![]() |
| Zia Ulhaq Nasution masuk bursa kandiat Ketua PWI Tabagsel 2026-2026. (foto/ist) |
Zia dinilai memiliki sejumlah modal kepemimpinan, mulai dari pengalaman berorganisasi, loyalitas, integritas hingga kemampuan membangun komunikasi dan jejaring yang dibutuhkan untuk mengelola organisasi profesi wartawan.
Penilaian tersebut muncul seiring dengan semakin dekatnya pelaksanaan konferensi PWI Tabagsel. Ketua terpilih nantinya tidak hanya dituntut mampu menjalankan roda organisasi, tetapi juga menjaga marwah PWI serta meningkatkan profesionalisme dan kompetensi wartawan di wilayah Tabagsel.
Salah satu aspek penting yang menjadi perhatian dalam kepemimpinan organisasi profesi wartawan adalah kompetensi jurnalistik. Calon ketua diharapkan memenuhi persyaratan organisasi, termasuk memiliki kartu anggota biasa dan kompetensi wartawan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kompetensi tersebut menjadi modal penting dalam mendorong penerapan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) serta meningkatkan kualitas karya jurnalistik anggota.
Zia Ulhaq Nasution dinilai memiliki pengalaman dalam aktivitas organisasi pers dan memahami dinamika serta kebutuhan wartawan di wilayah Tabagsel.
Selain kompetensi, integritas dan independensi dinilai menjadi faktor penting dalam menentukan arah organisasi ke depan.
Ketua PWI Tabagsel diharapkan mampu menjaga organisasi tetap independen dari intervensi politik praktis maupun kepentingan kelompok tertentu. Pada saat yang sama, ketua juga dituntut mampu memperjuangkan kepentingan anggota secara adil dan profesional.
Kemampuan membangun komunikasi dan jejaring juga menjadi kebutuhan strategis. Hubungan dengan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, Forkopimda, organisasi masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan perlu diperkuat tanpa mengorbankan independensi pers.
Selain persoalan kepemimpinan, pengurus PWI Tabagsel periode 2026-2029 akan menghadapi tantangan dalam menyusun program kerja yang konkret dan memberikan manfaat langsung kepada anggota.
Peningkatan kapasitas wartawan melalui pelatihan jurnalistik, pembinaan profesionalisme, serta fasilitasi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dapat menjadi salah satu agenda prioritas.
Di sisi perlindungan anggota, PWI juga diharapkan mampu memberikan advokasi dan pendampingan ketika wartawan menghadapi persoalan hukum atau sengketa pers dalam menjalankan tugas jurnalistik secara profesional sesuai ketentuan yang berlaku.
Pembenahan administrasi organisasi, pendataan anggota, serta proses rekrutmen yang transparan dan sesuai dengan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) PWI juga dinilai perlu mendapat perhatian.
Dengan berbagai tantangan tersebut, figur ketua yang memiliki pengalaman organisasi, kompetensi, integritas dan kemampuan membangun jejaring dinilai sangat dibutuhkan untuk membawa PWI Tabagsel menjadi organisasi profesi yang semakin solid, profesional dan berwibawa pada periode 2026-2029.(tan)


