Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika para aron mulai berkumpul di pinggir jalan kawasan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Aron merupakan sebutan untuk pekerja buruh yang digaji perhari untuk bekerja di ladang petani Karo. Sebagian datang dari desa sekitar, ada juga dari Nias, Jawa, hingga Tapanuli demi mencari penghidupan dari sektor pertanian hortikultura yang menjadi denyut ekonomi dataran tinggi Karo.
Mereka berangkat dari rumah sejak subuh, berkumpul di pinggir jalan kota Berastagi. Menunggu mobil bak terbuka untuk membawa mereka ke ladang-ladang sayur milik petani. Di atas kendaraan itu, tubuh saling berhimpitan bersama alat kerja dan karung hasil panen. Tak jarang terjadi kecelakaan lalu lintas karena jalan menuju ladang masih berlubang. Perjalanan panjang dan dinginnya cuaca di pegunungan menjadi rutinitas yang dijalani hampir setiap hari.
Tak jarang beberapa dari aron mengeluhkan kesulitan bernafas karena ISPA. Mereka harus dibantu pernafasan dengan menggunakan alat nebulizer yang tidak selalu tersedia di puskesmas desa terpencil.
Upah yang diterima aron berkisar seratus ribu rupiah per hari. Nominal itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, biaya sekolah anak, hingga biaya hidup di perantauan. Bagi mereka, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjaga harapan agar kehidupan keluarga tetap berjalan.
Namun, pekerjaan berat yang terus dilakukan tanpa perlindungan kesehatan dan keselamatan yang memadai perlahan meninggalkan dampak buruk pada tubuh. Gangguan pernapasan, kelelahan fisik, hingga keluhan kesehatan lainnya menjadi persoalan yang kerap dialami para aron di kawasan pertanian Karo.
Di balik melimpahnya hasil sayur yang memenuhi pasar-pasar di berbagai daerah, ada tenaga para pekerja informal yang setiap hari mempertaruhkan kesehatan demi keberlangsungan hidup. Mereka menjadi bagian penting dari rantai pangan, sekaligus wajah pekerja sektor informal yang masih membutuhkan perhatian terhadap kesehatan dan kesejahteraan kerja. (Kadri Boy Tarigan)











