orang.
Adapun peluncuran program "Martabe Chicken", "Martabe Goat", dan "Martabe Cocoa" sendiri bukan tidak beralasan. Penanaman jagung di atas lahan seluas 20 hektar di Dusun Aek Sirara yang telah dilakukan Martabe bersama petani diharapkan hasilnya (jagung dan batang) bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan terrnak, seperti ayam dan kambing. Di samping untuk memenuhi kebutuhan pangan daerah.
Bahkan dalam skema ini, Martabe juga akan mendatangkan 2.000 ekor ayam petelur sebagai langkah awal dan akan terus meningkatkannya untuk mendapatkan manfaat lebih banyak.
"Sehingga Batangtoru dan Muara Batangtoru ke depan kita harapkan tidak lagi mendatangkan sumber daging dan telur dari luar daerah," beber Yandi.
Demikian dengan penanaman 10.000 batang bibit (unggul) kakao di atas lahan masyarakat seluas 50 hektar yang telah dilakukan secara simbolis di Desa Hutagodang. Di mana hasilnya juga diharapkan bisa meningkatkan ekonomi dan gizi masyarakat, selain mendukung produksi komoditas perkebunan di Batangtoru dan Muara Batangtoru agar tetap sustain (berkelanjutan).
Martabe dalam hal ini bahkan telah menyiapkan lahan sebagai pusat pembibitan dan lokasi pembangunan rumah coklat (chocolate house) sebagai pusat hilirisasi kakao. Di samping akan mendatangkan 44.000 lagi entres (bahan stek membuat bibit baru) klon kakao unggul dari Jember, Jawa Timur (Jatim).
“2026, kita (Martabe) masuk ke komoditi yang lain, seperti kopi Sipirok. Juga hilirisasi pengolahan padi menjadi beras. Dalam program ini, beras masuk pabrik dan kemudian Martabe akan punya beras sendiri,” tukas Yandi.
Program ketahanan pangan Martabe pun kini, juga tak lagi sekadar bagian dari tanggung jawab sosial, tetapi lebih menjadi gerakan strategis nasional. Juga bukan lagi sekadar bantuan sosial lewat program social coorporate responsibility (CSR), tapi menjadi strategi jangka panjang Martabe untuk membangun ekonomi lokal yang tangguh.
“Bicara pertanian, berarti bicara secara luas, bagaimana mengelola sumber daya yang bisa menghasilkan dari hulu hingga ke hilir. Kami masuk di sini, karena memang arah dan program pengembangan ekonomi kami lebih ke arah bagaimana masyarakat siap ketika nanti tambang tutup. Maka, kami harus membangun fondasi ekonomi yang kuat, salah satunya lewat pangan,” tukas Yandi.
![]() |
| Penanaman jagung perdana di lahan 10 hektare Desa Sumuran, Kecamatan Batang Toru, Kamis (16/10/2025). (foto: mm/jhonny simatupang) |
Tanah Semakin Subur
Sejak program peningkatan dan pengembangan pertanian dalam rangka ketahanan pangan dan pemenuhan gizi dilakukan oleh Martabe, sawah dan kebun di beberapa desa sekitar tambang kini semakin subur.
Selain penanaman 10.000 bibit cabai merah di Desa Muara Hutaraja, Kecamatan Muara Batang Toru di atas lahan seluas 5.000 meter persegi dan bawang merah di Desa Sipenggeng dan semangka di Desa Hutabaru Siagian, Kecamatan Batangtoru contohnya. Demikian, program penangkaran padi di Desa Sipenggeng, Kecamatan Batangtoru tidak hanya menghasilkan produksi yang tinggi, tapi juga lahirnya petani muda yang berorientasi kepada bisnis dan keberlanjutan.
“Kami yang tergabung ke dalam kelompok tani penangkar Cabang Desa Sipenggeng di Desa Hutagodang, Aek Ngadol, Garoga dan Batu Horing ini, kini cukup beruntung. Gabah yang kami produksi untuk penangkaran benih padi unggul Desa Sipenggeng dihargai di atas pasar. Masalah kami kini adalah irigasi, banyak yang rusak. Tapi itu pun, beberapa bagian telah diperbaiki PTAR,” ungkap Imam Saud Siregar, Ketua Kelompok Penangkar Benih Padi Unggulan Hutagodang Cabang Sipenggeng, Batangtoru menjawab medanmerdeka.com via selular.
Lahir Bagas Silua
Sementara dari hasil bumi peningkatan dan pengembangan pertanian Martabe, lahir Bagas Silua sebagai pusat promosi dan pemasaran produk unggulan usaha kecil, mikro dan menengah (UMKM) Batangtoru dan Muara Batangtoru.
Di tempat ini, berbagai produk seperti batik, ecoprint, tas, pouch, peci, keripik, kopi bubuk dan biji, aneka olahan minuman herbal, dan lainnya dikemas modern dan dipasarkan ke pasar yang lebih luas. Bahkan tidak cuma tempat penjualan, Bagas Silua juga sebagai tempat edukasi, peningkatan kualitas dan lainnya, serta ruang kolaborasi yang menghubungkan petani, perajin, dan pengusaha kecil dengan pasar yang lebih luas.
Mariani (31), pelaku UMKM Batangtoru penghasil ‘Pangsit Semangka atau Kue Bawang Semangka” misalnya, mengaku jika dirinya tidak penah kesulitan mendapatkan bahan baku untuk kebutuhan usahanya.
“Bahan baku, aman. Semua ada di sini (Batangtoru), Pak,” ucap Mariani, yang membuka usaha UMKM-nya di rumahnya sendiri di Desa Napa, Batangtoru, kepada medanmerdeka.com.
Dahului Program Prioritas Prabowo
Langkah Martabe yang begitu masif dan intensif selama ini meningkatkan dan mengembangkan pertanian dalam rangka ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat di wilayah Tapsel, khususnya di Kecamatan Batangtoru dan Muara Batangtoru ini pun, begitu diapresiasi Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Tapsel, Yeni Lubis, ketika diwawancarai medanmerdeka.com pada kegiatan penanaman kakao oleh Martabe dalam program "Martabe Cocoa" di Desa Hutagodang, Kecamatan Batangtoru.
Menurutnya, program ketahanan pangan dan gizi Martabe secara tak langsung telah mendahului program prioritas Presiden Prabowo yang menekankan kedaulatan pangan, terutama terhadap ketersediaan beras. Terbukti, beberapa tahun terakhir, Batangtoru cenderung masuk ke dalam kategori swasembada pangan. Hal tersebut tidak terlepas dari keberadaan penangkar benih padi unggul bersertifikat 2023 di Desa Sipenggeng binaan Martabe yang mampu menghasilkan 7-8 ton lebih gabah/hektar.
“Sebagaimana 2024, Batangtoru surplus beras sebanyak 379 ton dari luas areal 352 hektar. Demikian juga 2025. Namun 2025, beras Batangtoru banyak dibawa ke luar daerah karena kebetulan stok di gudang Bulog Tapsel sudah mencukupi,” ujar Yeni.
Yeni juga bahkan begitu mengapresiasi program ketahanan pangan Martabe, karena secara kasat mata, dia juga melihat terjadi peningkatan kesejahteraan para petani Batangtoru dan Muara Batangtoru, khususnya para petani yang mendapatkan pendampingan dari Martabe.
"Kenapa? Karena petani binaan Martabe sudah beragribisnis juga,” tukas Yeni.
![]() |
| Senior Manager Community PTAR, Christine Pepah, ketika melakukan penanaman kakao di Desa Huta Godang, Batangtoru, Tapteng, Kamis (16/10/2025). (foto: mm/jhonny simatupang) |
Kontribusi Martabe Contoh Sinergitas
Kisah Martabe yang terus menerus mendorong dan membangun ketahanan pangan di Batangtoru dan Muara Batangtoru, membuktikan bahwa Martabe bukan hanya menggali emas, tetapi juga menggali potensi manusia yang perlu dikembangkan di daerah lain. Dari perut bumi ke piring anak bangsa, Martabe menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan bukan hanya tentang menambang sumber daya alam, tapi juga menambang masa depan manusia.
Anggota Fraksi Golkar DPRD Tapsel, Muhammad Rawi, menyebut kontribusi Martabe sebagai contoh nyata sinergitas dunia industri dan ketahanan pangan. Hal itu diakuinya sejalan dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang menekankan kedaulatan pangan, peningkatan UMKM dan gizi nasional.
“Kita juga dari DPRD terus mendorong ketahanan pangan melalui pemerintah Tapsel seperti mendorong pengalokasian bantuan untuk pengadaan bibit padi dan jagung dan lainnya. Termasuk budidaya ikan dan ayam petelur karena adanya program MBG," ucap Rawi.
Selain itu, DPRD Tapsel juga selalu mengusulkan perbaikan dan pembangunan irigasi kepada pemerintah , baik irigasi besar maupun kecil. Tapi karena adanya efesien anggaran sekarang ini, membuat penanganannya kemungkinan semakin lama.
"Soalnya, pada 2025 ini, APBD Tapsel mengalami pemotongan sebesar Rp113 miliar. Berlanjut 2026, lebih besar lagi Rp320 miliar,” pungkas Rawi yang juga dihubungi lewat selularnya.
Galian C Polemik Pertanian
Namun, upaya peningkatan dan pengembangan pertanian di Batangtoru dan Muara Batangtoru, dalam rangka ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat bukan tidak menghadapi tantangan. Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Napa, Batangtoru, Tapsel, Lenny Marlina Nasution, mengatakan selain faktor alam dan banyaknya infrastruktur pertanian yang rusak, serta kurangnya ketersediaan alat-alat pertanian (alsintan) dan saprodi bagi petani di luar binaan Martabe, tantangan utama kini datang dari aktivitas pertambangan galian c.
“Ini (aktivitas galian c) menjadi polemik bagi kami sekarang. Ada sekitar 6 hektar lahan di Hapesong baru sudah tidak ditanami lagi karena pengaruh galian c di sepanjang sungai Batangtoru. Dan yang lebih fatalnya lagi di Pulo Godang, ada sekitar 80 hektar lahan pertanian di sana akan beralih fungsi. Kalau soal limbah tambang Martabe tidak ada masalah bagi pertanian dan perkebunan di daerah ini,” papar Lenny.(penulis: Jhonny Simatupang, SP)




