Di ruang Hemodialisis salah satu rumah sakit di kota Medan, suara mesin cuci darah berdengung pelan mengiringi aktivitas puluhan pasien yang menjalani terapi rutin. Di antara mereka, Marana beru Ginting (68) tampak terbaring tenang. Di samping tempat tidurnya, sang suami, Gembira Kaban setia menunggu. Selama dua tahun terakhir, hampir tak ada jadwal cuci darah yang ia lewatkan. Bagi mereka, perjalanan berobat bukan sekadar rutinitas medis, melainkan perjuangan mempertahankan harapan hidup.
Marana berasal dari Desa Perbesi, Kabupaten Karo, Sumut. Penyakit ginjal kronis yang dipicu hipertensi mulai terdiagnosis pada 2024 lalu setelah sempat menjalani pengobatan di beberapa rumah sakit sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit tipe A di kota Medan. Sejak saat itu, hidupnya berubah. Aktivitas bertani jagung yang dulu menjadi bagian dari keseharian harus berhenti karena kondisi fisik yang terus menurun.
![]() |
| Petugas rekam medis melakukan foto wajah pasien sebagai salah satu syarat pendaftaran pasien BPJS saat registerasi sebelum mendapatkan pelayanan medis. |
![]() |
| Marana Br Ginting dengan didampingi suaminya saat keluar dari ruang Pelayanan Informasi dan Penanganan Pengaduan Pasien BPJS Kesehatan. |
Beban terbesar berikutnya bukan hanya soal penyakit, tetapi juga biaya. Sebagai keluarga petani, mereka menyadari kemampuan ekonomi yang terbatas. Menurut suaminya, tanpa Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), kemungkinan besar pengobatan tidak dapat dilanjutkan karena biaya pelayanan kesehatan dan obat-obatan akan jauh melampaui kemampuan keluarga. “Mungkin jika tidak ada BPJS Kesehatan, kami tidak bisa berobat. Biaya cuci darah sangat mahal dan kami lakukan 2 kali dalam seminggu. Belum lagi harus menanggung berbagai kebutuhan selama tinggal di Medan, mulai dari biaya kos, makan kami, hingga biaya lainnya. Perkiraan sekitar lima juta rupiah setiap bulan. Ini sangat berat,” tuturnya.
![]() |
| Marana Br Ginting dan sejumlah pasien lainnya antre saat menunggu untuk mendapatkan pelayanan di salah satu rumah sakit di Medan. |
Setiap Selasa dan Jumat, mereka menempuh rutinitas yang sama. Dari tempat kos berjalan menuju rumah sakit dengan menggunakan kursi roda, naik ke ruang hemodialisis di lantai empat, lalu menunggu terapi selesai selama kurang lebih empat jam. Rutinitas ini menjadi bagian dari kehidupan Marana dan suaminya selama dua tahun terakhir.
![]() |
| layar digital mesin cuci darah disediakan untuk memantau proses cuci darah pasien di ruang hemodialisis. |
Di tengah perjalanan panjang cuci darah dilakukan, pelayanan tenaga kesehatan menjadi sumber kekuatan lain bagi pasutri ini. Sang suami mengaku merasakan pelayanan yang sangat baik dari dokter, perawat, maupun petugas rumah sakit. Baginya, keramahan dan perhatian luar biasa yang diberikan tenaga kesehatan membuat pasien merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar nomor antrean.
![]() |
| Sejumlah selang saluran darah tampak berada diantara tangan Marana Br Ginting saat dilaksanakannya proses cuci darah |
Namun, kekuatan terbesar Marana justru datang dari orang yang selalu duduk di sampingnya. Suaminya tidak hanya mengantarnya berobat. Ia juga menjadi teman berbincang, penyemangat, bahkan penghibur ketika rasa lelah dan pesimis mulai datang. Suaminya menjaga dan merawatnya setiap hari. Gembira memasak nasi bahkan memandikan dan merapikan rambuat istrinya pagi dan sore. Terkadang sang suami bercanda ringan saat memberi makan Marana Di sela-sela waktu kosong saat sore hari, ia kerap menyanyikan lagu-lagu daerah Karo. Sesekali ia memainkan harmonika ketika berada di rumah. Musik tradisional itu menjadi cara mereka melawan sunyi dan mengobati rasa rindu akan kampung halaman.
![]() |
| Gembira Kaban, suami dari Marana Br Ginting tertawa lepas saat berbincang dengan salah satu warga saat memberi makan istrinya di halaman kos tempat tinggal mereka. |
"Sekarang pun kau masih cantik sayangku,” ucapnya sambil mengenang bagaimana ia selalu berusaha membuat istrinya tersenyum. Kalimat sederhana itu disambut tawa kecil Marana, menjadi pengingat bahwa kasih sayang sering kali bekerja, sama pentingnya dengan obat-obatan.
![]() |
| Merapikan rambut istrinya dengan menggunakan sisir dilakukan Gembira Kaban kepada istrinya usai mandi setiap harinya. |
Saat sore datang dan matahari mulai turun, mereka tidak menghabiskan waktu di kamar kos. Sang suami memilih mengajak istrinya berjalan-jalan sejenak di sekitar kawasan kos mereka. Baginya, udara sore dan percakapan ringan adalah bagian dari proses penyembuhan yang tidak tertulis dalam resep dokter.










