Catatan : Choking Susilo Sakeh
SEPENDAPAT atau tidak, beberapa warga Medan menilai, bahwa carut-marutnya pelayanan Disdukcapil Medan kepada warga Medan yang akan mengurus identitas kependudukan, mencerminkan bagaimana carut-marutnya kepemimpinan Rico Wa’as di dalam memimpin Kota Medan. (“Carut-marut Wajah Birokrasi Kota Medan di bawah Kendali Walikota Rico Wa’as, Tercermin dari Pelayanan di Dinas Dukcapil”, lintas10.com, 4 Sept.2026). Lho, kok?
Menurut warga, lamban dan berbelit-belitnya pelayanan pengurusan dokumen kependudukan di Disdukcapil Medan tersebut, membuktikan tak adanya upaya untuk berbenah agar bisa semakin membaik. Padahal, kantor Disdukcapil Medan menjadi satu-satunya kantor pelayanan yang sering dikunjungi Walikota Medan Rico Wa’as.
Jika diamati selintas, semisal kita melintas di depan kantor Disdukcapil Medan di Jalan Iskandar Muda tersebut, tampilan luar kantor Disdukcapil Medan ini saja sudah mengundang kesan tentang kondisi carut-marut tersebut. Kalau kemudian kita berkenan masuk ke dalam ruangan kantor tersebut, semisal mengamati bagaimana hiruk pikuknya atau sedikit lebih usil mendengar omelan para warga yang mengurus berbagai kepentingan kependudukan di dalam ruangan kantor tersebut, kondisi carut-marut itu pun semakin terasa.
Maka, tak salahlah jika kemudian ada warga yang melampiaskan kekesalannya dengan menilai, bahwa carut-marutnya pelayanan di kantor Disdukcapil Medan tersebut adalah cerminan tentang bagaimana carut-marutnya kepemimpinan Rico Wa’as di dalam mengelola Kota Medan.
Warga yang telah jungkir balik melaksanakan kewajibannya untuk membayar berbagai pajak dan retribusi agar Pemerintahan Kota Medan bisa berjalan dengan baik, ternyata merasa kesulitan ketika berupaya mengurus haknya untuk mendapatkan dokumen identitasnya sebagai warga negara.
Penilaian semacam ini bisa saja salah, meski tak tertutup kemungkinan ada pula benarnya. Aku bahkan ingin menambahkan, bahwa lemahnya kualitas kepemimpinan Rico Wa’as juga bisa dibaca dari beberapa temuan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan).
Misalnya tentang dana jaminan pengelola parkir fihak ketiga di Dishub -- termasuk juga tentang kondisi parkir di lapangan; tentang pengelolaan Barang Milik Daerah (BMD) di Disdikbud; juga pengelolaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) di Bapenda.
Hal lainnya, termasuk tentang penangkapan beberapa Kepling yang merangkap sebagai pengedar narkoba, pengelolaan car free day yang semakin semrawut dan meyingkirkan pedagang UMKM, serta beberapa hal lainnya.
Dan sayangnya, kesemua carut-marut itu tidak berwujud dalam bentuk omon-omon!
*
Aku sudah beberapa kali menulis tentang lemahnya kepemimpinan Rico Wa’as sebagai Walikota Medan. Terutama di dalam mengendalikan jajarannya, baik di level pejabat eselon dua hingga ke level paling bawah di tingkat kelurahan maupun lingkungan.
Banjir besar yang melanda 19 wilayah kecamatan di Kota Medan pada 27 November 2025 lalu misalnya, menjadi contoh buruk dan lemahnya kepemimpinan Rico Wa’as di dalam mengendalikan jajarannya. Sampai tiga hari setelah terjadinya banjir, tak terlihat adanya kordinasi antar jajaran Pemko Medan di dalam membantu warga yang menjadi korban banjir.
Dan hingga kini, memasuki bulan ke-18 kepemimpinan Rico Wa’as sebagai Walikota Medan, kitapun semakin banyak menemukan contoh tentang lemahnya aspek kepemimpinan seorang Rico Wa’as.
Ketika Sekda Medan dijabat oleh Wirya Alrahman, seorang birokrat senior, banyak yang beranggapan bahwa kepemimpinan Rico Wa’as sebagai Walikota Medan lebih ‘dikendalikan’ oleh Wirya, meski anggapan tersebut tak pernah dibuktikan. Dan setelah Wirya pensiun pada 3i Juli 2026, lalu digantikan oleh Erfin Fahrurrazy (konon teman sekolah Rico Wa’as) sebagai Pj Sekda pada 10 Agustus 2026, tetap saja tak berdampak positif pada aspek kepemimpinan Rico Wa’as.
Bahwa sesungguhnya kualitas kepemimpinan seseorang tidak serta merta merupakan bawaan sejak lahir. Kepemimpinan lebih berupa ketrampilan, dan berpeluang menjadi semakin berkualitas dikarenakan adanya kemauan yang kuat untuk terus berlatih dan belajar. Terkhusus, belajar untuk mendengarkan orang lain, serta belajar mengenali diri sendiri.
Untuk bisa memiliki kepemimpinan yang ideal, tentunya seorang pemimpin mesti punya sikap rendah hati. Selain itu, tentulah memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosial. Juga bersikap tegas dan konsisten.
Gambaran carut-marutnya suasana dan pelayanan di kantor Disdukcapil Medan tersebut, wajar saja jika mengundang tanya tentang seperti apa sesungguhnya kepemimpinan yang dimiliki Rico Wa’as sebagai Walikota Medan. Sebab, kantor Disdukcapil Medan ini sudah dua kali dikunjungi oleh Rico Wa’as, yakni pada 10 Maret dan 23 September 2025. Semestinya, dua kali kunjungan tersebut sangat potensial untuk merubah carut-marutnya suasana dan pelayanan di kantor tersebut.
Namun fakta berbicara lain. Tak ada perubahan suasana maupun kualitas pelayanan Disdukcapil terhadap warga Medan. Selintas bisa dimaknakan, bahwa dua kali kehadiran Rico Wa’as ke kantor Disdukdapil Medan memang ‘tak dianggap’ sama sekali.
Hal sama juga bisa dilekatkan dengan berbagai temuan BPK terhadap kinerja pengelolaan keuangan dan asset di Pemko Medan. Dan kenapa keberadaan Rico Wa’as bisa tak dianggap oleh jajarannya, jangan-jangan, itu memang lebih dikarenakan carut-marutnya kepemimpinan Rico Wa’as sebagai Walikota Medan.
Mangkanya…
-----------------------
*Choking Susilo Sakeh adalah Jurnalis; warga Medan.


