ATMADI, JALAN SUNYI DAN WALKOT BOBBY

Sebarkan:

Kolom: Choking Susilo Sakeh

SEDIKIT atau banyak, sesungguhnya As. Atmadi ikut memberi pengaruh kepada dunia jurnalistik dan kesenian di Sumatera Utara. Di dunia jurnalistik misalnya, aktivitas Atmadi sejak masa remaja hingga tutup usia, baik sebagai pengajar jurnalistik dan publik relation di beberapa kampus dan lembaga pendidikan

-- suka atau tidak -- telah memberi pengaruh kepada banyak orang.

Atmadi memulai karir jurnalistiknya di Harian ‘Waspada’ Medan, dari level terendah hingga jabatan redaktur dan terakhir sebagai Asisten Managing Editor. Diapun pernah menjadi Pimpinan Redaksi di Harian ‘Portibi’ Medan, Harian ‘Orbit’ Medan, Harian ‘Central’ Medan dan terakhir mendirikan media online “intipnews.com”. Saat menetap di Jakarta, Atmadi sempat menjadi Redaktur Majalah ‘B-Watch’, serta menerbitkan suratkabar ‘Monitor Nusantara’.

Ketika di Harian Waspada, Atmadi adalah jurnalis yang beruntung karena mendapat sentuhan dan didikan langsung dari alm. Bapak HM. Said dan almh. Ibu Ani Idrus, dua pasangan pendiri Harian Waspada dan kelak dikenal sebagai tokoh pers terkemuka Indonesia.

Dapat dipastikan, peran Pak Said dan Ibu Ani Idrus sangat besar membentuk karakter jurnalistik Atmadi. Atmadi kemudian dikenal sebagai sosok jurnalis profesional dengan idealisme pers yang tegak lurus dan hitam putih.

Buat Atmadi, jurnalis adalah figur mulia, karena mengabarkan kebenaran semata demi kemashlahatan kemanusiaan. Karenanya, jurnalis adalah sosok kreatif, pintar dan terhormat. Bagi Atmadi, menerima bayaran untuk sebuah berita dan menerima relis apa adanya, adalah sebuah tindakan jurnalis yang tercela.

Idealisme yang dianut Atmadi sebagai jurnalis ini, kemudian juga menjadi menjadi idealismenya di dunia kesenian yang juga digelutinya. Di dunia kesenian, Atmadi selain menulis puisi, cerpen, novel/cerbung, naskah drama, dia juga seorang pekerja teater. Atmadi beberapa kali menyutradari naskah drama, dipentaskan oleh grup Teater ‘Propesi’ Medan yang dibentuknya tahun 1978 bersama Chairil Siregar,

Choking Susilo Sakeh, Sugeng Satyadharma, alm Mas Hendro Pakpahan, Mami, dan beberapa lainnya.

Beberapa pertunjukan yang disutradarainya antara lain “Lysistrata”, “Julius Caesar”, serta beberapa naskahnya sendiri diantaranya ”Ah, Ah”, “Mpok Orong- Orong”, “Dhuerr”, “Topo”, dan lainnya. Salah satu cerbung/novelnya berjudul “Debur Ombak Selat Malaka”, dan buku kumpulan puisinya, “Mood”.

Idealisme tegak lurus Atmadi di dunia jurnalistik dan kesenian, pada akhirnya menghantarkannya pada ‘jalan sunyi’. Di saat gencarnya budaya ‘hedonisme’ dan prilaku pragmatism-transaksional melanda banyak jurnalis dan seniman, membuat Atmadi seakan berjalan sendiri, dan sunyi. Atmadi seperti sulit mencari sahabat yang mempunyai idealisme yang sama.

Jalan sunyi yang dipilih Atmadi itulah yang ‘seakan-akan’ menemaninya, hingga wafatnya pada Rabu, 4 Agustus 2021, di RS Adam Malik Medan. Jurnalis dan Seniman kelahiran Medan, 12 Januari 1951 itu, seakan pergi bersama ‘jalan sunyi’ yang menjadi pilihannya.

Sahabat & Guru

Aku mengenal Atmadi, lengkapnya : Asli Atmadi bin Soekarno Ponco Winoto, sekitar tahun 1976. Saat itu dia menjadi Redaktur Budaya dan Rubrik Kampus Harian Waspada. Salah satu rubrik viral yang dikelolanya, adalah ‘Puisi Abrakadabra’, sebuah rubrik menampung puisi-puisi ala ‘Puisi ‘mBeling’-nya Remy Silado di Majalah Aktuil Jakarta.

Secara umum, karakter puisi Abrakadabra adalah puisi pemberontakan anak- anak muda, baik terhadap gaya penulisan puisi saat itu maupun pada kondisi pemerintahan saat itu. Abrakadabra menjadi semacam ruang ‘pemberontakan’, terutama bagi anak-anak muda.

Jauh sebelum mengenal Armadi, aku sudah menulis terutama puisi dan cerpen. Karakter Abrakadabra yang sesuai dengan karakterku, pada akhirnya mendorongku banyak mengirim puisi-puisiku kepada Atmadi. Dan, itulah awal perkenalanku dengan sang redaktur ini.

Atmadi bahkan kemudian membuka peluang cukup besar kepadaku. Aku didorongnya untuk tidak saja menulis puisi dan cerpen, tetapi juga artikel tentang 

kesenian, kampus, generasi muda. Juga resensi buku atau pertunjukan kesenian, bahkan juga kemudian menulis berita-berita berkaitan kampus, generasi muda dan kesenian. Jujur kuakui, Atmadi tak lagi sekedar sahabat, tetapi juga telah menjadi ‘guruku’ di bidang penulisan. Dari situlah kemudian muncul niatku untuk menjadi jurnalis.

Bersama beberapa teman lainnya, kami kemudian membentuk grup Teater ‘Propesi’. Beberapa kali mementaskan pertunjukan baik di Medan dan berbagai daerah di Sumatera Utara, Atmadi pun menyebarkan idealisme keseniannya di Binjai (Riswan Rika), Stabat (Mando Sembiring), Lubukpakam (Kapiten Sembiring), Tebingtinggi (Ristata Siratd dan Tandi Skober) serta beberapa daerah lainnya.

Persahabatanku dengan Atmadi berlangsung putus-sambung. Perdebatan kami selalu tentang idealisme jurnalistik dan kesenian, juga tentang sikap hidup yang kami jalani.

Saat aku berkesempatan memimpin sebuah media kelompok Jawa Pos di Medan, Atmadi beberapa kali bertandang ke kantorku. Setelah itu, dia hijrah ke Jakarta selama beberapa tahun. Ketika kembali ke Medan, aku beberapa kali bertemu dengan Atmadi. Pertemuan kami terakhir, saat seorang sahabat kami dari Jakarta, mantan Dirut LKBN Antara, mengundang kami makan durian di sebuah counter durian di Medan.

Ketika datang pandemi covid-19, kami tak pernah bertemu dan tak pernah berkomunikasi. Hingga kemudian aku mendapat khabar, Atmadi telah berpulang, bersama jalan sunyinya…

Apresiasi Bobby

“Atas nama Pemko Medan, kami merasa kehilangan sosok beliau yang sama- sama kita kenal sebagai seniman dan wartawan senior di Kota Medan. Semoga acara yang kita lakukan hari ini, menjadi kebaikan bagi beliau, keluarganya dan kita yang ditinggalkannya,” kata Walikota Medan, M. Bobby A. Nasution, saat acara “40 Hari Wafatnya As. Atmadi”, Sabtu (18/9) di Ruang Tari Gedung Kesenian Medan.

Apresiasi dan do’a terbaik disampaikan oleh Walikota Medan Bobby Nasution atas seluruh karya dan dedikasi almarhum As. Atmadi di dalam dunia jurnalistik dan kesenian di Medan. 

“Semoga ilmu dan semangat yang digelorakan almarhum As. Atmadi semasa hidupnya, menjadi amal jariah dan dapat terus kita lanjutkan,” tambah Bobby lagi.

Acara ini diselenggarakan oleh FOSAD (Forum Sastrawan Deliserdang) dan para pendiri Teater Profesi Medan. Meski dihadiri segelintir jurnalis dan seniman yang pernah bersentuhan dengan Atmadi, namun kehadiran Walikota Medan Bobby Nasution jelas menjadi kehormatan bagi Keluarga, sahabat, para anak didik serta jurnalis dan seniman Kota Medan secara keseluruhan.

Apalagi terlihat hadir pula Buya Amiruddin Ms, Rektor UMN Dr Hardi Mulyono Surbakti, wartawan senior Sulben Siagian, Ketua DKM Anto Geng, Ketua DKSU Bahar Saputra, serta seniman Wirja Taufan, Porman Wilson Manalu, Hafiz Ta’adi, Teja Purnama, serta banyak seniman terkemuka Kota Medan lainnya. “Almarhum Atmadi memang layak mendapat apresiasi,” ujar seniman dan jurnalis Sugeng Satyadharma, penggagas acara.

Atmadi, jalan sunyi yang kau pilih, ternyata tak membuatmu menjadi terasing, dan sendiri seorang diri… (*)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini