![]() |
| Antibully Jakarta Festival jadikan musik sebagai jembatan kesetaraan bagi anak berkebutuhan khusus dan anak tipikal. (Dok. Istimewa) |
Festival yang dimulai pukul 15.00 WIB tersebut menghadirkan 31 performer muda dari berbagai daerah dan latar belakang. Mereka tampil dalam satu panggung untuk berkarya, berinteraksi, saling mendukung, sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya menghargai perbedaan.
Antibully Jakarta Festival merupakan penyelenggaraan keempat sejak pertama kali digelar di Yogyakarta pada 2023. Festival ini tidak hanya berorientasi pada pertunjukan musik, tetapi juga berupaya menciptakan ruang pertemuan yang setara agar anak berkebutuhan khusus dan anak tipikal dapat berinteraksi secara langsung melalui musik dan karya.
Sebanyak 31 performer yang tampil berasal dari empat label, yakni Teman Hebat Records, Superkids Records, Hebat Records, dan Senada Digital Records. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa kesempatan untuk tampil dan berkarya tidak semestinya dibatasi oleh kondisi maupun perbedaan seseorang.
Salah satu founder PasarLagu, Lamhot Ivan Tobing, mengatakan festival tersebut lahir dari kesamaan visi dengan Teman Hebat Records untuk menghadirkan karya tanpa batas serta memberikan ruang yang setara bagi anak tipikal dan anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, festival juga menjadi ruang promosi yang melengkapi distribusi digital karya para musisi. “Dengan memberikan ruang yang setara antara anak tipikal dan anak berkebutuhan khusus,” ujar Lamhot.
Sementara itu, penggagas festival Yuly Twins mengatakan ide Antibully Festival berangkat dari keresahan terhadap masih adanya pandangan yang menilai anak berkebutuhan khusus dari keterbatasannya. Menurutnya, ketidaktahuan dan ketidakpahaman dapat menciptakan jarak yang kemudian berkembang menjadi stigma dan bullying.
Yuly menegaskan festival tersebut bukan panggung khusus untuk anak berkebutuhan khusus, melainkan ruang bersama bagi seluruh anak. Ia menilai setiap anak memiliki kemampuan, karakter, pengalaman, dan cara berekspresi yang berbeda sehingga tidak harus memiliki kemampuan yang sama untuk memperoleh kesempatan yang sama.
Pesan tersebut terlihat saat penyanyi berkebutuhan khusus asal Bandung, Kenneth Trevi, membawakan lagu “Aku Berbeda Aku Bisa”. Anak berkebutuhan khusus dan anak tipikal kemudian tampil bersama, bernyanyi dan mengekspresikan kegembiraan masing-masing. Bagi Yuly, momen tersebut menjadi gambaran bahwa inklusi bukan membuat semua orang menjadi sama, melainkan menciptakan ruang agar setiap orang dapat menjadi dirinya sendiri dan tetap merasa diterima.
Penggagas Antibully Festival lainnya, Rulli Aryanto, menilai musik merupakan medium efektif untuk menyampaikan pesan antiperundungan karena dapat diterima berbagai kelompok dan usia tanpa terkesan menggurui. Ia berharap industri musik semakin membuka kesempatan bagi talenta dengan beragam latar belakang untuk memperkenalkan karya dan mengembangkan potensi mereka.
Antibully Jakarta Festival 2026 pada akhirnya membawa pesan bahwa musik dapat menjadi medium untuk mengikis stigma, membangun keberanian, dan memperluas ruang pertemanan. Festival ini akan kembali hadir di kota-kota lain dengan harapan masyarakat semakin terbiasa menerima perbedaan, bahkan tanpa harus menunggu adanya panggung Antibully Festival.(Muhammad Fadhli)


