TEMUAN Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tentang kinerja keuangan Pemko Medan tahun 2025, menarik untuk menjadi renungan tentang sejauhmana aspek kepemimpinan yang dimiliki Rico Wa’as sebagai Walikota Medan saat ini.
Misalnya tentang realisasi pendapatan asli daerah (PAD), terdapat kekurangan pendapatan sebesar Rp 640,857 miliar yang tidak tercapai hingga akhir tahun anggaran. Juga tingginya sisa lebih perhitungan anggaran (SILPA) tahun anggaran 2025 yang mencapai Rp 592,217 miliar.
Suka atau tidak, dari hal yang mungkin dianggap sepele ini kita bisa tau tentang lemahnya aspek kepemimpinan Rico Wa’as sebagai Walikota Medan. Pada giliran berikutnya, aspek kepemimpinan yang lemah itu membuat Rico Wa’as terlihat sebagai Walikota Medan tanpa nyali dan tanpa kapasitas.
Tapi, tenang sajalah. Sampai saat ini, tak ada satupun aturan yang mensyaratkan, bahwa seorang calon walikota dan/atau walikota terpilih harus mempunyai kapasitas dan punya nyali. Menurut UU No. 10 tahun 2016 tentang Pilkada misalnya, hanya menyebutkan, diantaranya, tentang usia dan pendidikan paling rendah dari seorang calon walikota.
Pun saat seseorang telah sah dilantik menjadi walikota, tak ada jaminan bahwa sebuah kota memang membutuhkan seorang walikota yang punya kapasitas dan punya nyali. Bisa jadi, Kota Medan memang tak membutuhkan seorang walikota yang punya nyali dan punya kapasitas.
Maka, saat aku -- atau beberapa warga Kota Medan lainnya -- menyebutkan bahwa Rico Wa’as adalah Walikota Medan tanpa nyali dan tanpa kapasitas, dimohon tenang-tenang sajalah. Tokh, nyali dan kapasitas itu memang bukan persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang Rico Wa’as sebagai Walikota Medan.
Bahwa nyali dan kapasitas hanya dimiliki oleh seseorang yang memang punya talenta kepemimpinan yang kuat. Seorang walikota yang pada dasarnya tak punya nyali dan tak punya kapasitas sekalipun, namun jika memiliki talenta kepemimpinan yang kuat, maka dia akan menjadi pemimpin yang mampu menjawab berbagai permasalahan rakyat di wilayahnya. Sebaliknya, seorang walikota dengan talenta kepemimpinan yang lemah, dia hanya akan jadi bahan lelucon jajarannya dan warganya.
Dengan nyali dan kapasitas kepemimpinan yang dimilikinya, seorang Walikota Medan sangat sadar bahwa dia tidak saja harus trampil berpidato di setiap acara seremoni, tetapi juga trampil membaca gerak naik-turunnya harga sembako dan harga ayam potong di pasar-pasar yang ada. Sehingga, DPRD Medan tak mesti berteriak mengingatkan tentang harga ayam potong yang tak terkendali.
Walikota Medan pun tak cuma trampil mempromosikan aplikasi Qresto. Tetapi lebih dari itu, mampu meminimalisir kebocoran PAD (pendapatan asli daerah) dan menjaga asset pemerintah, sebagaimana diisyaratkan oleh BKP (Badan Pemeriksa Keuangan).
***
Sekali lagi, aku ingin mengingatkan hal berikut ini :
Adalah fakta, bahwa sesungguhnya Rico Wa’as adalah ‘calon pengganti’ yang dikehendaki oleh Walikota Medan saat itu, Bobby Nasution, setelah Bobby Nasution kurang berkenan dengan ‘calon utama’-nya. Maka, sulit disangkal, kemenangan Rico Wa’as pada Pilkada Medan 2024, sesungguhnya adalah hasil kerja keras Bobby Nasution.
Juga adalah fakta, bahwa Rico Wa’as/Zaky Harahap menang menjadi Walikota/Wakil Walikota Medan priode 2025-2030 dengan tingkat legitimasi yang kecil. Pasangan Rico/Zaky meraih suara hanya sebanyak 297.498 suara, atau cuma 16,54 persen jika dibandingkan dengan jumlah DPT Medan 2024 sebesar 1.799.421 pemilih. Bahkan jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Medan 2024 sebanyak 2.539.829 jiwa, maka jumlah penduduk Kota Medan yang memilih Rico Wa’as/Zaky Harahap cumalah 11,71 persen.
Perolehan suara Rico Wa’as/Zaky Harahap pada Pilkada Medan 2024 tersebut, sekaligus menjadikan Rico/Zaky sebagai pasangan Walikota/Wakil Walikota Medan dengan perolehan suara terendah dibandingkan dengan lima pasangan Walikota/Wakil Walikota Medan sebelumnya. Yakni, Bobby Nasution/Aulia Rahman, Dzulmi Eldin/Akhyar Nasution, Rahudman Harahap/Dzulmi Eldin, Abdillah/Ramli Lubis dan Abdillah/Maulana Pohan.
Dan sekali lagi, aku pun mengulang ingatan, bahwa dengan tingkat legitimasi yang kecil seperti itu, akan sulit bagi Rico Wa’as untuk menjadi Walikota Medan yang berhasil, jika dia tidak mampu menggalang dukungan sebanyak mungkin dari warga Kota Medan. Dan kemampuan meraih dukungan yang luas itu, hanya bisa diperoleh jika talenta kepemimpinan Rico Wa’as memang kuat.
Hingga 18 bulan menjabat sebagai Walikota Medan, kepemimpinan Rico Wa’as masih lebih didominasi dengan kegiatan-kegiatan seremomial daripada hasil kerja yang nyata dirasakan manfaatnya oleh warga Medan. Rico Wa’as juga terlalu lemah di dalam mengawasi kinerja jajarannya. Dan yang paling penting, sesungguhnya, hingga Rico Wa’as masih belum mampu merangkul warganya secara maksimal untuk mendukung kepemimpinannya.
Pada akhirnya, kita pun bingung membedakan : Rico Wa’as itu Walikota Medan atau cuma Kepala Lingkungan.
Mangkanya…
-----------------------------
*Choking Susilo Sakeh adalah Jurnalis; warga Medan.


