Sidak Kaleng-kaleng model Walkot Rico Wa’as

Sebarkan:

Catatan : Choking Susilo Sakeh

KONON, cara paling gampang untuk menutupi ketidakmampuan seorang kepala daerah di dalam menghasilkan bukti kerja jempolan, adalah dengan banyak melakukan kegiatan cakap-cakap dengan posisi “kamera on”. Salah satu contoh barangnya, adalah Walikota Medan Rico Wa’as. Hingga mendekati dua tahun masa kerjanya, tak ada hasil kerjanya yang bisa dibanggakan. Kecuali, mungkin, jumlah cakap-cakapnya dalam berbagai kesempatan : menerima audiensi, menghadiri acara seremoni, inspeksi mendadak (sidak) dan seterusnya.

Cakap-cakap Rico Wa’as tersebut, secara umum isinya berupa wejangan, harapan, perintah, marah-marah dan ancaman dari sosok yang merasa lebih tinggi posisi dan kedudukannya, kepada sekelompok komunitas yang diangggap menemui/bertemu Walikota Medan Rico Wa’as untuk mendapat wejangan, harapan, perintah, marah-marah dan ancaman tersebut.

Hasil rekaman kamera dari kegiatan cakap-cakap tersebut, kemudian diunggah (di-posting) di berbagai bentuk (flatform) media sosial semisal facebook, instagram, twitter, thread, tiktok dan lain sebagainya. Tujuannya jelas, adalah agar bagaimana kegiatan cakap-cakap Walikota Medan Rico Wa’as yang sudah dalam bentuk rekaman video ini, bisa dilihat oleh semakin banyak publik melalui media sosial, untuk mendapatkan engagement (like, coment & share). Kegiatan Walikota Rico Wa’as semacam ini, pun pada  akhirnya sama persis dengan kegiatan para “konten kreator”.

Akankah kemudian kegiatan Walikota Medan Rico Wa’as berubah bentuk menjadi seorang konten kreator tersebut berdampak positif bagi peningkatan kualitas hidup warga Kota Medan, semisal mengurangi angka kemiskinan, menurunkan angka pengangguran, meningkatkan pendapatan asli daerah, meningkatkan pelayanan aparat pemerintahan terhadap masyarakat dan seterusnya, sepertinya masih jauh dari harapan. 

Jangan-jangan, yang terjadi malah sebaliknya. Unggahan cakap-cakap Walikota Medan Rico Wa’as malah jadi bahan ejekan warga Kota Medan. Terutama karena kualitas aspek komunikasinya sangat kaleng-kaleng.

*

Kemarin sore, ada unggahan cakap-cakap Walikota Medan Rico Wa’as yang mencoba viral di berbagai flatform media sosial. Yakni, cakap-cakap marah dalam bentuk sidak Rico Wa’as ke Kantor Lurah Dwikora Kecamatan Medan Helvetia (“Walikota Medan Rico Wa’as Semprot Lurah Dwikora, Kantor Jorok Dipenuhi Debu dan Sarang Laba-laba”, Tribun-Medan, Selasa 29Sept.2026).

Dari unggahan rekaman video Walikota Medan Rico Wa’as marah-marah dan mengancam jajaran aparat Kelurahan Dwikora tersebut, kemudian memunculkan pertanyaan : bermanfaat positifkah unggahan sidak Rico Wa’as tersebut bagi kemashlahatan kehidupan warga Kota Medan? Atau malah sebaliknya : berdampak negatif terutama bagi kepemimpinan seorang Rico Wa’as sebagai Walikota Medan terlemah sepanjang sejarah Kota Medan.

Aku sudah beberapa kali menulis, tentang bagaimana Walikota Medan Rico Wa’as belum mampu mengendalikan seluruhan jajarannya, baik di level eselon dua hingga di jajaran terendah di kelurahan. Dan unggahan video Rico Wa’as sidak di Kelurahan Dwikora tersebut, sesungguhnya membuktikan kebenaran tentang belum mampunya Rico Wa’as mengendalikan seluruh jajarannya, terutama di tingkat Kelurahan.

Aku pun sudah beberapa kali menulis, tentang bagaimana tidak efektifnya unggahan rekaman video Rico Wa’as marah-marah dan mengancam jajarannya, saat melakukan sidak ke beberapa kantor dinas atau kelurahan di Kota Medan. Sebab, kesan yang muncul kemudian dan bisa menjadi fakta, bahwa jurus sidak marah-marah dan mengancam yang dipertontonkan Rico Wa’as terhadap jajaran di bawahnya, ternyata tak berdampak sama sekali di dalam banyak hal untuk Kota Medan yang lebih baik. 

Bahkan, terkesan jajaran lainnya tak memperdulikan jurus marah Rico Wa’as tersebut. Bukti terbarunyanya, ya itu tadi, tak berdampak kepada jajaran di Kelurahan Dwikora tersebut. Padahal, entah sudah beberapa kali Rico Wa'as mempertunjukkan aksi marah-marah dan mengancam kepada jajaran di bawahnya. 

Dilihat dari berbagai aspek, bahwa sesungguhnya posisi “kamera on” saat seorang Walikota marah-marah dan mengancam bawahannya, adalah perbuatan kaleng-kaleng : tak etis dan kurang mendidik. Meski Tindakan tersebut sebagai upaya pengawasan seorang Walikota kepada bawahannya. Namun, tetap saja, itu adalah model pengawasan kaleng-kaleng. Apalagi jika kemudian terbukti, pengawasan kaleng-kaleng ini sudah beberapa kali dilakukan Rico Wa’as, namun tak berdampak positif sama sekali.

Pengawasan kaleng-kaleng model Rico Wa’as ini, malah berdampak negatif dari beberapa aspek. Misalnya, bisa merusak sistim pembinaan internal yang berubah menjadi ajang “mempermalukan bawahan di depan publik (public shaming), yang pada akhirnya malah bisa menurunkan motivasi kerja dan merusak mental pegawai.

Selain itu, tak tertutup kemungkinan juga bisa melanggar regulasi pembinaan aparatur sipil negara yang sudah ada dan baku. Penegakan disiplin idealnya dilakukan melalui prosedur resmi, bukan dipublikasikan secara liar di media sosial tanpa klarifikasi seimbang dari aparat yang dipermalukan. 

Dan yang paling konyol, tentunya unggahan kaleng-kaleng sidak model Rico Wa’as tersebut, pada akhirnya terindikasi sebagai pencitraan politik belaka. Fokus sidak berubah, dari upaya mencari penyelesaian masalah substantif berubah menjadi sekedar mencari momen dramatis untuk mendapatkan sebanyak mungkin “like, coment & share”.

Celakanya, warga Kota Medan adalah pengguna media sosial yang cerdas dan berpendidikan. Kesimpulan akhirnya : unggahan marah-marah dan ancaman Rico Wa’as saat sidak ke Kelurahan Dwikora adalah unggahan kaleng-kaleng dari seorang Walikota Medan yang berperan sebagai konten kreator kaleng-kaleng.

Sayangnya, semua aksi kaleng-kaleng Rico Wa’as itu dibiayai oleh uang rakyat melalui APBD Kota Medan. Namun, nir-manfaat untuk kemashlahatan warga Kota Medan.

Mangkanya…

-------------------------

*Choking Susilo Sakeh adalah Jurnalis Utama, warga Kota Medan.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com