![]() |
| Yati bersama suaminya menggali tanah memanen Laos di areal pertanian. (foto/ist) |
DARI lahan sederhana di Desa Sumber Rejo, Kecamatan Datuk Limapuluh, Kabupaten Batu Bara, pasangan suami istri Minan Sirait (60) dan Rusiati (57) atau akrab disapa Yati, menggantungkan kehidupan keluarga dari tanaman rempah yang selama ini kerap dianggap biasa: laos atau lengkuas.
Selama hampir satu dekade, pasutri yang dikaruniai lima anak, terdiri dari empat laki-laki dan satu perempuan, itu menekuni budidaya sekaligus perdagangan laos. Dari usaha tersebut, mereka rata-rata menghasilkan sekitar dua ton laos dengan omzet sekitar Rp6 juta per bulan.
Bagi Yati, usaha tersebut bukan sekadar sumber penghasilan. Hasil dari berjualan laos dan berbagai rempah menjadi penopang ekonomi keluarga, termasuk membantu membiayai pendidikan kelima anaknya. Bahkan, sebagian anaknya telah menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi.
"Alhamdulillah, usaha laos ini menjadi berkah bagi keluarga. Anak-anak bisa sekolah sampai tamat, bahkan ada yang sudah sarjana," ujar Yati.
Selain membudidayakan dan menjual laos, Yati juga membeli hasil tanaman rempah dari warga sekitar untuk kembali dipasarkan. Menurutnya, permintaan terhadap laos dan bumbu dapur cukup tinggi, terutama dari para pedagang di kawasan Tanjung Tiram.
Namun, tingginya permintaan belum diimbangi dengan ketersediaan hasil panen dari masyarakat. Bahkan, menurut Yati, setiap bulan dirinya masih mengalami kekurangan pasokan karena banyak pedagang yang datang mencari laos.
Yati menilai kondisi tersebut menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat jika lahan pekarangan yang tersedia dimanfaatkan untuk tanaman produktif, seperti laos dan serai.
"Walaupun lahannya sedikit, kalau ditanami tanaman yang dibutuhkan sehari-hari tentu bisa bermanfaat. Tanaman seperti laos dan serai juga tidak akan terlantar karena selalu dibutuhkan untuk keperluan dapur," katanya.
Tak hanya pasar lokal, Yati menyebut laos juga memiliki peluang untuk dipasarkan ke Malaysia. Menurut dia, harga laos kering untuk pasar tersebut dapat mencapai sekitar Rp60 ribu per kilogram, meski kualitas dan kondisi produk menjadi salah satu persyaratan.
Karena itu, Yati bersama suaminya membuka peluang bagi masyarakat yang ingin membudidayakan laos dan serai. Mereka siap membeli hasil panen warga dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan pasar.
"Kami siap membeli kalau masyarakat mau menanam. Setiap bulan sebenarnya kami masih kekurangan bahan untuk memenuhi kebutuhan pedagang," ujarnya.
Di tengah kesibukannya mengelola usaha, Yati juga aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Ia dipercaya sebagai bilal, Sekretaris PKK, serta terlibat sebagai Polmas di Desa Sumber Rejo.
Selain membantu perekonomian keluarga, hasil usaha laos tersebut juga digunakan Yati untuk mendukung kegiatan pendidikan keagamaan. Selama sekitar lima tahun, ia turut mengelola Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) di desa tersebut.
Dari hasil usaha rempah yang dijalankannya bersama sang suami, Yati juga dapat membantu membayar honor empat guru yang mengajar di MDTA tersebut setiap bulan.
Bagi Yati, pengalaman hampir satu dekade menekuni usaha laos menjadi bukti bahwa tanaman sederhana di sekitar rumah dapat memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan serius.
Ia berharap masyarakat Desa Sumber Rejo tidak lagi memandang sebelah mata lahan pekarangan. Menurutnya, lahan yang tersedia bisa menjadi sumber penghasilan tambahan sekaligus memenuhi kebutuhan pasar yang hingga kini masih terbuka.
"Jangan biarkan lahan kosong. Sedikit pun kalau dimanfaatkan untuk tanaman yang dibutuhkan masyarakat, insyaallah ada hasilnya," pungkas Yati.(zein)


