Siapkan Ekonomi Warga Pascatambang, Martabe Bangun Sentra Kambing Unggul dan Ayam Petelur,

Sebarkan:
Senior Supervisor Agriculture Development Agincourt Resources, Minhajul Abidin, saat memperlihatkan peternakan Kambing Boerka di Jl Dua, Desa Aek Pahu, Kecamatan Batangtoru, Tapsel, Sabtu (6/6/2026). (foto:mm/jhonny simatupang)
BATANGTORU - Upaya menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat pascatambang terus dilakukan PT Agincourt Resources (PTAR) melalui program Martabe Social Enterprise. 

Salah satu langkah konkret yang kini mulai menunjukkan hasil adalah pengembangan Martabe Goat Farm dan Martabe Farm Chicken yang dikelola oleh putra-putri lokal Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara (Sumut).

Program yang berada di bawah pilar pengembangan ekonomi lokal di atas lahan seluas 6 Ha yang berada di Jl Dua, Desa Aek Pahu, Kecamatan Batangtoru, Tapsel ini disiapkan sejak 2025 lalu sebagai model usaha berkelanjutan berbasis potensi daerah. Tujuannya bukan hanya menghasilkan keuntungan bisnis, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan pembibitan ternak unggul bagi masyarakat sekitar.

"Harapan kami setelah masa tambang berakhir nanti, sudah tumbuh industri-industri non-tambang yang kuat dan mampu menjadi sumber penghidupan masyarakat. Salah satunya melalui sektor peternakan yang berbasis potensi lokal," ujar Senior Supervisor Agriculture Development Agincourt Resources, Minhajul Abidin, di lokasi peternakan kambing dan ayam di Jl Dua, Desa Aek Pahu, Kecamatan Batangtoru, Tapsel, Sabtu (6/6/2026) saat menerima kunjungan sejumlah wartawan Sibolga dan Tapanuli Tengah (Tapteng) ke lokasi peternakan.

Menurut Minhajul, pengembangan peternakan kambing dimulai melalui kerja sama dengan Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian yang memiliki mandat menghasilkan indukan kambing dan domba unggul di Indonesia.

Martabe Goat Farm mengembangkan kambing jenis Boerka, yaitu hasil persilangan kambing Boer dari (Afrika Selatan) dengan kambing Kacang (Indonesia) yang dikenal memiliki pertumbuhan lebih cepat, daya adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis, serta potensi produksi daging yang lebih tinggi dibandingkan kambing lokal pada umumnya. 

Kambing Boerka juga memiliki produktivitas daging sekitar dua hingga tiga kali lebih besar dibandingkan kambing lokal sehingga dinilai memiliki prospek yang menjanjikan untuk dikembangkan sebagai komoditas peternakan unggulan. 

Dalam pelaksanaannya, Martabe Goat Farm mengembangkan peternakan dengan bibit unggul yang berasal dari Loka Pengujian Standar Instrumen Ruminansia Kecil (LPSI RK) Sei Putih, Kabupaten Deli Serdang, yang terdiri atas 8 ekor kambing jantan dan 80 ekor kambing betina.

Tak hanya mendatangkan bibit unggul, PTAR juga merekrut dan memberdayakan tenaga kerja lokal untuk mengelola usaha tersebut. Para pengelola yang merupakan lulusan peternakan dari berbagai perguruan tinggi dikirim mengikuti pelatihan intensif selama satu bulan guna mempelajari teknik budidaya, kesehatan hewan, reproduksi, hingga pencatatan ternak modern.

"Semua pengelola merupakan putra-putri daerah. Ini bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat lokal agar memiliki keahlian dan pengalaman dalam mengelola usaha peternakan secara profesional," katanya.

Dukungan terhadap program Martabe Goat Farm juga datang dari Dinas Pertanian yang sejak awal terlibat dalam proses perencanaan, survei lokasi, hingga pendampingan teknis.

Menurut Minhajul, ke depan, Martabe Goat Farm ditargetkan menjadi sentra pembibitan kambing unggul di kawasan Tapanuli, khususnya di Batangtoru. Setelah populasi ternak berkembang sesuai target, bibit unggulnya akan mulai didistribusikan kepada masyarakat melalui skema pendampingan dan pengembangan usaha peternakan rakyat.

"Kami ingin masyarakat tidak perlu lagi mencari bibit unggul ke daerah lain. Kita berharap Batangtoru bisa menjadi pusat peternakan kambing unggul sekaligus melahirkan peternak-peternak modern yang mandiri," pungkas Minhajul.

Supervisor Martabe Goat Farm, Indra Pandiangan, menjelaskan pemilihan kambing Boer-Kacang dilakukan karena memiliki keunggulan genetik yang mampu menghasilkan bobot daging lebih besar sekaligus tingkat reproduksi yang baik.

"Kami ingin menghasilkan ternak dengan kualitas unggul yang nantinya bisa menjadi sumber bibit bagi masyarakat. Jadi bukan hanya menjual kambing, tetapi juga mentransfer pengetahuan beternak yang benar," ujarnya.

Selain pembibitan kambing, Martabe Social Enterprise juga mengembangkan peternakan ayam petelur modern. Menurut Senior Supervisor Agriculture Development Agincourt Resources, Minhajul Abidin, saat ini ribuan ekor ayam telah memasuki masa produksi dengan rata-rata menghasilkan sekitar seribu butir telur setiap hari.

Pihak PTAR saat memperlihatkan lokasi peternakan ayam di Jl Dua, Desa Aek Pahu, Kecamatan Batangtoru, Tapsel, Sabtu (6/6/2026). (foto:mm/jhonny simatupang)



"Telur yang dihasilkan tidak hanya dipasarkan secara komersial, tetapi juga disalurkan kepada kelompok mitra petani binaan sebagai bagian dari program penguatan ekonomi masyarakat," ujarnya.

Menurut Supervisor Martabe Chicken Farm, Habib Hairi (32), untuk menjaga produktivitas, pengelolaan ayam dilakukan secara intensif melalui pemberian pakan terukur, vaksinasi rutin, serta pemantauan kesehatan ternak secara berkala.

"Untuk pengadaan pakan, kita bekerja sama dengan petani jagung melalui skema contract farming dengan harga yang stabil, sehingga memberikan kepastian pasar dan mendukung peningkatan pendapatan petani," tutur Habib.

Dalam upaya menambah pasokan telur ke masyarakat sekaligus dalam upaya mendukung ketahanan pangan di Batangtoru, di tahun ini juga, PTAR akan mendatangkan 600 ekor bibit ayam petelur dan 2.000 ekor pada tahun mendatang. (jhonny simatupang)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com