Catatan : Choking Susilo Sakeh
TERNYATA, Piala AFF (Asean Football Federation) U-19 yang digelar di Stadion Utama Sumut dan Stadion Madya Atletik Kawasan Sport Center Kualanamu, tak cuma menyajikan pertandingan sepakbola antar negara se-Asean. Tapi ada suguhan lain yang tak kalah menarik dari sekedar main sepakbola. Yakni, ada upaya sistemik dan masif untuk men-downgrade citra Walikota Medan, Rico Wa’as. Lho, kok?
Mari kita rangkai ulang berbagai pernyataan Gubsu Bobby Nasution berkaitan dengan Piala AFF U-19 ini. Pertama, ‘ancaman’ Bobby Nasution untuk tidak menggunakan Stadion Teladan, jika renovasi Stadion Teladan tidak rampung hingga akhir Mei 2026. (“Progres Lambat, Bobby Ancam Cabut Opsi Stadion Teladan Tuan Rumah Piala AFF U-19”, detiksumut, Jumat 6 Maret 2026).
Lalu, di penghujung Mei 2026, Stadion Teladan dinyatakan batal digunakan untuk ajang Piala AFF U-19 karena sejumlah infrastruktur pendukung masih belum rampung. Seperti toilet, akses penonton ke tribun dan fasilitas pendukung lainnya yang terkait dengan masalah keamanan penonton. Sedangkan Plt Asprov PSSI Sumut Arya Sinulingga mengatakan, AFF memberi dua opsi untuk Stadion Teladan. Pertama, cuma sebagai tempat Latihan tim peserta Piala AFF U-19. Dan Kedua, sebagai tempat pertandingan Piala AFF U-19 namun tanpa penonton. (“Stadion Teladan Batal Digunakan untuk Piala AFF, Ini Kata Gubsu Bobby”, Tribun Medan, Minggu 31 Mei 2026).
Pada mulanya, ancaman Gubsu Bobby Nasution yang tidak akan menjadikan Stadion Teladan sebagai salah satu venue Piala AFF U-19 jika renovasi Stadion Teladan tidak rampung paling lambat di akhir Mei 2026, dianggap publik sebagai upaya untuk merangsang semangat dan tekad agar Wali Kota Medan Rico Wa’as semakin ngotot merampungkan renovasi Stadion Teladan. Itu juga akan berarti, bahwa sesungguhnya Rico Wa’as mampu memperlihatkan kinerja terbaiknya sebagai pengganti Bobby Nasution memimpin Kota Medan.
Namun yang terjadi, ‘ancaman’ Gubsu Bobby Nasution kepada Wali Kota Medan Rico Wa’as bagaikan tidak bertaji. Bahkan terkesan tak dianggap sama sekali oleh Wali Kota Medan Rico Wa’as. Sebab, renovasi Stadion Teladan ternyata tak bisa dirampungkan hingga akhir Mei 2026. Karenanya, Stadion Teladan pun gagal menjadi salah satu venue pertandingan sepakbola berskala internasional tersebut.
Maka, kerinduan anak Medan terhadap atmosfir sepakbola -- terutama yang bertaraf internasional -- dari Stadion Teladan, untuk sementara disimpan dulu menjadi mimpi. Kerinduan itu, kini dialihkan ke Sport Center Kualanamu, ke dua stadion yang dibangun di era Gubsu Edy Rahmayadi.
Dan kegagalan itu, pun semakin meneguhkan citra Rico Wa’as selama ini sebagai Wali Kota Medan yang dinilai tidak punya kapasitas sebagai pemimpin, dengan kemampuan manajerial yang lemah. Bahkan cenderung lebih asyik koyok-koyok daripada menghasilkan bukti kerja.
Hingga kemudian berlanjut dengan terjadinya aksi ‘berbalas pantun’, saat tim Timor Leste terusir dari tempat penginapannya di sebuah hotel bintang di Medan. Menurut Panitia, hal itu bisa terjadi karena biaya hotel belum dibayar oleh Pemko Medan. Tapi, menurut Sekda Medan, tidak ada komitmen Pemko Medan menanggulangi biaya hotel tersebut. Dan menurut Asprov PSSI Sumut, sebelumnya sudah ada komitmen Walikota Medan Rico Wa’as dengan Panitia Lokal prihal biaya hotel untuk tim peserta tersebut. (“PSSI Soal Biaya Akomodasi Peserta Piala AFF U-19 : Komitmen Walkot Medan”, detiksumut, Selasa 2 Juni 2026).
Begitulah adanya. Wali Kota Rico Wa’as bukan saja tak diberi panggung sama sekali di even Piala AFF U-19 ini. Padahal, Pemko Medan menyediakan beberapa fasilitas lapangan bolanya sebagai tempat Latihan tim peserta. Yakni Stadion Teladan, Lapangan Kebon Bunga dan Lapangan Cadika. Tapi, lebih dari itu, terlihat ada upaya sistemik dan masif untuk membuat citra Rico Wa’as semakin terpuruk.
*
Kita tak tau secara pasti, apa sesungguhnya yang terjadi diantara Gubernur Sumut Bobby Nasution dengan Wali Kota Medan Rico Wa’as. Jika kemudian momen Piala AFF U-19 kali ini dimanfaatkan untuk men-downgrade citra Rico Wa’as secara sistemik dan masif, tentunya ini adalah sesuatu yang mengejutkan sekaligus menggembirakan buat warga Sumut.
Mengejutkan, sebab Rico Wa’as sesungguhnya adalah sosok yang dikehendaki oleh Bobby Nasution untuk menggantikan posisinya sebagai Wali Kota Medan. Karenanya, kemenangan Rico Wa’as pada Pilkada Medan 2024, tak bisa dilepaskan dari besarnya peran Bobby Nasution. Maka, jika kini Bobby Nasution berseteru dengan Rico Wa’as, tentulah ini sebuah fakta yang mengejutkan.
Dan menggembirakan, terkhusus bagi warga Sumut yang menetap di Medan. Sebab konflik yang terjadi antara Bobby Nasution dengan Rico Wa’as, bisa membuat keduanya akan saling awas-mengawasi. Bahkan, tak tertutup kemungkinan akan saling buka-bukaan. Dan itu tentulah menggembirakan bagi rakyat, di saat para wakil rakyat semakin tak memperlihatkan perannya -- terutama di dalam mengawasi kinerja Gubernur Sumut dan Wali Kota Medan.
Mangkanya…
------------------------------
*Penulis adalah Jurnalis, warga Medan.


