Piala Gubsu 2022 : Aura Membangun Ekosistem

Sebarkan:
WOW, jadi juga aku menonton pertandingan sepakbola di Stadion Teladan Medan, sepanjang 22-29 Juli 2022. Sumpah, ini adalah sebuah aktivitas yang sudah lama tidak aku lakukan di stadion sepakbola yang semakin renta ini. 

Itu adalah jadwal berlangsungnya Turnamen Sepakbola Piala Gubsu Edy Rahmayadi Tahun 2022. Tiga tim Liga-2 asal Sumatera Utara, yakni PSMS Medan, PSDS Deliserdang dan Karo United, ditambah tim PSAD (TNI AD), meramaikan turnamen ini. Hasil akhir turnamen, pada Jum’at malam pekan lalu : PSMS menjuarai turnamen ini, disusul Karo United, PSDS dan PSAD.

Aneka ragam komentar, tanggapan, usilan, bully-an, cemo’oh, caci-maki dan pujian, pun berserak di media sosial seusai turnamen ini. Aku merasa sangat beruntung, karena bisa menonton semua pertandingan itu, sekaligus bisa menyimak banyak ragam nyinyiran di media sosial tersebut. Padahal, alasan aku semula ikut nonton di Teladan ini, lebih dikarenakan sekedar menyenangkan hati beberapa teman yang sok yakin mengajakku.

Apapun itu, aku terlanjur menonton dan menyimak beragam komen di medsos. Dan itu telah merangsangku untuk menulis prihal turnamen ini. Tapi aku tak kan menulis tentang “konflik” pengelolaan PSMS, sebab aku tak memiliki saham satu persenpun, sehingga tak layak ikut-ikutan ngoceh. Aku tak akan menulis tentang surat Asprov PSSI Sumut yang tak memberi rekomendasi turnamen ini, apapun alasannya. Sebab, aku bukan sesiapa, dan karenanya aku tak boleh ikut- ikutan ngoceh.

Aku tak akan menulis tentang tudingan aroma politik pada turnamen ini. Gubsu Edy Rahmayadi memang sudah menegaskan, bahwa turnamen ini tak ada urusannya dengan politik. Namun karena saat ini mendekati tahun politik, wajar kalau ada komen yang menyebutkan ini adalah turnamen politik. Menurutku, hal ini jauh lebih menarik dalam bentuk gunjingan, dibandingkan jika kutuliskan.

Akupun tak akan menulis tentang kualitas ketiga tim Liga-2 yang menjadi peserta turnamen Piala Gubsu 2022 ini. Sebab, aku tahu diri, bahwa aku tak punya kompetensi untuk bicara soal teknis ini. Meski sebagai penonton, adakalanya aku merasa lebih pintar dari pemain dan pelatih.
Semua hal tersebut di atas, memang tak akan kutulis. Sebab, menurutku, ada hal yang lebih menarik. Yakni, adanya upaya Bersama di dalam membangun ekosistem sepakbola yang sehat di daerah ini. 

Aura Positif Membangun Ekosistem

Mau percaya atau tidak, bahwa turnamen ini mestinya menjadi peluang bagi ketiga klub Liga-2 asal Sumatera Utara untuk berbenah lebih sempurna. Baik di dalam hal manajemen, kualitas teknik dan pembenahan aspek pendukung lainnya.Dari turnamen ini, ketiga klub tersebut bisa mengetahui, faktor mana yang mesti dibenahi untuk bisa tampil lebih baik pada kompetisi Liga-2 nanti.

Selebihnya, turnamen ini juga bisa menjadi bagian dari upaya bersama di dalam membangun ekosistem sepakbola yang sehat di Sumatera Utara. Terkhusus, tentunya adalah ekosistem bagi ketiga klub sepakbola Liga-2 asal Sumut tersebut.

Bahwa benar, sepakbola adalah olahraga massal. Namun di era sepakbola sebagai industri saat ini, klub tidak akan bisa berjalan sendiri. Klub harus berupaya membangun sinergi antara manajemen klub, tim pemain, fans klub, dan -- dalam budaya Indonesia -- juga dibutuhkan dukungan pemimpin daerah. Harus terbangun dan dibangun ekosistem sepakbola yang sehat bagi klub sepakbola, dan itu juga berarti membangun ekosistem sepakbola di daerahnya.

Aura positif dari sinergi semacam ini, itulah yang kubaca dari menyaksikan turnamen Piala Gubsu Edy Rahmayadi Tahun 2022 ini. Memang, aura itu masih belum utuh terlihat. Tapi itu adalah sebuah awal positif bagi terbangunnya ekosistem sepakbola yang sehat untuk Sumatera Utara, terutama untuk menghantarkan tiga klubnya ke Kompetisi Liga-2 Indonesia. 

Terutama pada klub PSMS dan Karo United. Hubungan antar klub, pemain dan fans fanatiknya sudah terlihat terbina dengan relatif baik. Pengelolaan komunikasi dengan komunitas fans yang dilakukan oleh kedua manajemen klub tersebut pada turnamen ini, kuamati dilakukan berdasarkan atas aspek kebutuhan klub terhadap peran penting fans di dalam setiap pertandingan. Sayang, hal semacam ini belum terlihat di klub PSDS.

Dan, tentunya -- sesuai dengan budaya bangsa -- keterlibatan langsung pemimpin daerah pastilah berdampak besar di dalam membangun ekosistem sepakbola yang sehat. Dalam hal ini, PSMS lebih beruntung, karena adanya keterlibatan langsung Gubsu Edy Rahmayadi, juga beberapa tokoh masyarakat dan pemuda Kota Medan. Demikian pula halnya dengan Karo United, terlihat ada keterlibatan langsung pemimpin daerahnya, serta keterlibatan beberapa tokoh-tokoh masyarakat Karo.

Kesadaran manajemen klub PSMS dan Karo United di dalam membangun ekosistem pada turnamen ini, itu juga salah satu hal yang menarik perhatianku dari penyelenggaraan turnamen Piala Gubsu Edy Rahmayadi tahun 2022 ini. Dan kesadaran itu, adalah modal awal yang besar untuk kedua klub tersebut melangkah ke putaran Liga-2 mendatang.

Sedangkan manajemen klub PSDS, harus mau mulai meniru langkah-langkah yang dilakukan PSMS dan Karo United tersebut. Padda turnamen ini, PSDS terlihat terengah-engah berjalan sendiri. Sepertinya, Gubsu Edy Rahmayadi perlu juga turun tangan untuk membantu klub PSDS membangun ekosistemnya.

Pada akhirnya, sah-sah saja jika ada yang nyinyir bahwa turnamen ini tak berkelas. Buatku, upaya bersama membangun ekosistem sepakbola di Sumatera Utara yang sehat, khususnya membangun ekosistem bagi ketiga klub Liga-2 peserta turnamen ini, itu jauh lebih penting dibanding kelas-kelasan sebuah turnamen. 

Apapun, bersama membangun ekosistem sepakbola daerah, itu adalah bagian dari membangun ekosistem sepakbola Nasional, sebagaimana Inpres No. 3/2019 tentang Percepatan Pembangunan Sepakbola Nasional. 

Dan, terbangunnya ekosistem sebuah klub sepakbola, adalah hasil yang jauh lebih penting yang telah diperoleh dari penyelenggaraan turnamen Piala Gubsu Edy Rahmayadi tahun 2022 ini. Sebab, itulah yang selama ini tak dimiliki, terutama oleh klub-klub sepakbola di Sumatera Utara ini. Selebihnya, terserah kita masing-masing.

Mangkanya…
------------------------
Choking Susilo Sakeh, Jurnalis menetap di Medan.
Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini