![]() |
| Salah satu bangunan Sekolah rusak dihantam banjir bandang beberapa waktu lalu di Tapsel. (foto:mm/subanta) |
Pantauan di lapangan menunjukkan, sejumlah bangunan sekolah mengalami kerusakan berat hingga belum dapat difungsikan. SD Negeri 100714 Garoga rusak parah dan tertimbun material longsor berupa pasir, batu, dan kayu. Sementara SD Negeri 100207 Lobu Uhom mengalami kerusakan akibat longsor, dan SD Negeri 101305 Bandar Tarutung hingga kini masih terendam banjir.
Di SD Negeri Garoga, bangunan sekolah hanya menyisakan satu dinding yang masih berdiri. Kondisi serupa juga dialami SD Negeri Huta Godang, yang hingga kini belum sepenuhnya bersih dari sisa material banjir sehingga belum layak digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar.
Akibatnya, sebanyak 111 siswa SD Negeri Garoga dari total 127 siswa serta 97 siswa SD Negeri Huta Godang terpaksa menumpang belajar di SD Batu Hula dengan sistem pergantian shift.
Sementara itu, SD Negeri Bandar Tarutung di Kecamatan Angkola Sangkunur masih terendam air sejak banjir yang terjadi pada 25 November 2025. Di lokasi terlihat pagar beton sekolah jebol, sementara seluruh bangunan sekolah terkurung air setinggi lutut orang dewasa. Kondisi tersebut memaksa siswa mengikuti kegiatan belajar di tenda darurat.
Sebanyak dua unit tenda putih berukuran besar yang dibangun Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) digunakan sebagai ruang belajar sementara untuk menampung 197 siswa SD Negeri Bandar Tarutung.
Salah seorang warga Kampung Malako, Desa Bandar Tarutung, Nuraini Simbolong (32), mengungkapkan bahwa anaknya harus kembali bersekolah di tenda darurat setelah libur semester.
“Baru kali ini air lama surut. Padahal sekolah ini memang sering kebanjiran, tapi biasanya satu atau dua hari sudah surut,” ujarnya.
Berdasarkan data Dapodik dan BOS Kemendikdasmen, jumlah siswa terdampak bencana di wilayah tersebut mencapai ratusan, yakni 197 siswa SDN Bandar Tarutung, 127 siswa SDN Lobu Uhom, 50 siswa SDN Tandihat, 122 siswa SDN Garoga, dan 191 siswa SDN Huta Godang.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pendidikan Tapanuli Selatan, Yanti Pakpahan, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi terkait rencana rehabilitasi maupun kemungkinan relokasi sekolah-sekolah terdampak bencana tersebut. Konfirmasi dilakukan melalui pesan WhatsApp.(subanta)


