AJO: SAPAAN YANG MEMANGGIL PULANG INGATAN

Sebarkan:

Oleh Abdullah Rasyid

SEMALAM saya kedatangan tamu di rumah. Mereka keluarga dari Sungai Limau, Piaman—Padang Pariaman. Keluarga inilah yang selama ini menjaga rumah gadang kami di kampung. Mereka bukan hanya merawat bangunan tua itu, tetapi juga menjaga jejak keluarga: tiang-tiang yang menyimpan cerita, halaman tempat anak kemenakan pernah bermain, serta ingatan tentang orang-orang yang telah lama pergi.

Kami berbincang dengan sangat akrab. Di sela percakapan, mereka memanggil saya dengan sebutan “Ajo”.

Ajo.

Sudah lama saya tidak mendengar panggilan itu. Hanya tiga huruf, tetapi daya panggilnya melampaui jarak dan waktu. Seketika saya seperti tidak lagi berada di rumah malam itu. Ingatan saya terbang menuju masa kecil di Medan—kepada suara ayah, keramaian baralek, wajah para ninik mamak, dan orang-orang Piaman yang membangun kampung-kampung kecil di tanah perantauan.

Bagi orang Pariaman, Ajo bukan sekadar kata ganti untuk menyapa laki-laki. Ia mengandung rasa hormat, kedekatan, sekaligus pengakuan terhadap hubungan sosial. Adik memanggil kakak laki-lakinya dengan Ajo. Istri dapat menyapa suaminya dengan panggilan serupa. Orang yang lebih muda menggunakannya untuk menghormati pria yang lebih tua atau dituakan.

Dalam satu kata itu bertemu kasih sayang keluarga dan kesantunan adat. Ajo terdengar akrab, tetapi tidak kehilangan hormat. Ia dekat tanpa menjadi lancang.

Salah satu riwayat lisan yang berkembang di tengah masyarakat menghubungkan Ajo dengan kata rajo, berarti raja atau orang yang dirajakan. Dalam dialek Piaman, beberapa bunyi mengalami pelunakan atau penghilangan. Kata rajo disebut mengalami perubahan pengucapan menjadi gajo, lalu melebur menjadi ajo. Gejala serupa dapat dijumpai pada kata karambia yang dalam percakapan sehari-hari kerap diucapkan menjadi kambia.

Bahasa daerah tentu tidak selalu lahir melalui satu jalan yang dapat dipastikan secara mutlak. Ia dibentuk oleh pergaulan, perpindahan penduduk, dan kebiasaan bertutur selama bergenerasi. Namun, hubungan antara Ajo dan rajo memberikan pesan budaya yang kuat: laki-laki yang dipanggil Ajo adalah orang yang dihargai dan ditempatkan secara terhormat dalam lingkungan keluarga.

Sapaan tersebut juga berkaitan dengan gelar kehormatan laki-laki Pariaman: Sidi, Bagindo, dan Sutan. Inilah salah satu kekhasan budaya pesisir Minangkabau. Suku dan harta pusaka tetap mengikuti garis ibu, sesuai sistem matrilineal. Akan tetapi, gelar tertentu pada laki-laki diwariskan melalui garis ayah.

Dalam sejumlah cerita sejarah dan tradisi lisan, gelar Sidi kerap dihubungkan dengan kalangan ulama atau penyebar Islam. Sebutan itu dipercaya memiliki hubungan dengan kata sayyidi, sebuah panggilan penghormatan dalam tradisi Islam. Gelar Bagindo sering dikaitkan dengan lingkungan bangsawan, pemimpin, atau keluarga yang pernah menjalankan fungsi pemerintahan di wilayah pesisir. Sementara Sutan dihubungkan dengan kata Sultan, pengaruh Pagaruyung, serta kelompok saudagar yang ikut menghidupkan jalur perdagangan di Pariaman.

Ada penjelasan lama yang menyandingkan Sidi dengan kaum agama, Bagindo dengan kelompok penguasa, dan Sutan dengan kaum saudagar. Namun, penyandingan itu jangan dibaca sebagai kasta yang kaku. Kehidupan sosial masyarakat Piaman lebih dinamis daripada kotak-kotak semacam itu. Kini, ketiga gelar tersebut lebih tepat dipahami sebagai identitas genealogis dan penghormatan adat, bukan ukuran tinggi-rendah martabat manusia.

Menantu laki-laki atau sumando biasanya disapa dengan gelarnya oleh keluarga istri. Penyebutan itu merupakan cara keluarga memuliakan orang yang telah masuk ke dalam lingkungan rumah gadang mereka. Gelar tidak semata-mata melekat pada nama. Ia membawa harapan agar pemiliknya menjaga sikap dan kehormatan keluarga.

Ketika tamu dari Sungai Limau memanggil saya Ajo, ingatan tentang ayah pun muncul begitu kuat.

Saya tumbuh di Medan, jauh dari kampung asal keluarga. Namun, seperti banyak orang Minangkabau di perantauan, kampung tidak pernah benar-benar hilang. Ia dibangun kembali melalui perkumpulan keluarga, surau, makanan, bahasa, dan acara adat. Jika ada keluarga sekampung mengadakan pesta perkawinan, ayah sering mengajak kami menghadiri baralek gadang.

Kami berangkat sekeluarga dengan kendaraan menuju tempat berkumpulnya komunitas Piaman. Kadang ke Lubuk Pakam di Deli Serdang, kadang ke Belawan, Kota Binjai, atau kawasan Kecamatan Medan Kota—termasuk lingkungan Kota Matsum. Jarak tidak menjadi soal. Baralek bukan sekadar menghadiri pesta, melainkan kesempatan untuk menyambung kembali tali persaudaraan yang mudah renggang karena kesibukan hidup di rantau.

Saya masih mengingat suasananya. Orang-orang datang membawa keluarga. Bahasa Piaman terdengar bersahutan. Aroma gulai memenuhi ruangan. Para ibu sibuk memastikan hidangan cukup, sementara para mamak membicarakan jalannya acara. Anak-anak berlarian tanpa memahami bahwa di hadapan mereka sedang berlangsung usaha merawat kebudayaan.

Dalam rangkaian baralek itu terdapat satu sesi yang paling melekat dalam ingatan saya: badoncek.

Badoncek adalah tradisi menghimpun sumbangan secara terbuka dan bergotong royong. Dana yang terkumpul digunakan untuk membantu menutupi biaya pesta sekaligus memberikan bekal kepada pasangan pengantin dalam memulai rumah tangga. Perkawinan tidak dibiarkan menjadi beban satu keluarga. Kaum kerabat dan masyarakat ikut menopangnya.

Dalam ingatan saya, ayah selalu memimpin badoncek. Ayah bergelar Bagindo. Ia duduk bersama seorang ninik mamak yang menjalankan peran seperti juru lelang. Nama-nama disebutkan, jumlah bantuan diumumkan, lalu suasana perlahan menghangat. Orang-orang saling menyemangati, kadang disertai gurauan yang membuat ruangan pecah oleh tawa.

Bagi seorang anak kecil, peristiwa itu mungkin tampak seperti perlombaan menyebut angka. Baru setelah dewasa saya memahami bahwa yang sedang “dilelang” bukanlah barang. Yang sedang dibangkitkan ialah kemurahan hati.

Badoncek pada hakikatnya bukan panggung untuk memamerkan kekayaan. Ia merupakan mekanisme gotong royong yang lahir dari kesadaran bahwa hidup di rantau tidak dapat dijalani sendirian. Hari ini kita membantu keluarga lain; pada waktu berbeda, keluarga kitalah yang mungkin memerlukan uluran tangan. Jumlah pemberian dapat berbeda, tetapi nilai keikutsertaan tidak semestinya dibedakan.

Jauh sebelum ilmu sosial memperkenalkan istilah modal sosial, masyarakat Piaman telah mempraktikkannya. Kepercayaan, jaringan kekeluargaan, rasa malu untuk membiarkan saudara menanggung beban sendirian, dan kegembiraan dalam membantu diubah menjadi kekuatan bersama. Badoncek adalah tabungan sosial yang disimpan bukan di bank, melainkan dalam ingatan dan hubungan antarmanusia.

Ayah memimpin badoncek bukan semata-mata karena gelar Bagindo yang disandangnya. Gelar itu justru mengandung tanggung jawab. Seseorang dihormati bukan untuk duduk lebih tinggi, melainkan agar bersedia berdiri lebih dahulu ketika keluarga membutuhkan. Di situlah kebangsawanan adat menemukan maknanya: bukan pada hak istimewa, tetapi pada kesediaan memikul kewajiban.

Malam semakin larut. Kami masih berbincang tentang kabar saudara-saudara di kampung, keadaan rumah gadang, dan kenangan terhadap berbagai acara adat Pariaman. Nama-nama lama kembali disebut. Beberapa telah meninggal, sebagian sudah menua, dan anak-anak yang dahulu bermain di halaman kini hidup tersebar di berbagai kota.

Saya lalu menyadari bahwa kebudayaan tidak selalu pulang melalui upacara besar. Kadang-kadang ia datang diam-diam melalui satu sapaan.

Panggilan Ajo malam itu mengembalikan saya kepada ayah, kepada perjalanan menuju Lubuk Pakam, Belawan, Binjai, dan Kota Matsum. Ia membawa kembali suara juru badoncek, gelak tawa keluarga sekampung, serta pelajaran bahwa adat hanya akan bertahan jika tetap hidup dalam hubungan manusia.

Zaman tentu berubah. Gelar Sidi, Bagindo, dan Sutan tidak boleh menjadi sekat sosial. Tradisi bajapuik tidak semestinya berubah menjadi transaksi yang memberatkan. Badoncek pun harus dijaga agar tetap menjadi gotong royong, bukan ajang mempertontonkan kemampuan ekonomi. Bentuknya boleh menyesuaikan zaman, tetapi jiwanya jangan sampai hilang.

Sebab, yang diwariskan oleh adat bukan hanya nama dan upacara. Adat mewariskan cara menghormati orang lain, memuliakan keluarga, serta menolong tanpa membiarkan saudara kehilangan harga diri.

Semalam mereka memanggil saya Ajo. Namun, yang saya dengar seolah-olah bukan hanya suara tamu dari Sungai Limau. Saya mendengar suara ayah. Saya mendengar panggilan kampung halaman.

Dan untuk sesaat, rumah gadang yang jauh di Piaman terasa berdiri begitu dekat—tepat di dalam rumah, di tengah percakapan kami.(*)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com