Calon Rais Aam dan Ketum PBNU Harus Berani Tolak NU Jadi 'Sapi Perah'

Sebarkan:
Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus dzuriyah Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, KH Syaifuddin. (foto/ist)
JOMBANG — Aktivis Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus dzuriyah Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, KH Syaifuddin menyebut bahwa calon pemimpin NU harus memiliki integritas, rekam jejak, dan pemberani. 

KH Syaifuddin menilai terdapat sejumlah persyaratan penting yang harus dimiliki oleh calon pemimpin. Pertama adalah integritas dan rekam jejak. Menurut dia, seluruh calon pemimpin harus diuji secara terbuka berdasarkan integritas, rekam jejak, serta pengalaman kepemimpinannya, baik di lingkungan NU maupun di luar NU.

“Dari sekian calon yang ada, kita harus benar-benar mempelajari integritas dan rekam jejaknya, termasuk pengalaman selama memimpin, baik di organisasi NU maupun di luar NU. Semuanya harus transparan,” ujarnya dalam Forum Mimbar Muktamar NU di Aula Dirosah Al-Amin Ponpes Al-Maliki 2 Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. 

Kedua, calon pemimpin harus memiliki kecerdasan dan kemampuan profesional dalam mengelola organisasi. Ketua PBNU, kata dia, tidak cukup hanya memiliki popularitas atau dukungan politik, tetapi harus mempunyai kemampuan nyata untuk menggerakkan organisasi.

“Kalau dia menjadi ketua, jangan sampai tidak mempunyai kemampuan organisasi untuk menggerakkan organisasi ini. Kalau itu tidak ada, akhirnya organisasi tidak mempunyai dampak apa-apa,” katanya.

Ketiga adalah keberanian. KH Syaifuddin mencontohkan keberanian KH Abdul Wahab Hasbullah atau Mbah Wahab dalam mengambil keputusan strategis bagi NU.

Ia mengingatkan bahwa Mbah Wahab berani mengambil keputusan meskipun menghadapi risiko dan perbedaan pandangan dari tokoh-tokoh NU pada masa itu.

Menurut KH Syaifuddin, keberanian seperti yang dimiliki Mbah Wahab sangat dibutuhkan NU saat ini, terutama ketika organisasi menghadapi situasi yang berpotensi menjadikan NU hanya sebagai objek kepentingan tertentu.

“Kalau pemimpin yang akan datang harus menyikapi situasi ketika NU hanya dijadikan sapi perah, hanya dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, maka diperlukan keberanian seperti yang ditunjukkan Mbah Wahab,” tegasnya.

Syarat keempat, lanjut KH Syaifuddin, adalah visi yang jelas dan konkret. Ia mengaku belum melihat visi besar yang ditawarkan oleh para calon pemimpin NU yang saat ini muncul.

“Bayangkan, kalau mau memimpin NU selama lima tahun tetapi tidak tahu visinya, itu seperti kita mau pergi ke Surabaya tetapi tidak tahu jalan dan arahnya. Akhirnya kita akan berputar-putar dan tidak pernah sampai,” ujarnya.

Ia melihat sebagian calon lebih banyak melakukan penggalangan dukungan, sementara gagasan mengenai arah NU selama lima tahun ke depan belum disampaikan secara terbuka kepada publik.

Syarat berikutnya adalah integritas moral. KH Syaifuddin berharap NU memiliki pemimpin yang berani menjaga marwah organisasi dan menolak praktik-praktik yang tidak semestinya dalam proses pemilihan kepemimpinan.

“Saya berharap muncul pemimpin yang benar-benar punya integritas dan mampu menjaga moral. Pemimpin yang berani menolak praktik-praktik yang tidak semestinya terjadi,” katanya. (tan)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com