![]() |
| Supervisor Bagas Silua, Nur Aisyah, saat memperlihatkan produk fashion kerajinan UMKM di etalase Bagas Silua. (foto:mm/jhonny simatupang) |
“WARISAN tambang bukan hanya berupa logam mulia, melainkan kemandirian masyarakat yang tumbuh dari tanah sendiri. Kisah bagaimana Tambang Emas Martabe melahirkan Bagas Silua untuk membangun kekuatan ekonomi masa depan”
Di tengah geliat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel) muncul satu inisiatif yang mencuri perhatian. Bagas Silua, sebuah gerakan kewirausahaan yang menjelma menjadi etalase besar bagi produk-produk unggulan usaha kecil, mikro dan menengah (UMKM) Batangtoru dan Muara Batangtoru.
Terletak di Jalan Merdeka Barat Km 2,5 Batangtoru, tepatnya di sisi kiri jalur utama pintu masuk Tambang Emas Martabe di Kelurahan Aek Pining, Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara (Sumut), Bagas Silua yang memiliki bangunan permanen modern dilengkapi fasilitas parkir dan taman tempat bersantai di sisi kiri dan kanannya ini, menjadi simbol perubahan dan tempat di mana semangat lokal, kreativitas, dan kolaborasi bersatu membangun kebanggaan baru bagi masyarakat Batangtoru dan Muara Batangtoru. Sekaligus sebagai tempat berkumpulnya cita rasa, kreativitas dan harapan para pelaku UMKM Batangtoru dan Muara Batangtoru.
Melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan komunitas bisnis, Bagas Silua bertransformasi menjadi jembatan antara kreativitas lokal dan peluang global.
Berbagai produk kerajinan rumah tangga tampil dalam satu etalase bergengsi yang memancarkan identitas daerah dan cerita tentang kerja keras, kesabaran, dan kebanggan menjadi bagian dari tanah Batangtoru dan Muara Batangtoru dan masa depan yang ingin dibangun bersama.
Berbeda dari pusat oleh-oleh biasa, Bagas Silua hadir dengan pendekatan yang lebih visioner. Produk UMKM di tata dengan konsep curated market place (Menyeleksi, mempercantik kemasan, membantu branding, bahkan mendampingi pelaku usaha) serta mendorong transformasi digital. Setiap produk tidak hanya dipajang secara fisik, tapi juga dipasarkan melalui katalog daring dan media sosial, seperti facebook, instagram, tiktok, dan promosi.
Tidak cuma tempat penjualan, Bagas Silua yang mempunyai makna yang dalam bahasa lokal (Batak) "Bagas=Rumah" dan “Silua=oleh-oleh" atau rumah oleh-oleh atau ada juga yang menyebutnya rumah kehidupan ini, juga sebagai tempat edukasi, peningkatan kualitas dan lainnya, serta ruang kolaborasi yang menghubungkan petani, perajin, dan pengusaha kecil dengan pasar yang lebih luas.
Menurut Superintendent Local Economic Development PT Agincourt Resources (PTAR), Yandi Khrisna, dalam wawancaranya dengan medanmerdeka.com di Batangtoru, pendirian Bagas Silua merupakan bagian dari rencana induk program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat (PPM) PTAR 2018-2031 dengan salah satu pilar pengembangan usaha lokal berdasarkan surat Keputusan Menteri (Kepmen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 1824 K/30/MEM/2018, tentang pedoman pelaksanaan PPM.
Berawal dari pengolahan produk makanan berupa keripik oleh ibu-ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan oleh Tim Pembinaan dan Pengembangan Ekonomi PTAR. Kemudian berkembang ke pembinaan fashion, batik, ecoprint, makanan, minuman, dan lainnya hingga kepengurusan izin para pelaku UMKM, mulai dari ijin pangan industri rumah tangga (PIRT), sertifikat halal, serta lainnya.
![]() |
| Harga produk packaging UMKM Bagas Silua (kiri) dan Logo Bagas Silua. (foto:mm/ist) |
"Dari kondisi ini, lahirlah ide untuk membuat Bagas Silua atau rumah oleh-oleh atau platform yang menampung, menata, dan memperkenalkan produk lokal agar tampil layak di mata pasar daerah, nasional maupun internasional," ungkap Yandi.
Yandi menuturkan, untuk (lebih) memperkenalkan produk UMKM Bagas Silua, mereka mempekerjakan tim muda di Bagas Silua. Tim muda ini sebelumnya telah dilatih untuk membuat konten menarik, memahami branding, dan mengelola pesanan secara efisien. Termasuk Live (siaran langsung) jualan tiap hari.
Hasilnya terlihat. Sejak diresmikan pada 28 September 2024, penjualan Bagas Silua meningkat, jangkauan pasar meluas, dan produk UMKM Batangtoru mulai sering dibawa dalam pameran-pameran ekonomi kreatif, baik di tingkat daerah, propinsi maupun nasional.
“Dan untuk menarik konsumen ke Bagas Silua, kita juga menggandeng pengusaha cafe di Batangtoru sebagai mitra untuk bisa membuat kopi di Bagas Silua. Jadi, orang ngopi, cemilannya cemilan UMKM,” cetus Yandi.
Ekspansi Pemasaran
Bagas Silua kini tengah menyiapkan ekspansi ke skala yang lebih besar. Tim muda (tiga orang warga lokal) yang ditempatkan sebagai pengelola Bagas Silua bersama PTAR ingin UMKM Batangtoru dan Muara Batangtoru tidak hanya bertahan, tapi tumbuh dengan percaya diri pasca operasional tambang tutup. Termasuk ingin menjadikan Batangtoru sebagai ikon kewirausahaan lokal berkelas nasional.
![]() |
| Supervisor Bagas Silua, Nur Aisyah, saat memperlihatkan produk makanan kerajinan UMKM di etalase Bagas Silua.(foto:mm/jhonny simatupang) |
Menurut Nur Aisyah (23), salah seorang dari tim muda yang menjabat sebagai Supervisor Bagas Silua, selain melakukan penjualan offline dan online dengan memanfaatkan media sosial, seperti facebook, instagram, tiktok, siaran langsung (live), serta terbaru mereka berhasil mendirikan foto studio dan weeding organizer (WO), strategi marketing Bagas Silua berikutnya adalah menjalin kerja sama dengan outlet-outlet penjualan oleh-oleh, seperti Bolu Amanda dan Kenanga di Kota Padangsidempuan. Termasuk pusat penjualan oleh-oleh lainnya, seperti yang ada di Kota Sibolga.
“Soalnya, target penjualan kami juga 2026 meningkat di atas Rp1 miliar dari Rp1 miliar pada 2025 ini. Apalagi, sesuai rencana juga, Bagas Silua nantinya akan dilepas bila dinilai sudah mampu untuk mandiri. Sehingga, seluruh pengelolaan Bagas Silua nantinya otomatis akan menjadi tanggung jawab kami (masyarakat Batangtoru) atau Bagas Silua tidak lagi tergantung kepada PTAR. Kalau sekarang kan kita masih di support oleh PTAR,” tukas Nur Aisyah, fresh graduate dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), jurusan Managemen Dakwah ini.
Nur Aisyah bersama dua orang rekannya yang mengelola Bagas Silua, Puspa Nurjannah (23), Alumni Politeknik Negeri Medan (Polimed), Jurusan Tehnik Mesin, yang juga berstatus fresh graduate dan Syafi’i Ritonga (25) selaku Konten Kreator, senantiasa bekerja keras dan terus berinovasi untuk lebih memperkenalkan dan memasarkan produk-produk UMKM Bagas Silua. Ketiga putra daerah Batangtoru ini merasa sangat tertantang untuk memandirikan Bagas Silua, walau pengalaman yang mereka dapatkan cuma dari hasil pelatihan dan pembinaan PTAR lewat konsultan terkait selama tiga bulan.
Hasilnya, sejak dioperasikan pada 28 September 2024 lalu itu, penjualan produk UMKM dari etalase Bagas Silua cenderung positif. Terhitung Januari hingga pertengahan Oktober 2025, penjualan Bagas Silua sudah hampir menembus angka Rp600 juta. Semua hasil penjualan berasal dari offline dan online, termasuk dari hasil beberapa kegiatan pameran pemerintah yang menyertakan produk-produk UMKM Bagas Silua.
"Adapun produk UMKM di Bagas Silua saat ini tercatat sebanyak 60 jenis dari 33 UMKM binaan PTAR. Seluruh produk ini merupakan hasil seleksi yang kita lakukan terhadap 50-an lebih UMKM binaan PTAR," ucap Nur Aisyah.
Ke-60 produk itu terdiri dari tiga kategori : makanan, minuman dan fashion. Untuk makanan, seperti Bakso Goreng, Pisang Sale, Keripik Talas, Pangsit Semangka, Keripik Pisang, Kacang Intip, Keripik Ubi Ungu, Tahu Walky Crispy, Keripik Tempe, Alen-Alen, Kuping Gajah, Cake Telur Gabus, Cake Akar Kelapa, Rempeyek Kacang Hijau, Kue Bawang, Kerupuk Gurih, Kue Tambang, Kue Tambang, Kue Bawang dan lainnya. Harganya variatif dari Rp16.000-Rp29.000/bungkus dan bisa juga dipesan dengan sistem paket Rp100.000-Rp200.000.
Untuk minuman, seperti minuman rempah MJ Akar Rimpang, MJ Akar Rimpang Jahe, Kopi Bubuk Blend 250g, Kopi Biji Blend 250g, Kopi Biji Arabika 250g, dan lainnya. Harganya juga variatif dari Rp25.000 hingga Rp115.000/bungkus/botol.
Sementara untuk fashion, seperti Batik, Gaun, Kemeja, Kemeja Pria Ecoprint, Daster, Kaos, dan Tas seperti Tas Wastra Premium, Pouch Wastra, Pouch Wastra Premium, Pouch Ecoprint, Bakal Ecoprint Basic 2,5 meter, Bakal Ecoprint Basic 3 meter, dan lainnya. Harganya dari Rp135.000 hingga sampai Rp45.000 atau tergantung bahan dan tingkat kesulitan pembuatannya.
Nur Aisyah mengatakan, seluruh produk UMKM yang masuk etalase Bagas Silua merupakan yang terbaik (berkualitas). Sebagaimana batik Tapsel, disesuaikan dengan trand kekinian dan modern dengan bahan berkualitas seperti katun. Seluruh produk yang dipesan dari supplier (UMKM) juga tidak serta merta diterima dan di display di etalase Bagas Silua, tapi terlebih dahulu melalui prosedur quality control product dan administrasi lainnya.
"Bahkan untuk produk makanan, kita lakukan peninjauan langsung ke dapur UMKM nya. Termasuk kemasan dan pengemasan harus dibuat sendiri dan tidak boleh dibeli dari luar serta dikemas di Batangtoru,” tutur Nur Aisyah dalam bincang-bincangnya dengan medanmerdeka.com di Bagas Silua.
Potensi Bersinar
Bagi masyarakat Batangtoru, Bagas Silua kini bukan lagi sekadar etalase produk, tapi sudah sebagai simbol kebangkitan serta bukti bahwa dengan kolaborasi dan kepercayaan, potensi lokal bisa bersinar. Sebagaimana testimoni beberapa konsumen Bagas Silua yang tidak menyangka kalau ada produk lokal berkualitas dengan harga terjangkau di Bagas Silua.
Hardi Situmorang, HSC Manager Macmahon Head Office (HO) misalnya. Hardi yang sedang bertugas di Tambang Emas Martabe, merasa terkejut dengan khasiat salah satu produk minuman rempah yang ada di Bagas Silua, yakni RJ Akar Rimpang Jahe. Dia mengaku, minuman rempah tersebut sangat bagus buat kesehatan. Bahkan dia sampai merekomendasikannya untuk dikonsumsi masyarakat.
“Kemarin, saya sempat mengalami radang tenggorokan disertai batuk, namun setelah mengkonsumsi minuman rempah RJ Akar Rimpang sebelum tidur, batuk saya seketika reda dan tidur pun nyenyak. Minuman MJ Akar Rimpang ini benar-benar sangat bagus dan rekomended. Saya bisa bilang ini, karena sudah saya buktikan. Pertama kali, langsung cocok,” tutur Hardi memuji salah satu produk UMKM Batangtoru tersebut.
Berdampak Positif
Sementara, bagi para pelaku UMKM sangat merasakan dampak sosial dari keberadaan Bagas Silua. Ekonomi rumah tangga mereka meningkat drastis, bahkan sampai bisa membuka lapangan kerja baru. Sebagaimana dirasakan Mariani (31), salah seorang pelaku UMKM Batangtoru.
“Penghasilan saya sekarang meningkat signifikan dan tidak mengharap gaji suami lagi. Semoga Bagas Silua bisa eksis terus,” ucap Mariani, sembari menyampaikan apresiasinya yang besar kepada PTAR karena telah merangkul usaha rumahannya sebagai salah satu binaan, sehingga produk ‘Pangsit Semangka atau Kue Bawang dari Semangka” kreasinya berhasil masuk ke dalam salah satu daftar pemasaran di etalase Bagas Silua.
Sebelum mendapatkan pelatihan dan pembinaan dari PTAR serta pemasaran lewat etalase Bagas Silua, produk "Pangsit Semangka atau Kue Bawang dari Semangka” Mariani sama sekali tidak berkembang dan cenderung tidak menunjukkan hasil. Pesanan terbesar Mariani cuma datang pada saat-saat tertentu, ketika menjelang lebaran dan tahun baru. Sehingga, ekonomi rumah tangga Mariani bersama suaminya Eko Cahyanto yang bekerja sebagai buruh stagnan.
“Tapi kini, pesanan dari Bagas Silua bisa datang 2-3 kali dalam sebulan. Belum lagi terkadang ada pesanan khusus dari luar. Sebagaimana saya pernah kirim ke Binjai dan Padang,” beber Mariani.
Kendala Mariani kini cuma satu. Dia belum memiliki dapur produksi seperti beberapa rekannya sesama pengelola UMKM rumahan yang telah memiliki dapur produksi sendiri. Dapur produksi yang digunakan Mariani masih menumpang di dapur rumah pribadinya. Terlebih Mariani juga dalam waktu dekat akan meluncurkan produk barunya “Pangsit Naga atau Kue Bawang Naga”. “Inilah kendala saya kini, walau secara prinsip sebenarnya tidak ada,” tukasnya.
![]() |
| Salah satu tas produk UMKM Batangtoru dan Muara Batangtoru di etalase Bagas Silua.(foto:mm/ist) |
Tantangan Pabrikasi
Keberadaan Bagas Silua dan rencana ekspansi pemasarannya ke skala yang lebih besar, mendapat dukungan dan apresiasi positif dari Kepala Bidang (Kabid) Koperasi dan Usaha Kecil Mikro (UKM) Dinas Perdagangan dan Koperasi UKM Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapsel, Ahmad Gozali Harahap. Namun, dia melihat ada salah satu tantangan besar dalam mewujudkan hal itu.
Pabrikasi, kata dia, menjadi salah satu tantangan bagi para pelaku UMKM, tidak terkecuali para pelaku UMKM yang ada di Batangtoru dan Muara Batangtoru. Para pelaku UMKM masih cenderung memproduksi produk secara manual, sehingga produk yang dihasilkan terbatas.
“Tanpa pabrikasi, tentu harga akan lebih tinggi dan akan sulit bersaing dari produk sejenis yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan besar. Tapi demikian, berjalan saja terus, jangan sampai menyerah. Mudah-mudahan hal itu bisa terwujud nantinya” tukas Gozali ketika dihubungi medanmerdeka.com lewat selularnya.
Gozali atas nama Pemkab Tapsel melalui bidangnya, mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk itu. Selain cuma bisa membantu lewat promosi, Gozali juga lewat bidangnya cuma bisa memberikan inspirasi dan mendorong pengelola Bagas Silua untuk terus memperkuat promosi dan kemitraan, terutama memperkuat inovasi dan kreasi terhadap produk-produk para pelaku UMKM untuk bisa menarik pemodal besar dalam memproduksi permintaan pasar. Atau setidaknya para pelaku UMKM dapat memanfaatkan jasa perbankan untuk meningkatkan usaha produksi.
"Itu saja yang bisa kita lakukan. Sebagaimana sebelumnya, kita membantu mempromosikan produk-produk UMKM Batangtoru dan Muara Batangtoru lewat even-even, seperti MTQ, HUT Tapsel, Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), Jakarta Fair, dan F1 Powerboat di Balige. Bahkan kita juga memfasilitasinya lewat toko oleh-oleh Pemkab Tapsel di Bandara Silangit ketika masih buka. Termasuk baru-baru ini pada kegiatan Penang Fair di Malaysia," sebut Gozali.
Gozali yang saat dihubungi mengaku sedang berada di Medan sehingga kurang mengetahui seberapa banyak dan seberapa besar pertumbuhan UMKM di Batangtoru dan Muara Batangtoru dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak keterlibatan PTAR, secara prinsip menyampaikan apresiasi dan support besar kepada PTAR atas pembinaan dan pelatihan yang dilakukan terhadap para pelaku UMKM di Batangtoru dan Muara Batangtoru selama ini. Terutama atas keberhasilan PTAR mendirikan Bagas Silua sebagai sarana peningkatan perekonomian para pelaku UMKM dan masyarakat Batangtoru dan Muara Batangtoru.
"Kita benar-benar sangat mengapresiasi dan mensupport PTAR. Program pembinaan dan pelatihannya tidak bisa kita pungkiri berhasil menumbuhkan UMKM-UMKM baru dan wirausaha-wirausaha muda di Batangtoru serta terserapnya tenaga kerja. Begitu juga dengan pendirian Bagas Silua yang tidak sekedar tempat penjualan, tapi di tempat itu juga pernah dilakukan pelatihan kepada pemuda Batangtoru untuk mendapatkan keahlian, seperti menjadi Barista,” pungkas Gozali.
Sementara itu, keberadaan Bagas Silua cukup mengundang perhatian Anggota Fraksi Golkar DPRD Tapsel, M Rawi. Rawi berencana mendatangi Bagas Silua untuk mengetahui secara dekat bagaimana pihaknya bisa mendorong Bagas Silua berkembang ke depannya.
“Selama ini, kita dari DPRD selalu mendorong kalau ada kelompok-kelompok usaha yang ingin maju. Oleh karena itu, keberadaan Bagas Silua tersebut tentunya sangat positif karena tujuannya untuk mendukung kemajuan UMKM dan ekonomi daerah,” tutur Rawi, yang juga mengapresiasi PTAR karena telah mendirikan Bagas Silua dan upaya-upaya pembinaan yang diberikan kepada UMKM-UMKM di Batangtoru dan Muara Batangtoru. (Jhonny WP Simatupang, SP)





