![]() |
| Bupati Mandailing Natal (Madina) H. Saipullah Nasution. (foto/ist) |
Dalam kesempatan tersebut, Saipullah Nasution mengingatkan mahasiswa baru bahwa PBAK bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan pintu masuk menuju perjalanan kehidupan yang akan membentuk kapasitas, karakter, idealisme dan masa depan mahasiswa.
Dikatakannya, mahasiswa tidak hanya mengejar pekerjaan setelah lulus, tetapi mulai memikirkan perubahan dan kontribusi yang dapat diberikan kepada masyarakat setelah memperoleh ilmu di perguruan tinggi.
Selain itu, ia juga mendorong mahasiswa memiliki kemampuan berpikir kritis dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang beredar di media sosial.
“Jangan mudah percaya hanya karena sesuatu viral. Jangan menganggap sesuatu benar hanya karena banyak yang membagikannya,” kata Saipullah.
Menurutnya, mahasiswa harus mampu membedakan informasi dan pengetahuan, opini dan fakta, serta popularitas dan kebenaran.
Hal ini semakin penting di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kini telah masuk ke berbagai bidang, termasuk pendidikan.
Saipullah menegaskan AI harus digunakan sebagai alat untuk membantu manusia berpikir, bukan menggantikan proses berpikir manusia. “Gunakan AI untuk membantu Anda berpikir. Jangan gunakan AI untuk berhenti berpikir,” katanya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak kehilangan karakter dan akhlak di tengah kemajuan teknologi.
Menurut Saipullah, mesin dapat menghasilkan informasi dengan cepat, tetapi manusia memiliki nurani, nilai dan tanggung jawab moral.
Karena itu, ia meminta mahasiswa menggunakan teknologi secara maksimal, namun tetap menempatkan akhlak dan integritas sebagai landasan utama.
Lebih lanjut Saipullah menyampaikan, bahwa integritas merupakan modal penting untuk mencapai keberhasilan. Integritas, menurutnya, bukan hanya soal kejujuran, tetapi juga konsistensi antara ucapan, hati nurani dan tindakan.
Ia berharap mahasiswa STAIN Madina tumbuh menjadi generasi yang tangguh, mandiri, berintegritas dan tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan.
Sementara itu, Ketua STAIN Madina Marasamin mengatakan pihak kampus juga tengah mendorong terciptanya budaya akademik yang lebih aktif, kritis dan terbuka. Salah satunya melalui pembentukan study club di setiap program studi.
Ke depan, setiap program studi diharapkan memiliki sedikitnya empat kelompok study club sebagai ruang mahasiswa berdiskusi dan mengembangkan kemampuan diri.
“Harapannya, ketika keluar dari sini, alumni kita sudah bisa bersaing. Mereka sudah terbiasa berdebat di dalam kampus dan terbiasa menghadirkan ide-ide,” sebutnya.
STAIN Madina, kata Marasamin, juga akan mendorong keterlibatan narasumber dari luar kampus dalam membahas berbagai isu yang relevan dengan mahasiswa dan masyarakat.
Marasamin menegaskan mahasiswa tidak diharapkan hanya menjadi generasi yang menurut tanpa berpikir, tetapi harus berani kritis dan mampu menawarkan solusi. "Jika ada yang tidak tepat, berikan solusi kepada kami,” ujarnya.(fadli)


