Sisa Kepemimpinan Gubsu Edy : “Sudahlah…”

Sebarkan:

Catatan : Choking Susilo Sakeh

HARI ini -- 5 Januari 2023 -- tepatlah bersisa delapan bulan lagi masa kepemimpinan Edy Rahmayadi sebagai Gubernur Sumatera Utara. Sebagaimana diketahui, Edy dilantik sebagai Gubsu oleh Presiden Jokowi pada 5 September 2018 di Istana Negara Jakarta, dan tentunya mesti berakhir pada 5 September 2023 mendatang.

Lantas, apa sih capaian Edy untuk Sumut?

Yang paling gampang diingat masyarakat Sumut dari Edy Rahmayadi sebagai Gubsu selama empat tahun tiga bulan, adalah kegemarannya mengeluarkan pernyataan yang mengundang kegaduhan. Berbagai ucapan kontroversil Edy Rahmayadi tersebut, tentu saja bukanlah sebuah capaian dari kinerjanya.

Edy Rahmayadi juga dikenal sebagai pemimpin yang gemar copot-mencopot pembantunya. Uniknya, sampai di akhir tahun keempat kepemimpinannya, banyak jabatan eselon 2 dan 3 di Pemprov Sumut yang dijabat rangkap dengan status Plt (Pelaksana Tugas). Dan kebijakan model begini, pastilah juga bukan sebuah capaian positf dari kinerja Edy Rahmayadi sebagai Gubsu.

Secara umum, Edy Rahmayadi juga dianggap sebagai gubernur yang merasa “paling” dalam segala hal : paling tau, paling bisa, paling hebat, paling pintar, paling bersih, paling bermartabat, paling berguna, paling berfungsi dan seterusnya. Edy Rahmayadi pun, kmudian dikesankan sebagai pemimpin yang sulit menghargai orang lain, sulit bekerja sama dan mempercayai jajarannya dan seterusnya. Dan Pada akhirnya, Edy Rahmayadi akhirnya terkesan jalan sendiri -- sendirian -- mengurus provinsi yang dipimpinnya.

Hingga sisa delapan bulan masa kepemimpinannya, misalnya, kita tak pernah mendengar ada dukungan dari seluruh anggota DPR RI dan DPD RI asal Sumut, baik dukungan moral maupun dukungan di dalam mendapatkan bantuan dari Pusat. Hal sama pun terjadi di DPRD Sumut, tak pernah sekalipun DPRD Sumut kompak mendukung penuh program yang dilaksanakan Edy Rahmayadi. Dan hal yang sama, pun terjadi pada 33 Walikot/Bupati se Sumut. Kebanyakan para kepala daerah kab/kota di Sumut, membiarkan Edy Rahmayadi berjalan sendirian.

Aku sudah sering menulis, bahwa menjadi Gubsu bukanlah segala-galanya. Dengan keterbatasan pendapatan asli daerah, misalnya, mengharuskan seorang Gubsu harus mau dan mampu “mengemis” bantuan ke pusat, terutama untuk pelaksanaan program-program strategis. Upaya “tangan di bawah” yang dilakukan seorang Gubsu ke pemerintah pusat, akan semakin efektif jika mendapat dukungan penuh dari seluruh anggota DPR RI dan DPD RI asal Sumut. Namun, “upaya tangan di bawah” sangat sulit dilakukan, jika Gubsu merasa sosok yang “paling”.

Di tingkat lokal, Edy Rahmayadi pun semestinya mampu merangkul semua elemen masyarakat yang ada, juga semua fraksi di DPRD Sumut. Ini menjadi penting, sebab peraihan suara Edy Rahmayadi pada Pilgubsu 2018 hanyalah sekitar 3.291.137 suara. Artinya, Edy Rahmayadi Bersama wakilnya Musa Rajeckshah hanya didukung oleh sekitar 22,24 persen dari sekitar 14,8 juta penduduk Sumatera Utara saat ini. Dukungan di tingkat lokal menjadi penting, mengingat perolehan suara Edy Rahmayadi pada Pilgubsu 2018 tersebut.

Akupun jadi teringat ucapan populer Gubsu ke-15, Dato’ Seri Lilawangsa H. Syamsul Arifin : “Berfikir sendiri, bekerja sendiri, capek sendiri, dan akhirnya….”.

Sudahlah…

Ada banyak program yang dilontarkan Edy Rahmayadi dengan penuh semangat untuk Sumut, di awal-awal masa kepemimpinannya. Diantaranya Sport Center, Islamic Center, jalan tol Kota Medan. Termasuk juga penanganan banjir Kota Medan, juga proyek infrastruktur 2,7 T yang bikin heboh itu. Dan Aku tak ingin menjelaskan, sudah bagaimana progres dari semua program Edy tersebut di atas. Biarkanlah rakyat Sumut membacanya sendiri.

Boleh jadi, sudah banyak yang dikerjakan Edy Rahmayadi selama lebih empat tahun menjadi Gubsu. Namun, semua keberhasilannya itu menjadi kalah viral dibanding pernyataannya yang pasti menimbulkan kegaduhan. Pada akhirnya, Edy Rahmayadi viral bukan karena kinerjanya, melainkan karena pernyataan demi pernyataannya.

Satu contoh terbaru yang sudah dikerjakan Edy Rahmayadi adalah membeli Medan Club seharga Rp 475 M, untuk perluasan kantor Gubsu. Kebijakan ini

kemudian diprotes banyak kalangan, terutama menyangkut urgensinya di saat masih banyaknya sarana jalan yang kupak kapik di Sumatera Utara.

Apapun itu, selama empat tahun tiga bulan Edy Rahmayadi memimpin Sumut, sadar atau tidak, telah membentuk bagaimana sesungguhnya citra Edy Rahmayadi di benak masyarakat Sumut. Edy Rahmayadi yang ucapannya suka bikin gaduh, Edy yang merasa paling, Edy yang sulit menghargai dan bekerjasama dengan orang lain, dan seterusnya-dan seterusnya. Meski demikian, masih ada waktu bagi Edy Rahmayadi selama delapan bulan untuk memperbaiki citranya yang sudah terpatri di benak warga Sumut itu.

Andai Edy Rahmayadi masih punya syahwat untuk maju lagi sebagai Cagubsu pada Pilgubsu 2024, maka Edy Rahmayadi pun mesti bekerja keras memperbaiki citranya tersebut. Soal capaian positifnya selama menjadi Gubsu 2018-2023, tak penting-penting kali. Sebab, rakyat malas mengingat dan gampang lupa dengan prestasi seseorang.

Ayo, mari berbenah dengan sisa waktu yang ada. Dan pada akhirnya, sudahlah.

Mangkanya…

------------------------

*Choking Susilo Sakeh, Jurnalis, dan warga Sumut.

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini