Catatan : Choking Susilo Sakeh
SEIRING waktu berjalan, para warga Kota Medan semakin faham bahwa Rico Wa’as ternyata adalah Walikota Medan yang tak punya nyali dan kapasitas sama sekali. Coba lihat, misalnya, dimana posisi Rico Wa’as terhadap dua proyek yang sedang berlangsung di Kota Medan : BRT (Bus Rapit Transit) Mebidang (Medan, Binjai dan Deliserdang) bernilai Rp 1,9 triliun dukungan World Bank, serta pembangunan pabrik PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik) di Kelurahan Terjun, Medan Marelan.
Atau, misalnya juga, coba lihat dimana posisi Rico Wa’as saat bencana angin puting beliung menerjang Kelurahan Sukamaju dan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor pada Selasa malam (18/8/2026), yang merusak sekitar 150 bangunan rumah warga maupun fasilitas umum.
Prihal BRT dan PSEL, bahwa benar proyek ini digagas oleh Bobby Nasution saat sebagai Walikota Medan. Namun, realisasinya baru dimulai di era kepemimpinan Rico Wa’as sebagai Walikota Medan. Untuk proyek BRT ini, Gubsu Bobby Nasution baru saja meresmikan uji coba operasional bus BRT Mebidang, di Terminal Lubuk Pakam (Rabu, 19/8-2026), tanpa dihadiri oleh Walikota Medan Rico Wa’as. Sedangkan Proyek PSEL, Gubsu Bobby Nasution juga baru menandatangani MoU percepatan pembangunan PSEL bersama Danantara, di Jakarta (Senin, 11/5-2026).
Suka atau tidak, di kedua proyek yang digadang-gadang sebagai upaya mewujudkan Medan sebagai kota modern itu, peran Rico Wa’as tak lebih bagaikan utusan khusus Gubsu Bobby Nasution untuk urusan Kota Medan, yang tugas pokoknya antara lain cumalah sebatas sebagai ‘juru bicara’ saja.
Begitu pula kalau kita bicara tentang berbagai proyek fisik yang dibangun di era Bobby Nasution, dan sampai kini proyek tersebut tak jelas penyelesaiannya. Semua proyek yang telah menghabiskan duit rakyat ratusan miliar tersebut, terkesan mangkrak dan tetap amburadul. Padahal, sudah lebih 17 bulan jabatan Walikota Medan sudah berganti dari Bobby Nasution kepada Rico Wa'as.
Berbagai proyek amburadul itu diantaranya adalah Revitalisasi Lapangan Merdeka, Revitalisasi Lapangan Kebon Bunga, Revitalisasi Stadion Teladan, Pembangunan Gedung UMKM Jln Dr Mansyur, Pembangunan Islamic Center Marelan, Kolam Retensi, Floodway Asam Kumbang, Penataan Kawasan Kesawan termasuk Revitalisasi Gedung Warenhuis, serta beberapa lainnya.
Beberapa diantaranya telah diresmikan meski pengerjaannya masih belum tuntas dan masih bermasalah. Misalnya Lapangan Merdeka Medan. Basement lantai 1 dan 2, praktis tidak bisa dipergunakan bahkan kondisinya semakin berantakan. Begitu pula jogging track yang dibangun mengelilingi bagian dalam lapangan, kualitasnya sangat sembrono.
Hal sama juga terjadi pada Stadion Teladan Medan. Meski sudah diresmikan, namun masih belum layak dipergunakan karena beberapa bagian masih belum tuntas. Akan halnya Kebon Bunga, meski telah diresmikan dan dinyatakan siap, namun diragukan kualitas teknisnya pada beberapa bagian bangunannya.
Beberapa proyek lainnya, semakin tak jelas apakah telah bermanfaat atau tidak. Misalnya Kolam Retensi di Jalan dr Mansyur, juga Gedung Warenhuis Jalan Hindu. Sedangkan beberapa lainnya, tak jelas bagaimana kelak masa depannya. Yakni Gedung UMKM di Jalan dr Mansyur, juga Islamic Center di Marelan. Sedangkan satu proyek lainnya, Pembangunan Lampu Pocong, telah dinyatakan secara jelas sebagai proyek ghaib dari perbincangan warga Kota Medan.
Bagaimana kelak nasib berbagai proyek warisan Bobby Nasution ini, semestinya sudah harus mendapatkan kepastian dari Rico Wa’as. Namun, selama ini tak terlihat adanya nyali Rico Wa’as di dalam menyikapi penyelesaiannya. Rico Wa’as mestinya punya nyali untuk mengkaji keberadaan proyek-proyek tersebut, terutama dari aspek teknis dan anggaran, sebagai langkah lanjutan untuk bagaimana kelak proyek tersebut ke depannya.
Selama Rico Wa’as tidak punya nyali dan kapasitas untuk mengambil sikap, maka berbagai proyek-proyek itu akan tetap memberi andil besar di dalam membentuk wajah Kota Medan yang kini semakin berantakan : sekaligus membentuk wajah buruk kepemimpinan Rico Wa’as sebagai Walikota Medan!
Dan, prihal bencana puting beliung yang menerjang Kelurahan Sukamaju dan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor, pun bisa menjadi salah satu momen kita untuk secara lebih rinci mengukur nyali dan kapasitas Rico Wa’as sebagai Walikota Medan. Rico Wa’as kalah tanggap dibanding dengan Gubsu Bobby Nasution, terutama dari aspek ketepatan mengantisipasi apa kebutuhan yang paling mendesak bagi para korban bencana.
Terhadap kerusakan sekitar 150 bangunan rumah warga dan bangunan fasilitas umum seperti SD Negeri misalnya, Bobby Nasution tegas mengambil alih semua perbaikan rumah warga tersebut. Bobby Nasution menilai, bantuan sebelumnya dari pemerintahan setempat, terkesan malah menambah masalah bagi para korban. Misalnya, seorang korban membutuhkan 30 lembar seng dan 30 batang kayu, namun yang dibantu cuma 10 saja.
“Ini pelajaran bagi pemerintah, jangan nanggung-nanggung kalau mau bantu,” ujar Bobby Nasution saat meninjau ke lokasi bencana di Sukamaju (Jumat, 21/08-2026).
*
Menjadi Walikota Medan tanpa nyali dan kapasitas, seperti telah kusebutkan tadi, pada akhirnya memang telah membuat Rico Wa’as lebih mirip sebagai utusan khusus Gubsu Nasution untuk urusan Kota Medan. Bahkan, untuk tugas-tugas pokok lainnya sebagaimana lazimnya seorang Walikota Medan, yang terlihat sangat trampil dilakukan Rico Wa’as cumalah berpidato di saat menghadiri acara demi acara, cakap-cakap saat menerima audiensi, sedikit sok menggertak jajarannya di saat rapat-rapat internal. Atau kalaupun mengambil sebuah tindakan dan keputusan untuk kepentingan warga Medan, itu cumalah kebijakan berskala kecil dan remeh temeh.
Menjadi Walikota Medan tanpa nyali, terbukti telah membuat Rico Wa’as tak mampu menyelesaikan berbagai masalah yang ada pada proyek fisik peninggalan Bobby Nasution. Pun jika Rico Wa’as tetap saja sebagai Walikota Medan tanpa nyali, maka dipastikan Rico Wa’as akan tetap terus kesulitan menyelesaikan berbagai masalah yang sudah menahun terjadi di Medan. Diantaranya masalah banjir dan genangan air, sampah dan macet. Tentunya yang paling prinsip adalah tentang kebocoran pendapatan asli daerah, serta lemahnya pengawasan terhadap kinerja para jajarannya.
Aku sudah berulangkali menulis tentang keterbukaan dan heterogenitas Kota Medan, yang sudah terjadi sejak abad ke 11 lalu -- jika berangkat dari temuan situs Kotta Cinna di tepian Danau Siombak Marelan. Sejarah panjang keberagaman Kota Medan itu, sadar atau tidak, telah membentuk karakteristik khas Kota Medan, yakni “Pantang Tak Hebat”, yang pada gilirannya kini membentuk citra Medan sebagai “Kota Para Ketua”. Menjadi Walikota Medan tanpa nyali, hanya akan menjadikan sosok Walikota Medan tak lebih sebagai figur pelengkap administrasi pemerintahan belaka. Bukan sebagai pemimpin dan pengambil keputusan untuk kemashlahatan warga Kota Medan.
Bahwa sebagai Walikota Medan, Rico Wa’as pastilah punya mimpi-mimpi besar tentang bagaimana kelak Kota Medan saat dipimpinnya. Mimpi itu bisa berupa perubahan karakter dan mental jajarannya yang semakin lebih baik di dalam memberikan pelayanan, misalnya. Atau, bisa pula tentang obsesinya meninggalkan legacy satu atau dua bangunan fisik Kota Medan yang sesuai dengan imej Medan sebagai kota modern yang nyaman dan keren.
Namun, apapun mimpi Rico Wa’as, semuanya cumalah tetap menjadi angan-angan dan khayalan semata. Penyebabnya, sudah jelas dikarenakan Rico Wa’as adalah Walikota Medan tanpa nyali dan kapasitas sebagai pemimpin. Hingga kelak Rico Wa’as menyelesaikan masa bhaktinya pada 2030 nanti, maka kita para warga Medan tak usah berharap apapun terhadap kepemimpinan Rico Wa’as, meski kita adalah warga yang tetap taat pajak -- yang sebahagian diantaranya adalah untuk membayar gaji Rico Wa’as sebagai Walikota Medan.
Ya, ya : impian Rico Wa’as akan tetap sebagai angan-angan belaka!
Mangkanya…
----------------------------------
*Penulis adalah Jurnalis Utama; warga Kota Medan.


