![]() |
| Alat berat beko yang parkir di Jl Dolok Martimbang, Sibolga Julu, Kelurahan Tapian Nauli, Kecamatan Sibolga Utara, Kota Sibolga. (foto:mm/jhonny simatupang) |
Korban, Melkisedek Kristian Salom Hutauruk, 16, mengalami kecelakaan pada Rabu pagi, (2/9/2026), sekitar pukul 07.00 WIB. Ia kemudian meninggal dunia setelah dibawa ke Rumah Sakit Metta Medika Sibolga.
Beko tersebut, menurut keterangan sejumlah warga sekitar, telah terparkir di lokasi itu sekitar tiga bulan. Alat berat tersebut mengambil sebagian badan jalan hingga sekitar satu meter.
Posisinya berada di kawasan tikungan yang setiap hari dilalui kendaraan warga. Di sekitar beko juga terlihat serpihan bagian sepeda motor yang berserakan setelah kecelakaan.
Warga mengatakan keberadaan beko yang memakan badan jalan itu sebenarnya sudah berulang kali mereka keluhkan. Namun, mereka mengaku tidak tahu kepada siapa harus menyampaikan laporan.
"Kami sudah berulang kali mengeluhkan kondisi beko itu. Tapi kami tidak tahu harus melapor kepada siapa," kata seorang warga bermarga Sinaga.
Warga tersebut mengatakan mereka hanyalah masyarakat biasa yang tidak memiliki kewenangan untuk menertibkan alat berat yang menggunakan badan jalan.
"Kami ini hanya orang biasa. Mau mengadu ke siapa juga kami tidak tahu," ujarnya.
Warga bermarga Sitompul mengatakan keberadaan beko di tikungan tersebut membuat mereka khawatir, terutama bagi pengendara yang melintas.
Menurut dia, kekhawatiran itu semakin besar karena badan jalan menjadi lebih sempit akibat posisi alat berat yang menjorok sekitar satu meter ke ruas jalan.
"Apalagi parkirnya di tikungan. Kami sebenarnya sudah lama mewanti-wanti bakal ada korban jiwa di lokasi itu," katanya.
Di rumah duka di Desa Mela 1, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), ibu korban, Kristina Marpaung, 45 tahun, mengaku belum mengetahui secara pasti bagaimana kecelakaan yang merenggut nyawa anak sulungnya terjadi.
Kristina sedang berjualan di Pajak Mela ketika seorang guru dan teman anaknya datang menyampaikan kabar bahwa Melkisedek mengalami kecelakaan dan berada di rumah sakit.
Kristina bersama suaminya Ramces Hutauruk,46, langsung bergegas menuju RS Metta Medika Sibolga.
"Kami histeris di situ, seolah tidak percaya dengan apa yang kami lihat," ujar Kristina.
Dokter kemudian menyatakan Melkisedek telah meninggal dunia. Kristina masih berharap anaknya dapat diselamatkan. Ia meminta dokter menunda membawa jenazah anaknya ke instalasi jenazah.
"Saya minta waktu setengah jam, mana tahu anak saya masih hidup," katanya.
Namun harapan itu pupus. "Tapi anak saya sudah tidak bernyawa lagi," ujar Kristina.
Kristina mengatakan informasi yang ia dengar di rumah sakit menyebut anaknya mengalami kecelakaan setelah menabrak beko yang terparkir di Jalan Dolok Martimbang.
Saat itu, Melkisedek disebut mengendarai sepeda motor milik temannya berinisial BM.
Dari Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Sibolga diperoleh informasi bahwa polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) setelah kecelakaan tersebut. Polisi juga telah meminta keterangan dari orang tua korban di RS Metta Medika Sibolga.
Penyebab pasti kecelakaan masih dalam penanganan kepolisian. Termasuk posisi kendaraan korban saat kejadian dan kondisi alat berat yang berada di badan jalan.
Namun, kecelakaan ini menyoroti persoalan keselamatan di Jalan Dolok Martimbang. Sebuah alat berat telah sekitar tiga bulan berada di lokasi dan mengambil badan jalan sekitar satu meter.
Warga mengaku telah berulang kali mengeluhkan kondisi tersebut, tetapi merasa tidak memiliki kewenangan dan tidak mengetahui kepada siapa keluhan itu harus disampaikan.
Kini, keluhan yang selama ini hanya menjadi keresahan warga berubah menjadi persoalan serius setelah seorang pelajar berusia 16 tahun meninggal dunia di lokasi tersebut. (jhonny simatupang)


